Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Entahlah, mana yang lebih menyakitkan, disebut banci atau kacung, yang jelas keduanya memiliki konotasi negatif, jika tidak dikaitkan dengan latar ujaran. Menariknya, ujaranJokowi kacung selamat dari jerat pidana, karena latar belakang iseng.

Sementara, ujaran Jokowi banci yang dilatarbelakangi kritik terhadap Jokowi yang kabur saat dirinya ditemui jutaan umat Islam yang meminta proses hukum terhadap sang penista agama, bahkan meninggalkan jutaan umat Islam ditembaki oleh aparat, berakhir pidana. Tidak tanggung-tanggung, pasal berlapis digunakan penyidik untuk menjeratnya.

Yang jelas, latar lain menyebutkan si pelantun ujaran kacung adalah bocah dari etnis China yg dikenal dekat penguasa. Adapun penganjur ungkapan banci, berasal dari etnis Arab yang dikenal sebagai ulama yang konsisten membela hak-hak umat. Potret hukum hari ini memang sangat menyedihkan. Benar pengakuan tim Dahnil, hukum suka suka penyidik. Nalar publik dikangkangi, seolah hanya penenggak hukum yang paham akan hukum.

Mungkin dikiranya tidak ada yang memantau, memperhatikan, atau mungkin sudah siap pasang muka tembok, menutup mata dan telinga. Ratusan ribu sarjana hukum, ribuan doktor, ratusan profesor yang ikut mengamati, dianggap sebelah mata. Hukum suka suka dan hukum rasa rasa, suka suka penguasa, rasa rasa semaunya. Tidak ada kesamaan kedudukan di muka hukum. Jadi, kekebalan hukum itu ada jika Anda menjilat penguasa.

Penghinaan nalar dan logika hukum terus berlanjut. Dari vonis pembakar bendera tauhid, lepasnya Ade Armando, Fictor laiskodat, cornelis, busukma, hingga abu janda. Sampai yang paling kontras adalah lepasnya ujaran kacung bocah China dan di tersangkakannya Habib Bahar sebab ujaran banci.

Ah ya sudah, Kalo penenggak hukum main kekuasaan, tak mau tunduk pada norma dan nilai hukum, ya kita lawan dengan kekuatan juga. Kita adu, sampai dimana batas kemampuan penenggak hukum melawan umat.

Jadi jika target kriminalisasi mau membuat kami umat Islam takut dan Menyusut ke Belakang, itu salah. Kami akan layani, sampai dimana kemampuan kekuasaan meladeni kekuatan umat. Kami tantang, akan sampai kapan kezaliman sanggup menumbangkan kesabaran.

Jangan dikira umat diam itu terima, jangan dikira umat diam itu ridlo, tunggu saja. Pembalasan akan lebih kejam dari perbuatan. Ingat ! Kekuasaan itu ada ditangan umat. Sekali saja umat memutus pilar legitimasi, habislah kekuasaan rezim.

Sudah tinggal menunggu ajal saja masih sombong, bukannya insyaf agar khusnul khatimah, ini malah semakin sombong tidak karuan. Tuntaskan saja, keluarkan semua kecongkakan, kami pastikan umat yang akan memenangkan urusan ini. [MO/ge]

Posting Komentar