Oleh : Ayu Chandra
(Dosen di salah satu PTS di kota Malang)

Mediaoposisi.com-Kebencian. Adalah kata yang paling tepat dalam mendeskripsikan perilaku Islamofobia.

Donasi Save Muslim Uighur

Tahun politik ini dimanfaatkan oleh para pembenci Islam dalam menarasikan wacana tersebut. Rasa dengki itu menjadikan mereka penuh prasangka dan bersikap tidak adil terhadap Islam dan kaum muslimin.

Partai politik -yang salah satu fungsinya melakukan edukasi kepada masyarakat- sayangnya, ikut menebarkan Islamofobia. Aktor-aktor politik itu kerap menuduh umat Islam mempolitisasi agama, intoleran dan diskriminatif.

Adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang tak kuatir memposisikan diri sebagai penyerang ajaran Islam. Partai dengan tagline “terbuka dan progresif’ memang tidak salah jika dari awal telah meman-cing kontroversi.

Beranggotakan pengurus yang berusia di bawah 45 tahun, partai ini mewakili generasi yang terdidik baik dengan ajaran Barat. Over percaya diri –kalau tidak bisa disebut lancang- menjadi profil yang tepat untuk menggambarkan  partai ini.

Pada pidato peringatan ulang tahun PSI keempat di Tangerang (11/11/18), Ketua Umumnya, Grace Natalie berani mengatakan bahwa PSI tidak akan pernah mendukung perda syariah. Alasannya, perda-perda tersebut menimbulkan intoleransi, diskriminasi dan mereduksi hak warga negara.

Dia mengambil laporan Komnas Perempuan sebagai evidence based untuk menemukan 421 perda diskriminatif, dan di antaranya 333  perda itu membatasi atau menyasar perempuan.

Tak hanya itu, tepat sebulan setelah peristiwa di atas, Grace Natalie, dalam pidato akhir tahunnya di Surabaya (11/12/2018) yang diberi judul “Keadilan untuk Semua, Keadilan untuk Perempuan Indonesia” dia tegaskan PSI tidak akan pernah mendukung poligami.

Tak akan ada kader, pengurus, dan anggota legislatif partai ini yang boleh mempraktikkan poligami.

Lagi-lagi riset lembaga gender –kali ini LBH APIK- yang digunakan untuk memperkuat bukti bahwa praktik poligami menyebabkan ketidakadilan. Grace mengatakan, di tengah berbagai kemajuan, masih banyak perempuan yang mengalami ketidakadilan.

Salah satu penyebabnya, kata dia, adalah praktik poligami. Dengan sesumbar, jika lolos pemilu, PSI akan menjadikan poligami larangan bagi seluruh pejabat publik di eksekutif, legislatif, dan yudikatif, serta Aparatur Sipil Negara. Bahkan  mereka bertekad merevisi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang memperbolehkan poligami.

Menurut MUI KH. Ahmad Cholil Ridwan, Lc. ketika diminta tanggapannya terkait pernyataan PSI yang mengupayakan larangan poligami dan Komnas Perempuan yang menganggap poligami sebagai kekerasan, serta tidak ada dalam ajaran Islam, maka beliau menyampaikan bahwa PSI dan Komnas Perempuan tak mengerti Islam.

Cholil menegaskan poligami ada dalam ajaran Islam, secara fikih hukumnya sunah. Ia menyebut Nabi Muhammad dan para sahabat pun berpoligami. Namun, tambah Cholil menjelaskan, yang dihukumi sunah adalah nikahnya, bukan jumlah perempuan yang dinikahi.

"Soal tak senang poligami silakan, tapi mengatakan poligami tak ada dalam ajaran Islam itu jahil murakkab, bodoh paralel," kata Cholil.

Cholil mengingatkan pihak-pihak yang tak memahami ajaran Islam agar tidak sembarangan berbicara atau menyinggung Islam, terlebih demi kepentingan politik. "Tanda akhir zaman itu orang bodoh memberi fatwa dan orang ruwaibidhah (dungu) bicara masalah-masalah besar keislaman dan kebangsaan," katanya.

Bukan hanya PSI yang menyuarakan kebencian terhadap ajaran Islam. Ada pula aturan Mendagri  -yang berasal dari parpol pemenang pemilu 2014- yang mewajibkan pegawainya untuk memasukkan kerudung dalam kerah baju.

Peraturan tersebut tercantum dalam Instruksi Mendagri Tjahjo Kumolo Nomor 325/10770/SJ Tahun 2018 tentang Penggunaan Pakaian Dinas dan Kerapihan Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Kemendagri dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan. Meski akhirnya peraturan itu dicabut sendiri oleh Mendagri setelah riuhnya arus penolakan, tak urung kebijakan tersebut makin mengokohkan citra kubu parpol petahana yang anti Islam. 

Bagaimana tidak, jika aturan itu lancang menggugat Al Qur’an surat An Nuur ayat 31 yang memerintahkan muslimah untuk mengulurkan kerudung ke dadanya, bukan memasukkannya dalam krah baju. 

Islamofobia, Industri Kebencian
Kebencian atas Islam berawal dari ketakutan Barat bahwa Islam akan kembali menunjukkan supremasinya sebagai bangsa adidaya. Kedengkian yang terus menerus dipelihara sepanjang sejarah peradaban.

Gerakan kebencian itu memunculkan paham Orientalis yang muncul setelah perang Salib. Tak bisa dipungkiri jika kemunculan Orientalisme didasari motif politik dan ideologi.

Pelakunya, para orientalis, justru menjadikan tsaqofah Islam yang buku-bukunya mereka jarah saat perang Salib, sebagai obyek untuk melakukan distorsi terhadap Islam. Tujuannya, agar menimbulkan image negatif terhadap Islam, baik dari para masyarakat Barat sendiri maupun masyarakat Timur yang tidak beragama Islam.

Lambat laun, paham yang diawali kritik terhadap ajaran Islam, kian berkembang menjadi kecaman dan serangan terhadap Islam. Kaum Orientalis sengaja kerap memutarbalikkan kebenaran.

Tuduhan yang terus menerus dipelihara dan disebarluaskan seperti, Islam adalah agama kekerasan yang disebarkan lewat darah dan pedang. Atau, karena Islam memubahkan poligami, maka Islam dianggap sebagai agama pemuasan nafsu saja.

Paham itulah yang menjadi embrio Islamofobia. Islamofobia kian berkembang pesat sejak peristiwa 9/11, yang dianggap sebagai perang Salib di era modern. Di era kekinian, framing Islam dijabarkan sebagai ajaran ekslusif, statis, inferior terhadap Barat, barbar, irasional, diskriminatif terhadap  perempuan, pro kekerasan dan mendukung terorisme.

Framing tersebut dideraskan para pembenci Islam yang dipelopori oleh kaum sekuleris Barat antek Negara-negara Kapitalis.

Betapa masif penderasannya, hingga Islamofobia disebut sebagai industri yang memproduksi keben-cian dan ketakutan terhadap Islam dan muslim berbasis framing. Akibatnya, narasi yang beredar, sesungguhnya adalah fabricated issue yang disebarkan sesuai permintaan pasar, sebagaimana lontaran isu poligami dan perda syariah.

Tak berlebihan jika Islamofobia disebut industri, karena sebuah lembaga di AS, Southern Poverty Law Center melaporkan pada tahun 2016 saja, ada 101 organisasi yang mencurahkan diri untuk menyebarkan informasi yang salah dan bias tentang Islam dan muslim. Penyebarluasan isu itu dibantu media besar seperti Washington Times, National Review, Savage Nation dan sebagainya.

Untuk menjalankan industri ini, mereka disumbang ratusan juta USD oleh anti-Muslim foundations. 

Hal ini mengingatkan umat, bahwa mayoritas media mainstream di Indonesia –baik cetak, elekronik maupun digital- berada dalam industri serupa. Betapa kompak mereka ketika tidak mempublikasikan peristiwa besar dan bersejarah Reuni 212 tahun 2018, hanya karena menguntungkan Islam dan kaum muslimin.

Gerakan Islamofobia memang niscaya terjadi sebagaimana peringatan Allah SWT,  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.

Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” (QS Ali Imron ayat 118).

Untuk menghentikan fabricated issue Islamofobia, kita harus melihat : siapa sutradaranya. Kalau ini arus global, yang dijadikan strategi negara nomor satu, AS, untuk menghalangi 'New World Order', Khilafah Islamiyah, cara menghentikannya hanya satu : 

wujudkan kekuatan tandingan yang setara. Negara versus negara.  AS versus Khilafah Islamiyyah 'alaa minhajin nubuwwah.

Karena pada realitasnya, AS sanggup men-drive dunia, dengan kekuatan dana, entitas termasuk agen-agennya di dunia Islam untuk melanggengkan industri Islamofobia. Masalahnya cuma satu: dunia Islam semua terjangkit wahn.

Hubbud dunya wa karohiyatul maut. Cinta mati pada kekuasaan dan kenikmatan dunia, tak takut akhirat, sehingga amat mesra dengan kafir dan perilaku kekafiran. Sehingga tugas kita harus bersegera terlibat dalam aktifitas penegakan Khilafah untuk hentikan segala jarimah, perbuatan kriminal, termasuk kriminalitas dalam penyebaran Islamofobia.

Islamofobia juga menjangkiti penguasa di negri muslim dan parpol-parpol 'Islam'. Mengapa? Karena ini arus global yang dideraskan dan menjadi opini global. Karakter dasar manusia itu berjamaah, tidak PD bila harus menyendiri. Inilah yang diopinikan.

Islam politik yang menerima semua penerapan syariat Islam tanpa reserve, belum menjadi kesadaran umum, karena umat Islam terlanjur dibesarkan dalam suasana sekuler : hanya laksanakan Islam ritual, tapi tidak setuju dengan Islam Politik.

Akibatnya mereka tidak paham bahwa ternyata Khilafah juga ajaran Islam, belum mau menerima jihad, tidak tahu apa itu jizyah, khoroj, qishosh. Wajar jika poligami, aturan menutup aurat, infishol (tidak bercampur baur) laki-laki-perempuan belum bisa mereka terima.

Fatalnya, kebutaan terhadap Islam membuat mereka turut menyebarluaskan 'kebencian' terhadap sebagian syariat yang mereka nilai 'kontroversial' itu. Di antara mereka banyak yang menjadi kader, anggota bahkan pembesar partai 'Islam'. Di pihak penguasa muslim, lebih bnyak lagi.

Dengan dalih 'melindungi' Islam, mereka munculkan kebencian terhadap syariat. Seperti pernyataan " poligami menyebabkan KDRT, perceraian. Tapi ada ayat lain yang mengunci, laki-laki tidak akan bisa adil secara kualitatif dan perasaan. Jadi logikanya, jangan poligami.."

Mengapa tidak dijelaskan bila poligami perkara mubah? Dan bila terjadi kemaksiatan seperti KDRT itu karena ada syariat lain yang tidak dijalankan?

Mereka tidak bisa mengungkapkan dengan lugas karena sudah tersandera pemikiran 'tidak semua syariat Islam bisa diterapkan'. Jadi sekali lagi, virus Islamofobia juga menjangkiti individu-individu tertentu di parpol berbasis Islam dan penguasa muslim karena sekularisme yang mendominasi pemahaman mereka, sehingga mereka tidak segan memisahkan Islam dari praktik politik mereka.

Tidak akan berhenti tipu daya, manuver politik yang akan dilakukan kaum kafir dengan meminjam tangan para pembenci Islam –baik muslim maupun bukan- untuk menyudutkan Islam. Karena itu, tak ada gerakan yang paling tepat untuk menghadapi Islamofobia kecuali :

LAWAN...Lawan Islamofobia dengan dakwah, gerakan sistematis yang mencerahkan dan tanpa kekerasan.

Dakwah tentang konsekuensi iman kita sebagai muslim yang harus tunduk patuh terikat pada seluruh syariat, baik yang kita sukai maupun tidak. Karena kita sebagai manusia tidak mengetahui apa-apa, sehingga benci dan suka kita atas aturan Allah sering disetir nafsu belaka (Al Baqoroh ayat 216).

Oleh sebab itu, dakwah harus menjadi sarana efektif untuk melawan narasi yang dihembuskan dan disebarluaskan para pembenci Islam di berbagai forum, artikel atau sarana lainnya. Setiap komponen umat harus bahu membahu melawan Islamofobia, hingga kemenangan itu benar-benar datang.

Pahamkan para pembenci Islam, baik muslim maupun bukan tentang ajaran Islam yang penuh rahmat.

Ajaran yang menjadikan manusia kembali pada fitrahnya untuk menjalankan kehidupan yang penuh harmoni dan bermartabat. Sehingga pada saat itulah terbukti bahwa semua tuduhan keji dan jahat terhadap Islam tak pernah terjadi,  sehingga kaum pembenci Islam putus asa akan segala makarnya.

“..Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah: 3).[MO/ge]

Posting Komentar