Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-"Saya tidak pernah didemo. Didemo, dong! Demo mendukung. Ada yang demo mendukung gitu, loh, tapi ini tidak ada. Saya dibiarkan jalan sendiri malah dibilang antek asing. Ini bagaimana dibolak-balik," Jokowi (7/12).

Filsafat pemerintahan itu berdiri tegak diatas asas 'pelayanan negara berbanding lurus dengan ketaatan rakyat'. Jika negara, abai melayani rakyat, buruk memperlakukan rakyat, bahkan bertindak zalim kepada rakyat, jangan harap rakyat akan taat. Yang ada justru sebaliknya, penentangan dan pembangkangan.

Untuk memperoleh dukungan rakyat, tidak perlu sibuk menyeru rakyat berdemo. Apalagi demi untuk memberikan dukungan. Dimana-mana, demo itu sarana untuk mengkritik. Seperti fungsi jembatan untuk menyeberang. Aneh, jika jembatan dibuat bukan untuk menyeberang. Kalau maunya didukung ya tidak perlu minta didemo. Cukup berlaku adil, sejahterakan rakyat, penuhi hajat rakyat, berikan keadilan hukum kepada rakyat, jangan pencitraan melulu.

Bagaimana rakyat tidak mengkritik, Lha wong kerjaannya pencitraan melulu. Isu freeport juga citra terus, kosong realisasi. Sampai kapanpun, Ga bisa selesaikan isu freeport, karena freeport itu simbol penjajahan. Jadi bukan sekedar kontrak karya, ini penjajahan.

Sudahlah, Ga perlu berbusa bermain citra kamuflase tentang freeport, rakyat jenuh. Berfikir sederhana saja sesuai kapasitas Anda, berfikir lah bagaimana BBM murah, tarif listrik murah, pekerjaan mudah, bisnis lancar jiwa, hukum adil, dakwah diberi ruang, kritik ditanggapi positif, mengelola anggaran sesuai peruntukan.

Lha ini ? Hanya di zaman Jokowi kenaikan BBM ugal-ugalan, listrik naik nyaris 300 %, pengangguran akut, bisnis payah, dakwah dipersekusi, ormas Islam dibubarkan, kritik berujung penjara, anggaran comot sana sini tidak karuan. Dana haji diembat untuk infrastruktur, BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan juga diembat untuk mimpi gelar 'Bapak Infrastruktur'.

Sekarang proyek dihentikan (baca: mangkrak) karena abis duit, sementara BPJS kesehatan nunggak utang ke RS dan industri farmasi triliunan rupiah. Ini mengelola negara model apaan ? Apa iya, rakyat yang sakit tidak boleh ke RS karena dana BPJS abis ? Disuruh memandangi tiang beton sepanjang Jakarta - Bekasi ? Yang beginian kok minta didukung ? Aneh lagi, dukungan dalam bentuk demo.

Jika keadaan seperti ini yang terus dipertontonkan, ya wajar rakyat demo. Bukan demo mendukung, tapi mengkritik kebijakan yang zalim. Coba mikir, berapa ulama dan aktivis ditangkapi di rezim Jokowi ? Kok jamaahnya disuruh demo mendukung ? Yang ada ngeluruk, tidak terima ulamanya dihinakan ! Giliran korupsi parah di barisan rezim, anteng-anteng bae. Yang menghina ulama dan ajaran Islam, menghina Nabi, dibiarkan.

Lantas, darimana rakyat akan taat ? Yang ada justru penentangan dan pembangkangan. Tenang Pak Jokowi, kami pasti akan demo. Karena, tanpa disuruh jika kami dizalimi pasti melawan. Dan saat ini, kebijakan Pak Jokowi jelas zalim, represif dan anti Islam. Jadi, siap-siap saja untuk terus didemo.

Dan satu lagi, hampir saja lupa. Anda memang antek asing, karena kebijakan Anda justru pro kepada asing dan menzalimi rakyat sendiri. Tentang hal ini, mungkin akan saya buat ulasan dalam tulisan terpisah. Sudah dulu ya Pak Jokowi. [MO/ge]

Posting Komentar