Marfu'ati Jannah

Mediaoposisi.com-Polda Riau menyiagakan 940 personel polisi untuk pengamanan perayaan Natal dan Tahun Baru.

Langkah ini dilakukan melalui Operasi Lilin Muara Takus 2018 untuk mengantisipasi aksi terorisme yang berlangsung selama 10 hari, sejak 23 Desember hingga 1 Januari mendatang. (Merdeka.com, 2018)

Sebagai sebuah negara wajar jika ingin menjaga keamanan dan ketentraman bagi setiap warga nega-ranya dari ancaman dan cengkaman yang meresahkan, sebut saja Teroris. Masih membekas diingatan pada tahun ini bulan Mei lalu terjadi aksi bom bunuh diri di gereja Surabaya, dan menabrakkan diri pada Polda Riau menggunakan mobil.

Akibatnya? Pemerintah memaksa untuk merevisi UU Terorisme dimana peraturan Terorisme sudah tercantum pada KUHP dan UU insidental (ad hoc).

Momentum menjelang natal dan akhir tahun pemerintah tidak pernah alfa mengusung isu-isu teroris. Melihat berbagai fakta yang terjadi selama ini, istilah terorisme selalu diarahkan kepada kaum muslim. Belum pernah ada ceritanya kaum kafir disebut teroris.

Di Papua meski OPM telah membunuh tentara, polisi, dan rakyat biasa mereka tetap tidak disebut sebagai teroris. Maka, banyak orang patut menduga perang melawan teroris adalah perang melawan kaum muslim.

Tentu saja kebijakan ini bukan produk asli Indonesia, tapi ini kebijakan global Amerika Serikat yang dipaksakan ke seluruh dunia.

Dengan diplomasi stick and carrot, semua warga Amerika diberikan pilihan yaitu ikut Amerika atau iku teroris. Dan dalam berbagai pernyataan, sangat jelas dan gamblang, yang dimaksud teroris adalah Islam, yakni mereka yang ingin membangun kembali khilafah dan melaksanakan syariah serta mengobarkan jihad. (Media Umat)

Sudah sangat lengkap dan sangat represif. Jika dulu masa Orde Baru melakukan represifitas tidak melibatkan media masa, sekarang represifitas itu melibatkan media sehingga efek yang ditimbulkan dari penegakkan hukum yang represif itu tidak hanya ‘dinikmati’ oleh aparat, tetapi sekarang ‘dinikmati’ oleh seluruh rakyat Indonesia bahkan International.

Sehingga Indonesia yang kita lihat aman, gara-gara blow up media massa seolah-olah negara yang  mayoritas muslim ini tidak aman. Dan terjadi berulang-ulang. (Media Umat)

Ini semua jelas masih terkait dengan War on Terrorisme atau WOT-nya Amerika. Hanya saja bila dulu terorisme dikaitkan dengan usaha menyerang kepentingan AS khususnya atau negara Barat pada umumnya, maka sekarang terorisme tampaknya hendak dikaitkan dengan kelompok ISIS dengan khilafahnya.

Ini harus kita waspadai, karena bila sekarang masih dikaitkan dengan kelompok ISIS, sangat boleh jadi ujungnya nanti terorisme langsung dikaitkan dengan khilafah itu sendiri.

Artinya, siapa saja yang berjuang untuk khilafah langsung dicap teroris. Bila benar begitu, maka WOT itu sesungguhnya tak lain adalah taktik AS untuk membendung bakal berdirinya khilafah nantinya. (Jubir HTI, Media Umat 2016)[MO]

Posting Komentar