Oleh: Wisdiyanti
Ibu Rumah Tangga

Mediaoposisi.com-Badan Intelijen Negara (BIN) mengungkap ada 41 dari 100 masjid di lingkungan kementerian, lembaga serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terindikasi telah terpapar radikalisme. "Yaitu, 11 masjid kementerian, 11 lembaga, dan 21 masjid BUMN," ujar Staf Khusus Kepala BIN Arief Tugiman, dalam diskusi Peran Ormas Islam dalam NKRI di Kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Jakarta, Sabtu (17/11).

Arief juga mengatakan terdapat tiga kategori tingkat paparan radikalisme dari 41 masjid tersebut. Pada kategori rendah ada tujuh masjid, 17 masjid masuk kategori sedang dan 17 masjid masuk kategori tinggi. Arief juga menjelaskan secara keseluruhan dari hasil pendataan BIN, ada sekitar 500 masjid di seluruh Indonesia yang terindikasi terpapar paham radikal.

Di samping persoalan masjid, BIN juga menyoroti degradasi ideologi yang tengah terjadi. Persoalan utamanya kata dia adalah meningkatnya konflik sosial berupa agama dan SARA, serta konten provokatif yang beredar di media massa. Berdasarkan hasil penelitian BIN dengan salah satu Universitas Islam di Jakarta terhadap guru agama di madrasah mulai tingkat SD sampai SMA.

Arief mengatakan sebanyak 63,70 persen memiliki opini intoleran terhadap pemeluk agama lain.
Isu radikalisme, terorisme, fundamentalis dan sebagainya sebagaimana yang disebutkan BIN diatas sebenarnya bukan sesuatu yang baru kita dengar.

Kata radikal sendiri telah menjadi kata yang memiliki frame menakutkan di mata masyarakat.  Frame itu dibentuk melalui media-media politik negara dan agenda-agenda deradikalisasi. Kata radikal identik dengan ekslusif, terorisme, dan gerakan pengganti ideologi negara.

Agenda deradikalisme yang kemudian dijlankan pemerintah tekait dugaan terpaparnya mesjid-mesjid di Indonesia dengan paham radikal adalah harus adanya pemberdayaan dai-dai untuk bisa memberikan dakwah yang menyejukan dan sekaligus mengkonter paham-paham radikal yang sekarang beredar di masyarakat.

Jika kita cermati lebih dalam lagi, upaya deradikalisasi yang dijalankan tersebut merupakan kenyataan bahwa penguasa saat ini ketakutan dengan geliat kebangkitan umat dan juga semakin meluasnya kesadaran masyarakat terhadap Islam itu sendiri.

Secara tidak sadar, pengelompokan berdasarkan nama atau lebih tepatnya stempel istilah tersebut adalah strategi pertama dalam upaya memecah belah umat Islam yang hingga detik ini terus digulirkan.  Mereka pun begitu ketakutan dengan munculnya kesadaran politik Islam ditengah-tengah umat.

Hal ini termuat didalam dokumen RC (Rand Corporation) berjudul “Building Moderate Muslim Networks”, dan “Civil Democratic Islam—Partners, Resources and Strategies” (2007). Rekomendasi yang dikeluarkan lembaga think-thank neo conservative AS ini adalah dengan mengangkat satu sisi dan menginjak satu sisi yang lain, memegang satu pihak dan menjatuhkan pihak lain.

Itulah politik belah bambu. Dalam banyak kesempatan misalnya, upaya pemenangan kelompok moderat dilakukan melalui propaganda deradikalisasi atau “gerakan anti radikalisme” dengan pembenturan antar kelompok, yakni antara kelompok tradisionalis dengan kelompok yang dianggap fundamentalis atau radikal.

Selain menyerang para penguasa negeri, “fiqih” ala Rand Corporation ini pun menginvasi para ulama dan kaum intelektual, baik dari kalangan masyarakat umum maupun mahasiswa. Ulama disibukkan pada perbedaan furu’iyah yang berpotensi menimbulkan persinggungan antar kelompok. Diciptakan istilah-istilah agama yang begitu sensitif mengusik perbedaan pandangan ditengah-tengah umat.

Radikalisme distempelkan pada kelompok atau individu yang menginginkan perubahan, mengingin-kan persatuan, kembali pada aturan Pencipta, menolak ikatan emosional dan kritis atas kebijakan zalim penguasa, intoleran terhadap agama lain, menolak kebhinekaan dll. Dan bahkan disematkan bagi siapa saja yang menginginkan diterapkannya ajaran Islam melalui sebuah negara Khilafah.

Para ulama pun menjadi gagal fokus dan tidak jarang mereka menjadi kepanjangan tangan stigmatisasi negatif terhadap perjuangan Islam, dan bahkan tehadap pemahaman dan juga ajaran-ajaran Islam yang benar.

Walhasil, umat menjadi ragu terhadap ajaran agamanya sendiri, tak jarang mereka pun malah justru menaruh curiga terhadap orang, kelompok atau jamaah yang berusaha untuk mendakwahkan Islam yang benar di tengah-tengah mereka.

Sejatinya, musuh utama dan bersama baik organisasi maupun individu serta masyarakat adalah sekularisme yang melahirkan liberalisasi, swastanisasi, serta kapitalisasi diberbagai lini kehidupan masyarakat. Pada isu inilah seharusnya umat focus untuk membongkar kebobrokannya dan ingin menggantinya dengan syariat Islam.

Umat Islam, melalui tangan para ulamanya harus menyadari bahaya dari adanya ide-ide kufur tersebut, termasuk timbulnya perpecahan di kalangan umat Islam. Bercerai berai dan menyebabkan perpecahan adalah dosa, baik perpecahan berupa benturan antar organisasi maupun terpisahnya wilayah dari kaum muslimin, seperti separatisme yang didengungkan di beberapa daerah di Indonesia.

Bersikap keras terhadap orang kafir dan lemah lembut kepada sesama muslim adalah tindakan yang sudah jelas berdasar sabda Rasulullah SAW. Menurut Dr. Abdul Halim Mahmud, tidak menjerumuskan saudara pada sesuatu yang buruk, mencegahnya dari perbuatan dosa dan kejahatan, menolongnya menghadapi pihak yang menghalanginya dari jalan kebenaran, hidayah dan dakwah, mencegah perbuatan zalim yang disebut dengan tanashur adalah salah satu cara yang bisa ditempuh untuk menjalin kembali ikatan persaudaraan ditengah kaum muslimin.

Maka, para ulama seharusnya menjadi garda terdepan dalam menolak liberalisasi dan kapitalisasi (neo-kolonialisme) dan mempelopori persatuan umat, memperkuat ukhuwah untuk mewujudkan peradaban terbaik. Tidak layak merek sebagai pewaris para nabi, justru termakan propaganda pecah belah umat melalui label radikal.

Islam adalah agama yang sempurna meliputi seluruh aturan yang mengatur segala aspek kehidupan. Allah telah dengan tegas agar menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai tempat kembali dan menimbang atas berbagai kondisi kaum muslimin, sebab seluruh kaum muslimin mestinya bersatu dibawah ikatan aqidah Islam, bukan sekulerisme, apalagi demokrasi.

Perhatikan firman Allah : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya [QS An Nisa [4] : 59]

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk [QS Ali Imran [3] : 103]

Islam tidak memerlukan label-label Barat yang keji dan menyesatkan, Islam ya Islam. Islam moderat yang diinginkan oleh Barat adalah Islam yang menafikan penerapan Syariah Islam secara kaffah dan formalisasai Syariah oleh negara yakni Khilafah Islam. Sebab tegaknya daulah Islam adalah ancaman terbesar bagi robohnya ideologi kapitalisme di seluruh dunia.

Dengan demikian lebel radikal dan moderat adalah cara Barat untuk menciptakan polarisasi di kalangan kaum muslimin agar terpecah belah dan menghambat kebangkitan Islam. Sebab sejak dahulu para penjajah selalu tidak suka melihat persatuan dan kebangkitan umat.
Umat Islam harus diberikan penjelasantentang hakekat Islam  yang sebenarnya sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits secara kaffah dari perkara aqidah, ibadah, muamalah hingga daulah. Sebab berbagai Islam buatan Barat ini berpotensi memecah belah persatuan umat dan ruang sensitif bagi upaya adu domba sesama muslim.

Dalam sejarah kebangkitan sebuah negara selalu diawali oleh kemajuan pemikiran bangsa tersebut. Sebuah pemikiran Islam akan mengantarkan sebuah bangsa pada kebangkitan Islam. Begitu pula pemikiran komunisme atau kapitalisme. Masing-masing ideologi akan saling berbenturan dan bertolak belakang. Karenanya benturan ideologi adalah sebuah keniscayaan. Barat kafir kini tengah melancarkan penjajahan pemikiran kepada umat Islam atau negeri-negeri muslim dengan menggunakan para anteknya.

Dengan terus melakukan dakwah penyadaran kepada umat akan bahaya narasi radikalisme sebagai propaganda Barat kepada Islam, maka umat akan terus berjuang menumbangkan seluruh narasi Barat dan membangun narasi Islam dalam pemikiran dan perasaan kaum muslimin.

Dengan demikian akan terjadi gelombang kesadaran umat akan pentingnya mendakwahkan dan memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah yang akan memberikan kebaikan bagi seluruh manusia dan alam semesta. Dari berbagai indikasi yang ada, nampaknya tegaknya Khilafah tak akan lama lagi, dan tumbangnya peradaban Kapitalisme sudah diujung mata.[MO/ge]

Posting Komentar