Oleh : Dwi Moga Fitria



Mediaoposisi.com-Lembaga Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Nahdlatul Ulama merilis penelitian yang menyebut ada 41 masjid di lingkungan pemerintah terpapar radikalisme. Peneliti P3M, Agus Setia Budi, mengatakan ujaran kebencian mendominasi topik yang paling banyak dibicarakan di masjid-masjid dengan persentase mencapai 73,6 persen.

Penelitian dilakukan pada 29 September sampai 21 Oktober 2017 dengan merekam secara audio dan video khotbah pada setiap salat Jumat selama periode tersebut. Hasilnya, 41 masjid terpapar radikalisme.

Dari hasil penelitian tersebut, Agus mencatat terdapat enam topik terpopuler dan bermuatan radikalisme pada masjid-masjid tersebut.

Beberapa di antaranya adalah sikap positif dan dukungan terhadap khilafah, sikap negatif terhadap kelompok minoritas, pandangan negatif terhadap agama lain, pandangan negatif terhadap pemimpin perempuan, serta kebencian terhadap kelompok minoritas.

Agus menjelaskan bahwa muatan radikalisme juga terdiri atas berbagai tingkatan. Pada level rendah, paparan radikalisme termuat dalam sikap menyindir agama lain, sikap hanya kelompoknya yang benar, serta sikap negatif terhadap agama lain. Pada konten level sedang, kata Agus, paparan mengarah pada ujaran kebencian dan dukungan terhadap khilafah. Pada level tinggi, ujaran kebencian tersebut memuat provokasi kebencian ke pemimpin non-muslim hingga provokasi kaum kafir akan menyerang muslim, (tempo.co/29/11/2018).



Islam Membawa Kebaikan

Dimunculkannya kembali isu masjid dan penceramah radikal menunjukkan tingkat kepanikan yang tinggi rezim sekuler neolib terhadap kebangkitan umat islam. Bagaimana tidak, seakan bagai hantu yang menakutkan, kesadaran umat terhadap politik islam yang bertujuan mengembalikan kekuasaan umat islam dalam bingkai naungan Khilafah Islamiyah ala minhaj annubuwwah semakin membesar. Karena hanya dengan khilafah, syariah islam dapat diterapkan secara kaffah di segenap aspek kehidupan dan hal inilah yang ditakuti oleh mereka yang tidak mau tunduk pada Islam.

Untuk itu umat tidak boleh terpengaruh isu-isu yang terus mendiskreditkan umat Islam karena Islam bukan ajaran radikal tapi hukum-hukumnya justru membawa kebaikan bagi umat manusia. Allah berfirman dalam Q.S Al-Maidah:50.. "Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?".



Namun tak dipungkiri, penentangan atas arus kebangkitan Islam merupakan sunnatullah. Sebagaimana firman Allah SWT: “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (Q.S At-Taubah: 32). Bahkan Rasulullah pun turut merasakannya, beliau ditentang, dicacimaki, difitnah, mereka sebut beliau gila, tukang sihir, pendusta, mereka melobi, melakukan diplomasi atas nama toleransi dengan meminta Nabi Muhammad SAW untuk saling menghormati. Mereka juga memberi tawaran harta, kekuasaan, dan kehidupan mulia.

Hingga mengusulkan untuk satu tahun menyembah Tuhan berhala, tahun berikutnya menyembah Allah SWT semata oleh kaum kafir pada saat itu namun beliau tidak gentar, beliau tetap menjalankan dakwah islam dengan sabar, teguh, dan optimis hingga Allah memberikan nasrullah-Nya.

Hingga kemudian Beliau berhasil meraih kekuasan politik di Madinah yang ditandai dengan pendirian Daulah Islam yang pertama dan menjadi kepala negara dengan orientasi semata-mata untuk melayani umat sesuai dengan syariah islam. Dengan meneladani sikap dari Rasulullah SAW dalam berdakwah, kini, umat justru harus segera menentukan langkah apakah berada di barisan perjuangan untuk mengembalikan Islam dalam pengaturan kehidupan atau malah menjadi penentangnya.[MO/an]

Posting Komentar