Oleh : Ab Latif
(Direktur Indopolitik Watch)

Mediaoposisi.com- Subhanallah…. Sun gguh luar biasa jika kita melihat antusiasme umat islam dalam aksi reuni 212 tahun 2018 ini. Peserta reuni akbar ini diperkirakan mencapai 13 juta lebih, walaupun kata sebagian pejabat itu hanya 40.000 orang. Tapi anehnya, aksi yang sebesar itu hanya ada 1 stasiun televisi yang meliputnya. Semua media masa bungkam dan acuh terhadap memen sejarah yang luar biasa ini. Tapi itu tak mengurangi gaungnya acara reuni 212 yang sangat luar biasa. Walau media dalam negeri tidak begitu tertarik, namun media-media luar negeri sangat antusias meliput dan bahkan menjadi berita heboh di seluruh dunia.

Bangga dan bercampur haru melihat keikhlasan umat islam saat itu. Persatuan yang hakiki kini telah terjalin kuat diantara mereka. Mereka saling berbagi, saling menghargai dan saling memuliakan. Makanan mereka gratiskan untuk menyambut saudaranya, kebersihan mereka jaga bahkan rumputpun tak terinjak oleh kaki-kaki mereka. Umat islam kini telah terjalin ukhuwah yang kuat untuk Bersama berjuang membela kalimat tauhid “ LAILAHA ILLALLAH MUHAMMADAR ROSULULLAH “.

Ditengah jutaan manusia yang berkumpul di Monas pada hari itu, berkibar pula jutaan bendera tauhid yang selama ini diidentikkan oleh rezim dan salah satu ormas yang anti bendera tauhid sebagai bendera HTI. Al -liwa’ dan Ar royah yang merupakan panji persatuan umat islam yang sempat dipersekusi kini begitu gagah berkibar ditengah-tengah umat dan umat pun bengga mengibarkannya.

Melihat aksi reuni 212 tahun ini, kita bisa melihat dengan nyata eksistensi HTI yang sebenarnya. Jutaan manusia berseragam hitam dan putih telah mengibarkan bendera Rasulullah saw. (Al -liwa’ dan Ar royah) dengan bangganya. Pertanyaannya adalah apakah jutaan manusia itu adalah anggota HTI ? jawaban dari pertanyaan ini tidaklah begitu  penting. Yang pasti siapapun yang mengibarkannya adalah  bagian dari umat Rosulullah yang siap membela agama Allah swt.

Ini adalah bukti keberhasilan dakwah yang dibawa HTI. HTI telah berhasil mendidik umat untuk cinta pada panji Rasulullah saw, meskipun harus selalu mengalah pada rezim yang arogan dan anti islam. Tapi ternyata itulah kunci utama kesuksesan HTI dalam dakwahnya.

Jika kemarin umat tidak mengenal apa itu Al liwa’ dan Ar royah, lalu HTI mengkampanyakannya dengan program MAPARA ( Masyiroh Panji Rasulullah ). Memang saat itu HTI dihadang, dibenturkan dengan ormas seberang, dipersekusi dan di intimidasi, namun HTI legowo dan berlapang dada dengan perlakuan tersebut.

Tapi lihatlah sekarang, siapa yang tidak kenal Al liwa’ dan Ar royah ???  bahkan Al liwa’ dan Ar royah dikibarkan dengan gagah dan bangga oleh umat islam yang bahkan belum pernah bersentuhan dengan HTI sekalipun. Lihatlah disepanjang jalan dekat Monas saat itu, liwa’ dan royah dijual oleh pedagang asongan seperti kacang goreng. Disitulah kita bisa melihat dan bahkan yakin seluruh aktivis HTI pasti merasa bangga dan bersyukur atas keberhasilan ini.

Melihat fakta yang demikian, lalu apa arti pencabutan Badan Hukum Perkumpulan (BHP) HTI oleh pemerintah ? ternya pencabutan BHP HTI yang dilakukan pemerintah tidak memberi efek pada para aktivisnya. Bahkan dengan pencabutan itu pemerintah telah melambungkan nama HTI meleburkan HTI dengan umat. HTI diibaratka seperti air bah yang mengalir dari gunung menuju lautan lepas.

Apapun yang dilaluinya, air tersebut akan terus mengalir hingga tujuannnya tercapai. Maka kesalahan fatal pemerintah adalah telah membendung sungai dengan arus yang sangat besar. Akibatnya air sungai tersebut mengalir melalui pemukiman-pemukiman masyarakat dan menghanyutkan apapun yang dilaluinya. Sungguh air bah tersebut akan menghanyutkan apapun yang ada didepannya.

Eksistensi HTI kini semakin kuat dan kokoh ditengah-tengah umat. Umat telah melebur Bersama pemikiran-pemikiran yang dibawah HTI. Dukungan umat, para ulama’ dan tokoh-tokoh masyarakat, serta para politisi dan intelektual semakin nyata adanya.

Jika ditelusuri secara serius, mungkin kita akan melihat asal muara adanya aksi 212. Aksi besar ini sesungguhnya adalah berawal dari kampanya “HARAM PEMIMPIN KAFIR” yang massif dilakukan oleh HTI pada tahun 2016 menjelang Pilkada Jakarta. Buah dari kampanya ini adalah calon pemimpin kafir ini marah dan ngomong yang tidak terkontrol di kepulauan seribu dengan menistakan Al Maidah 51. Dan akhirnya muncullah aksi 212 tahun 2016 yang dipelopori oleh Habib Rizieq.

Demikian pula dalam aksi 212 tahun 2018 kali ini yang dihadiri hampir 13 juta lebih umat islam dan bahkan non islam baik dalam dan luar negeri. Aksi 212 tahun ini juga di pelopori oleh penistaan bendera tauhid yang diidentikkan bendera Hizbut Tahrir Indonesia. Walaupun faktanya BHP HTI telah dicabut tapi ternyata eksistensinya semakin kuat ditengah masyarakat.

HTI akan senantiasa berjuang dan terus berdakwah hingga tujuan yang di inginkan tercapai. Seperti air bah yang akan menghanyutkan hati dan pikiran umat untuk dibawa kelautan ridho Allah  yang tidak bertepi.  Dengan aksi 212 tahun 2018 inilah sebagai bukti bahwa eksistensi HTI semakin kuat dan terpengaruh. Justru dengan pencabutan BHP inilah berkah yang didapat sangat luar biasa. HTI kini bebas masuk ke semua ormas islam dan non islam untuk memahamkan umat tentang pentingnya islam dan tegaknya Syariah dan khilafah. Setelah aksi bela tauhid insa Allah diteruskan dengan aksi tegakkan khilafah.[MO/sr]

Posting Komentar