Oleh: Salma Banin
(kontributor Komunitas Pena Langit dan Revowriter)

Mediaoposisi.com-Hiruk pikuk kehidupan mari sejenak kita istirahatkan demi menengok apa yang terjadi pada saudara-saudara kita di Negeri Yaman, tetangga Arab Saudi di sebelah selatan. Adakah kita melihat perkembangannya sampai hari ini atau justru tidak tahu sama sekali apa yang terjadi?
Nasihat para Ulama, perbanyaklah istighfar sebab ianya dapat melembutkan hati. Kelalaian kita terhadap urusan kaum muslim dibelahan bumi lain sejatinya menunjukkan kelemahan iman kita yang tak ikut merasakan penderitaan ‘anggota tubuh’ kita sendiri.

Sedikitnya Yaman telah hidup dalam penderitaan sejak 2014 dimana pasukan kelompok Syiah bernama Hutsi (dalam transliterasi inggris menjadi Houthi) melakukan pemberontakan pada pemerintahan Sunni yang di pimpin oleh Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi.

Keadaan memburuk satu tahun setelahnya, saat pemerintah Arab Saudi dan sekutunya di Uni Emirat Arab memutuskan untuk ikut campur dalam perang ini. Dengan dalih bahwa kelompok Hutsi terbukti mendapat bantuan dari negara saingan regionalnya, yakni Iran yang juga menjadi pusat ajaran Syiah yang dianut Hutsi.

Perang lazimnya dilakukan hanya oleh dua kubu militer yang sama-sama memegang senjata, namun faktanya tidak demikian. Justru lebih banyak korban berjatuhan dari warga sipil yang notabene harus dilindungi baik secara fisik maupun psikologisnya.

Kedua pihak saling melancarkan senjatanya ke tempat publik. Akibatnya sekolah, rumah sakit, jalan umum, pasar tidak dapat digunakan kembali. Suasana mencekam juga senantiasa menghantui masyarakat, sedang mereka tidak turut terlibat dalam persengketaan kekuasaan apapun. Sungguh ini bukanlah potret etika dan aturan perang yang dicontohkan Rasulullah saw.

85.000 anak-anak Yaman menjadi saksi atas kekejian pihak yang berperang tersebut. Jumlah ini bahkan setara dengan jumlah anak-anak di kota terbesar kedua di Inggris, Birmingham. Mereka meregang nyawa entah karna terkena bom atau kelaparan. 3,25 juta wanita dan gadis usia reproduksi menghadapi peningkatan risiko kesehatan dan perlindungan, 8,6 juta anak-anak Yaman saat ini tidak memiliki akses ke air minum, 13 juta warga sipil berisiko mati karena kekurangan makanan dalam tiga bulan ke depan, sebanyak lebih dari 22 juta pria, wanita, dan anak-anak—saat ini bergantung pada bantuan dan perlindungan internasional. Kondisi ini adalah terburuk sejak 100 tahun terakhir.

Kedua belah pihak bertanggung jawab atas hal ini. Tidak ada pihak dalam perang ini yang bersih dari darah di tangannya. Sebuah organisasi HAM, Mwatana*), telah mendokumentasikan pelanggaran terhadap warga sipil oleh semua pihak, yakni Hutsi dan Arab Saudi. Hutsi telah membunuh dan melukai ratusan warga sipil melalui penggunaan ranjau darat dan penembakan tanpa pandang bulu, sementara milisi yang didukung oleh Uni Emirat Arab, milisi yang didukung pemerintah Yaman, serta milisi Hutsi, secara sewenang-wenang menahan, secara paksa menghilangkan, dan menyiksa warga sipil yang tidak terlibat pada kepentingan apapun.

Orang-orang di Timur Tengah memiliki pengalaman panjang dan pahit dengan standar ganda internasional ketika menyangkut hak asasi manusia, meski secara personal para pejuang hak universal yang diakui di Barat, namun secara gamblang mereka justru mengabaikan pelanggaran berat oleh sekutu mereka di wilayah tersebut. Hal ini bisa kita lihat dalam kasus mantan syah Iran, Saddam Hussein, hingga putra mahkota Arab Saudi saat ini, Mohammad bin Salman. Kekebalan de facto yang diberikan komunitas internasional kepada Arab Saudi melalui sikap diam mereka, mencegah keadilan nyata untuk menghentikan pelanggaran oleh semua pihak.

Mwatana menambahkan, standar ganda ini dipamerkan ketika para pembuat kebijakan Barat mengecilkan pelanggaran Saudi dan Emirat terhadap hak asasi manusia di Yaman, dengan mengklaim bahwa kemitraan yang erat dengan Riyadh diperlukan untuk mencegah persepsi ancaman Iran terhadap komunitas internasional. Maka faktanya bisa kita lihat bahwa korban yang berjatuhan di Yaman adalah bentuk dari kesengajaan dalam menerapkan kebijakan dan strategi oleh pihak yang bersekutu.

PBB pun sejauh ini tak bisa berbuat banyak untuk mengentaskan krisis kemanusiaan di Yaman. Lembaga bangsa-bangsa dunia itu telah mengajukan permohonan kepada negara-negara dan lembaga-lembaga donor untuk meningkatkan dukungan keuangan untuk menutupi apa yang mereka disebut sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Namun hasilnya, perang itu masik berkecamuk hingga hari ini. Lalu siapa lagi yang bisa diharapkan untuk menyelesaikan masalah ini selain Allah?

Sungguh, persatuan umat Islam seluruh dunia adalah jalan yang akan membebaskan saudara kita di Yaman dari ancaman apapun. Bahkan di Suriah, Palestina, Rohingya, Xinjiang, dan belahan bumi lainnya sebagaimana yang pernah dicontohkan pada masa kekhilafahan pimpinan Khalifah Al Mu’tashim Billah yang dengan gagahnya mengirim pasukan yang barisan depannya sudah sampai di wilayah Romawi, Amuriyyah sedang barisan terakhirnya masih berada di pusat pemerintahan Islam di Samarra kala itu, hanya untuk menyelamatkan satu muslimah.

Kemuliaan dan kekuatan kaum muslimin sedahsyat ini tidak pernah lagi ditemukan setelah keruntuhan Khilafah Utsmani terakhir di Turki pada 3 Maret 1924 silam. Sedangkan kewajiban untuk mengangkat satu Imam bagi seluruh kaum muslimin di dunia telah disepakati oleh keempat Imam Mazhab. Sebab seorang Imam/Khalifah tidak hanya sebagai simbol Izzatul Islam, melainkan sebagai raain (pengurus) dan junnah (perisai) yang akan melindungi kepentingan dan kehormatan umat dimanapun mereka berpijak.

Nabi Muhammad -shallaLlâhu ’alayh wa sallam- bersabda:

Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Sudah saatnya umat Islam fokus untuk mewujudkan kepemimpinan ini kembali. Dengan dakwah, menyeru kepada penerapan Islam secara kaaffah dalam naungan Khilafah, sehingga umat sadar dan paham, bahwa masalah yang menimpa kita bertubi-tubi adalah tersebab kita menghilangkan peran Allah dalam mengatur kehidupan kita secara keseluruhan. Wallaahu’alam.[MO/sr]

*) Mwatana adalah sebuah Organisasi Hak Asasi Manusia yang baru-baru ini menerima Roger Baldwin Medal of Liberty, hadiah dua tahunan yang diberikan oleh Human Rights First yang berbasis di AS."


Posting Komentar