Oleh : Lesi E. Febrianti S.Pd. S.ST.

Mediaoposisi.com-Sepuluh desember diperingati sebagai hari peringatan HAM sedunia. Berbagai kegiatan dilakukan untuk memperingati hari yang dianggap bersejarah ini. Tanggal 13-14 November lalu telah dilaksanakan festival HAM Indonesia 2018. Dari festival tersebut dihasilkan sebuah deklarasi yang disebut Deklarasi Wonosobo.

Di dalamnya termuat alasan mengapa deklarasi terjadi, yaitu karena mereka menganggap bahwa di dalam kehidupan masyarakat kerap kali muncul praktik intoleransi yang berpotensi mengurangi penikmatan HAM, serta dapat menjadi sumber instabilitas yang akan mengikis dan merusak nilai-nilai kebangsaan Indonesia yang berbhineka, setara dan toleran.

Deklarasi Wonosobo ini berisi 3 langkah yang akan dilakukan dalam rangka merawat keragaman, memperkuat solidaritas untuk Indonesia yang inklusif dan berkeadilan. Adanya deklarasi di atas, tak ayal membuat bingung masyarakat. Pandangan setiap orang berbeda-beda menilik HAM ini. Apa batasan dari HAM ini? HAM ini berlaku untuk siapa? sungguh tidak jelas.

Faktanya di dalam kehidupan, kita tidak memiliki hak yang sebebas-bebasnya. Ketika satu pihak menuntut pemenuhan haknya dengan sebebas-bebasnya maka tentu ada pihak lain yang akan terlanggar haknya. Itu sudah menjadi sebuah keniscayaan.

Isu HAM ini tak hanya ramai diperbincangkan di negeri ini. Namun telah menjadi isu di berbagai belahan dunia. Tidak bisa dipungkiri, memang di satu sisi banyak orang yang merasa diperjuangkan haknya dengan membawa nama HAM ini, namun di sisi lain tak sedikit atas nama HAM, banyak hal yang dulu tabu atau bahkan dosa kini menjadi boleh dan sah. Tak aneh kalau para pejuang HAM dianggap seakan-akan menjadi pahlawan yang memperjuangkan hak-hak manusia.

Namun anehnya, pemerintah bahkan dunia sendiri tak ayal justru merekalah yang menjadi pelanggar HAM yang berat. Isu HAM ini cenderung dijadikan sebagai tameng bagi para pelaku maksiat, contohnya bagi kaum LGBT. Mereka mengatasnakan HAM untuk melegitimasi perbuatannya. Bahkan di negeri induknya demokrasi kapitalis liberal yaitu Amerika, pernikahan sejenis sudah merupakan hal yang dilegalkan. Padahal di dalam agama apapun, hal ini dianggap sebagai sebuah dosa. 

Namun sayangnya dengan adanya pelegalan, masyarakat dipaksa untuk memberikan tempat bagi kaum pelangi ini. Ironisnya, negeri mayoritas muslim seperti negeri kita tercinta ini sekarang mau ikut-ikutan kepada negeri gembongnya liberalisme tersebut. Dua hari setelah MA Amerika Serikat melegalkan pernikahan sejenis di 50 negara bagian, Komnas HAM mendesak pemerintah untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan hak komunitas LGBT sebagaimana yang tertuang di dalam konstitusi dan program Nawacita.

Dipihak lain, terungkap juga dari lisan Menteri agama yang mengajak kepada masyarakat untuk merangkul kaum pelangi. Ungkapan yang terucap dari seorang tokoh ini, mengindikasikan bahwa adanya pengakuan terhadap kaum terlaknat ini. Sungguh sangat disayangkan, kenapa hal ini muncul dari mulutnya menteri agama.

Isu HAM yang dianggap menguntungkan masyarakat, ternyata memiliki standar ganda khususnya bagi dunia Islam. Lihatlah,bagaimana terjadinya berbagai penindasan dan diskriminasi terhadap  dunia Islam. 

Para pegiat HAM seakan-akan buta mata dan telinganya terhadap kekejian yang terjadi pada masyarakat muslim. Kemana mereka ketika kekejian dan penindasan itu terjadi? Jawabannya adalah HAM dalam alam sekuler hari ini tak akan pernah berpihak pada Islam dan kebaikan. HAM hanyalah dijadikan tameng kemaksiatan, diskriminasi dan tuduhan keji terhadap Islam.

Pandangan Islam Terhadap Hak dan Kewajiban Manusia

Islam bukanlah agama yang memaksa. Ia juga bukan ajaran yang mencabut hak-hak hidup manusia. Sebagian orang ada yang menganggap bahwa Islam banyak membatasi seseorang untuk melakukan sesuatu. Bahkan ada yang berfikir bahwa islam memaksa dan menghalangi manusia untuk bebas berkehendak. Tapi tahukah bahwa semua yang diatur dan ditetapkan dalam syariat Islam bermuara kepada kemaslahatan umat manusia sendiri.

Syariat Islam datang untuk mengatur manusia dan memelihara manusia agar berada di jalan yang benar. Hak dan kewajiban adalah sebuah keniscayaan yang pasti ada. Islam begitu memperhatikannya. Di dalam kehidupan ini, hak dan kewajiban bagaikan dua sisi mata uang. Pasti selalu saling berdampingan.

Jika seseorang diwajibkan memenuhi kewajibannya maka di sisi lain, ia berhak mendapatkan yang sudah seharusnya ia dapatkan. Jika dikaji secara mendalam, sedikitnya ada lima hal yang sangat mendasar dan penting yang amat diperhatikan di dalam Islam.

Diantaranya :

a. Syariat Islam memelihara agama

Syariat Islam memelihara hak prerogative setiap orang untuk memilih agamanya. Seperti yang termaktub di dalam Al Qur-an, bahwa “Tidak ada paksaan untuk memeluk agama (Islam)”. (Q.S Al-Baqarah : 256). Hak ini akan selalu dipelihara sampai ketika syariat Islam memerintahkan untuk memerangi orang-orang yang berpaling dan menentang kebenaran. Pada saat itu, setiap orang tetap diberikan peluang untuk memilih (agamanya) seperti yang ditegaskan di dalam firman Allah : “Dan perangilah mereka, supaya tidak ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran) maka sesungguhnya Allah maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”

b. Syariat Islam memelihara jiwa manusia
Islam begitu memperhatikan perkara yang berhubungan dengan jiwa. Larangan yang sangat tegas bagi tindakan semena-mena terhadap jiwa. Syariat telah menetapkan hukuman dan resiko yang membuat jera. Larangan ini dimulai sejak manusia berada di alam rahim. Oleh karena itu, syariat sangat mengharamkan aborsi dan mengancamnya dengan hukuman yang berat. 

Perkara serupa juga tampak jelas ketika syariat Islam memberikan jaminan terhadap kebutuhan pokok manusia seperti makanan, pakaian, obat-obatan. Syariat menjadikan hal tersebut sebagai bagian dari fardlu kifayah. Jika belum dilaksanakan secara benar maka seluruh umat Islam akan berdosa.

Pemeliharaan terhadap jiwa juga bisa diketahui ketika syariat Islam mengharamkan bunuh diri. Orang yang bunuh diri akan kekal di dalam neraka. Masih banyak lagi hukuman dan aturan yang bertujuan untuk memelihara jiwa manusia.

c. Syariat Islam memelihara harta
Hal ini bisa diketahui ketika syariat menganjurkan untuk menginvestasikan harta serta melarang untuk menimbun dan menghambur-hamburkan harta. Syariat ini menegaskan bahwa sesorang tidak berhak mengambil harta saudaranya kecuali dengan keridhaan dan keikhlasannya. Pemeliharaan terhadap harta tampak jelas ketika syariat memberikan hukuman yang berat bagi pencuri dan perampok, serta memberikan denda terhadap semua bentuk tindakan semena-mena terhadap harta. Masih banyak lagi hukuman dan aturan yang bertujuan untuk memelihara harta.

d. Syariat Islam memelihara akal pikiran.
Hal ini terlihat ketika syariat Islam mengharamkan khamer dan segala yang memabukan serta menghilangkan pikiran, baik dengan membeli, menjual maupun mengkonsumsinya. Dalam perkara khamer, syariat Islam melaknat sepuluh orang yang terlibat. Tidak hanya melaknat peminumnya saja, tetapi juga olrang yang menjual, membeli dan membawanya.

Pemberian sanksi yang berat tersebut bertujuan agar orang yang tidak dapat disadarkan dengan nilai-nilai agama, moral dan harga diri, dapat disadarkan dengan kerasnya ancaman dan hukuman bagi mereka yang terlibat dalam perkara yang haram tersebut.

e. Syariat Islam memelihara kehormatan dan keturunan.
Hal ini terlihat ketika Islam mengaharamkan zina dan penyimpangan seksual dengan segala bentuk dan coraknya. Syariat Islam juga melarang menuduh orang baik-baik berzina, dan melarang menyebarluaskan perbuatan zina di tengah-tengah masyarakat. Syariat Islam telah menentukan hukuman dan sanksi yang sangat berat bagi perbuatan ini.

Pemeliharaan syariat terhadap kehormatan juga terlihat ketika ia menutup semua celah dan pintu masuk menuju zina yaitu dengan pernikahan (tentunya ini pernikahan antara laki-laki dan perempuan bukan seperti LBGT) Islam memberi kemudahan sesorang untuk menikah. Di samping itu, Islam melarang bertabaruj, mempertontonkan aurat, campur baur pria dan wanita serta berkhalwat dengan perempuan yang bukan mahram. Dan masih banyak lagi aturan dan hukum Islam yang bertujuan untuk memelihara kehormatan dan keturunan.

Jika kita menghayati seluruh hukum dan aturan syariat Islam dengan mendalam, maka akan kita ketahui bahwa hanya Islam lah yang akan mampu menjaga dan menjamin hak serta kewajiban manusia dan memanusiakan manusia dengan aturanNya. Berbeda 180 derajad dengan aturan buatan manusia, ketika ia menginginkan pemenuhan hak sekehendak hatinya. Maka pada saat yang sama ia telah melanggar hak orang lain, dan membuat manusia hilang kemanusiaannya.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita kembali lagi kepada Syariat yang dibuat oleh Allah yang maha segalanya. Hanya aturanNyalah yang akan mampu menentramkan dan menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat.

Wallahu’alam bishowab [MO/vp]

Posting Komentar