Oleh : Maya

mediaoposisi-Tingginya tingkat kepanikan rezim sekuler neolib menghadapi kesadaran politik umat Islam semakin terlihat nyata. Terbukti dengan isu radikalisme yang kembali dimunculkan, lagi, untuk kesekian kali.
Dilansir oleh IDN Times (21/11), BIN menyebut sedikitnya ada 51 penceramah yang menyebarkan paham radikal di 41 masjid. Lebih lanjut, Kasubdit Direktorat 83 BIN Arief Tugiman mengategorikan masjid yang terpapar paham radikal menjadi tiga level. Pertama, tujuh masjid level rendah, 17 level sedang, dan 17 lainnya level tinggi.

Juru Bicara Kepala BIN Wawan Hari Purwanto mengatakan kategorisiasi tersebut didasarkan pada konten yang dipaparkan penceramah, apakah memiliki kriteria yang menyimpang dari falsafah dan norma NKRI ataukah tidak.

Parahnya, dikatakan pula bahwa 17 masjid dengan level radikal tinggi -zona merah- dinilai sudah mendorong ke arah yang lebih simpati kepada ISIS. Membawa aroma konflik Timur Tengah ke Indonesia dengan mengutip ayat perang sehingga menimbulkan ESKOM: Emosi, Sikap, Tingkah Laku, Opini, dan Motivasi.

Tidak bisa dipungkiri, penentangan atas arus kebangkitan Islam merupakan sunnatullah. Dan tindakan semacam ini pun bukan kali pertama terjadi. Doktrin islamophobia/sikap anti terhadap Islam sudah kerap dijejalkan dengan masifnya pemberitaan berkonotasi negatif terhadap Islam dan segala atributnya. Islam garis keras - aliran sesat hingga teroris adalah label label yang ditempelkan pada sosok yang terindra terlalu religius.

Sebenarnya, gangguan psikologis ini sudah bermula di Eropa pada tahun 80 an karena migrasi besar-besaran warga Timur Tengah sejak berakhirnya perang dunia ll. Kemudian dilanjut dengan serangan WTC 11/9, dimana tragedi tersebut justru menjadi pemicu ketertarikan orang orang Barat terhadap Islam.

Oleh karenanya, sebagai pengemban sejati kapitalisme, tentu Amerika menganggap fenomena ini sebagai ancaman yang bisa mengusik eksistensi keadigdayaan nya. Itu sebabnya, misi islamophobia terus menerus didengungkan.

Namun sayang, seiring berjalannya waktu, penyakit anti islam itu tak hanya menjangkiti orang orang non-muslim, tapi juga merambah pada diri seorang muslim. Kondisi ini tentu sangat berbahaya karena berpotensi sebagai penghalang bangkitnya kesadaran umat akibat ketakutan tak berdasar atas  agamanya sendiri. Di samping itu, perang saudara akibat sikap saling curiga yang berlebihan terhadap sesama adalah hal yang tidak bisa dihindari.

Lihat saja Indonesia!! Sudah berapa banyak tindakan dan kebijakan yang dibuat untuk menyudutkan Islam? Tidak perlu berpikir jauh, digulirkannya kembali isu masjid radikal sudah cukup untuk membuktikan kronisnya virus ini.

Dalam skala yang lebih luas, dampak Islamophobia juga dirasakan oleh muslim yang tinggal di kawasan kawasan Eropa dan Amerika. Statusnya yang minoritas memaksa mereka tidak bisa berbuat banyak menghadapi diskriminasi dan perlakuan tidak manusiawi. Dan bukan perkara mustahil, tekanan tekanan ini akhirnya bermuara pada kemurtadan.

Oleh karena itu, perlu penyikapan yang tepat untuk menghentikan laju Islamophobia ini. Perang pemikiran antara dua ideologi besar, yakni kapitalisme dan Islam harus segera dimenangkan oleh Islam. Umat dituntut untuk cerdas dalam melakukan serangan balik atas opini buruk yang terlanjur dipropagandakan Barat. Menjernihkan kembali pemikiran umat tentang kemuliaan Islam, tentang komprehensif nya Islam dalam memberikan solusi atas seluruh problematika, baik itu yang diidap oleh muslim, maupun non muslim. [MO/vp]

Posting Komentar