Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-sibuk, sibuk menangkis, mengklarifikasi, mencari dalih, atas berbagai serangan politik yang dilayangkan kubu oposisi. Dari beberapa aspek, TKN Jokowi mampu mengimbangi, sebab serangan oposisi tidak menukik ke jantung pertahanan Jokowi.

Tapi Jokowi lupa, ada serangan tendangan tanpa bayangan, yang menghujam ke ulu hati dan jantung rezim, yang ditebarkan melalui jejaring sosial media. Serangan itu bak hantu, menakutkan tapi tak mampu di identifikasi. Hantu politik itu bernama : Nasrudin Joha.

Joha, mengajukan serangan sengit dan mematikan ke ulu hati dan jantung rezim melalui ujaran fakta rezim represif dan anti Islam. Joha, mampu mengunggah secara apik ungkapan-ungkapan yang merepresentasikan suasana kebatinan umat, mengayunkannya sebagai satu pukulan telak terhadap rezim, yang dirasakan umat menindas dan sangat menjengkelkan.

Bahasa politik Joha adalah bahasa batin umat, yang dikemas dalam ungkapan sastra perubahan, menembus batas-batas dan sekat pertahanan tim TKN Jokowi, membuat siapapun yang menyebut dirinya tim bravo, tim genderuwo atau tim sontoloyo, tak mampu menangkis sayatan sosmed Nasrudin Joha.

Sayap pertahanan rezim lemah pada isu Islam dan keumatan, kezaliman rezim pada fakta kriminalisasi ulama, kriminalisasi simbol dan ajaran Islam, tak mampu dibalut dan disembunyikan melalui kunjungan-kunjungan pesantren, juga tak mampu didempul dengan bedak solek survey surveyan. Kelemahan itu makin memuncak, ketika Jokowi justru ikut nimbrung mengkonter isu. Semakin dihadang, semakin menggunung dan pasti akan melibas seluruh benteng pertahanan rezim.

Rezim tak mampu menyewa -siapapun yang menghamba pada dunia- untuk melakukan perlawanan atau setidaknya mengkonter serangan politik Nasrudin Joha. Kecongkakan rezim, telah mempertebal kesalahan rezim manakala rezim enggan berfikir dan menggunakan alat kekuasaan untuk menekan perlawanan. Ingat ! Anda bisa memotong bunga tapi Anda tidak bisa menghalangi musim semi.

Joha telah menyiapkan waktu 1 x 25 jam, mengunggah serangan politik dengan membongkar makar rezim, pengkhianatan rezim, abainya rezim terhadap kemaslahatan umat, dan konsistennya rezim menzalimi umat. Kriminalisasi akan membuka topeng rezim, yang sesungguhnya tidak pernah memikirkan umat kecuali untuk kepentingan politik rezim.

Unggahan artikel akan konsisten memenuhi lini masa sosial media, melalui menu harian pagi siang sore, malam pun selama Gadget ada dalam genggaman, agitasi perlawanan terhadap rezim zalim pasti dimuntahkan. Jokowi tak punya waktu untuk atur strategi, karena saat dia sedang sibuk berfikir, Joha telah melakukan apa yang dikhawatirkannya.

Akhirnya dengan segala keterbatasannya, rezim akan mulai lelah dan melemah. Rezim sadar, sesungguhnya rezim tidak sedang melawan Nasrudin Joha, tetapi rezim sedang melawan umat. Tidak ada dalam pentas sejarah manapun, kekuasaan sezalim apapun, mampu bertahan melawan umat Islam. Karena itu wahai rezim, waspadalah ! Waspadalah ![MO/sr]

Posting Komentar