Oleh : Ahmad Sastra

Mediaoposisi.com- Derita muslim Uighur adalah duka dunia. Tak perlu menjadi seorang muslim untuk mampu merasakan duka mendalam itu. Semestinya segala bentuk penjajahan diatas dunia ini dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Derita muslim Uighur tengah memanggil dunia. 

Indonesia semestinya juga ikut berduka. Berbagai negara di belahan dunia telah mengecam keras atas pelanggaran HAM berat yang dilakukan pemerintah Cina atas minoritas Uighur di Xinjiang. Kebengisan dan kebiadaban rezim cina dipertontonkan kepada dunia.

Muslim Uighur merana dalam penindasan tak terkira. Darah muslim mengalir deras, kehormatan muslimah terkoyak dan suara anak-anak mengerang tak berdaya. Air mata tak lagi bermakna, lemah menghiba tak lagi disapa, luka sayatan tak lagi dilihat, kucuran darah tak lagi dikasihani.

Lebih dari tiga juta muslim Uighur ditahan di kamp-kamp konsentrasi di Turkistan Timur [Xinjiang, Cina]. Mereka mengalami penyiksaan tak terperikan dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya. Al Qur’an dan buku-buku Islam dibakar. Ribuan masjid dihancurkan. Ratusan ribu tahanan anak-anak dikirim ke panti asuhan untuk menghapus identitas muslim mereka.

Berbagai bentuk penyiksaan secara tak manusiawi dilakukan kepada muslim Uighur. Sebagaimana pengakuan pihak kedutaan cina di Jakarta saat ditemui ormas HTI [sebelum dicabut BHP], muslim dianggap sebagai pelaku kriminal. Bahkan menurut laporan Republika [18/12] para tahanan muslim mengalami kerja paksa.

Sebagaimana laporan dari Media Amerika Serikat The New York Times [NYT] menurunkan laporan bahwa anggota etnis Uighur yang ditahan di kamp-kamp ‘reedukasi’ di Xinjiang harus menjalani kerja paksa tak dibayar. Berdasarkan dokumen pencitraan satelit, jumlah tahanan yang dikirim ke pabrik baru tak jauh dari kamp reedukasi terus bertambah.

Menurut badan statistik kependudukan di tahun 1936, pemerintah Kuomintang Republik Cina saat itu memperkirakan jumlah penduduk muslim sekitar 48 juta jiwa. Namun pasca kebijakan Mao, angka tersebut anjlok menjadi sekitar 10 juta jiwa. Kemana hilangnya 38 juta nyawa. Jika tidak terjadi genosida secara sistematik, mana mungkin hal ini dapat terjadi. 

Sementara Indonesia, negeri muslim terbesar di dunia tak berdaya dan diam seribu bahasa. Wapres Jusuf Kalla menyatakan bahwa Indonesia tidak bisa ikut campur urusan domestik cina. Indonesia menolak penindasan dan pelanggaran Ham terhadap muslim Uighur di provinsi Xinjiang, Cina. Kendati demikian, menurut Jufuf Kalla, Indonesia juga tak bisa mencampuri urusan dalam negeri Republik Rakyat Cina [Republika, 18/12].

Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin mengecam keras penindasan terhadap Muslim Uighur di Xinjiang. “Hak asasi manusia dan International Convenant on Social and Political Rights menyatakan adanya kebebasan beragama bagi segenap manusia. Maka, Muslim yang mayoritas muslim di provinsi Xinjiang memiliki kebebasan menjalankan agamanya”, ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Senin [17/12].

Karena itu, sebagai seorang muslim harus bersikap. Muslim di ujung dunia manapun adalah bersaudara. Ibarat satu tubuh, jika muslim di tempat lain terzolimi, maka seluruh muslim di dunia wajib menolongnya. Berbagai bentuk kezoliman rezim komunis cina terhadap muslim Uighur mestinya menjadi pemantik efektif bagi kesadaran akan persatuan umat Islam sedunia.

Allah mengingatkan kepada seluruh kaum muslimin di dunia, “ (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan” [QS Al Anfal : 72].

Muslim Uighur sungguh telah lama menjerit terzolimi, berteriak meminta pertolongan kaum muslimin untuk menyelamatkan mereka, menjaga eksistensi mereka, memelihara keimanan dan keislaman mereka dan mencegah mereka dari kekufuran yang dipaksakan kepada mereka. Tapi sayang tak ada satupun pemimpin muslim yang mau menolong dan membebaskan muslim Uighur dari penderitaan ini.

Tragedi muslim Uighur menambah panjang daftar penderitaan umat Islam. ini menambah keyakinan akan pentingnya tegaknya kekuasaan ideologi Islam yang menyatukan kaum muslim di seluruh dunia, melindungi kaum muslimin dari berbagai kezoliman yang akhir-akhir ini makin represif menimpa kaum muslim.

Karena itu, saatnya umat Islam sadar dan buang sekat-sekat primordial. Saatnya umat Islam menyerukan persatuan seluruh dunia. Melawan siapapun yang mengganggu umat Islam. Jangan menyerahkan nasib kaum muslim kepada orang lain. Umat Islamlah yang bertanggungjawab atas nasib sesama muslim.

Sementara Indonesia, sebagai negeri muslim terbesar di dunia semestinya berdiri tegak terdepan melawan segala bentuk penjajahan dan pelanggaran HAM. Indonesia semestinya menjadi teladan bagi dunia bahwa Indonesia anti tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan berperikeadilan. Sebab negara memiliki semua perangkat untuk bisa menghentikan segala bentuk penjajahan atas kemanusiaan.

Apalagi jika penderitaan ini menimpa masyarakat muslim dimana Allah sendiri telah memberikan ketetapan bahwa sesama muslim adalah satu kesatuan tubuh yang harus saling menolong dan membebaskan dari penderitaan.  Rasulullah sebagai teladan telah begitu gigih menolong umat Islam dari berbagai bentuk penganiayaan. Jika negara ini masih juga diam, maka betapa malunya kelak jika ditanya Allah dan Rasulullah di akherat.

Semoga Allah segera menyatukan hati-hati kaum muslimin seluruh dunia dan menyadarkan seluruh pemimpin negeri-negeri muslim agar segera mampu membangun kekuatan politik.  Semoga dunia juga bersatu untuk segera menghentikan duka muslim Uighur dengan memberikan sanksi hukum dan politik kepada Cina atas pelanggaran HAM berat.

Jeritan muslim Uighur memanggil dunia, memanggil kita, maka sambutlah !.[MO/sr]

Posting Komentar