Oleh : Rizkya Amaroddini
(Mahasiswi STEI Hamfara)

Mediaoposisi.com-Reuni 212 tidak sekedar menjadi ajang pertemuan para alumni, pasalnya mereka yang hadir di acara tersebut sebagai mujahid dan mujahidah yang membela kalimat Tauhid. Setelah pembakaran panji Rosulullah, umat geram akan tindakan banser sehingga memunculkan kesadaran umat untuk membela panji Rosulullah sebagai bendera milik umat.

Pada aksi bela tauhid di beberapa titik kota, yang di hadiri oleh Ustadz Ismail Yusanto sebagai salah satu pembicara mengungkapkan kepada para peserta aksi untuk “Angkatlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia” namun sungguh mengejutkan, umat yang hadir di sana tidak ada satu pun yang mengangkat bendera tersebut.

Justru saat pengubahan kalimat menjadi “Angkatlah bendera Umat Islam” seketika para peserta aksi bela tauhid pun mengangkat panji-panji Rosulullah, mereka mengibarkan Al-Liwa’ dan Ar-Royah setinggi-tingginya sebagai wujud kebanggaan mereka terhadap panji Rosulullah. Dari kejadian tersebut membuktikan bahwa umat sadar bahwa mereka rela berkorban apapun demi membela kalimat tauhid.

Hal itu di lakukan pula saat Aksi 212, keputusan tidak adil dari pemerintah membuat umat murka karena pembakaran bendera tauhid bukan sekedar hal yang biasa, namun hukuman yang di berikan hanya penjara selama 10 hari dan denda 2000 rupiah, seolah-olah pemerintah pro dengan tindakan pelecehan Agama Islam.

Apakah kebijakan tersebut sudah mampu menyelesaikan persoalan ? justru dengan kebijakan seperti itu mereka yang anti islam dengan mudah melecehkan Agama Islam. Solusi seperti apa yang dapat mengatasi hal itu, karena kita telaah banyak yang melecehkan Agama Islam. Apakah ada kesalahan dari pihak pejabat-pejabat ? 

Faktanya para pejabat pun memiliki periode pergantian dengan pejabat yang baru, kebijakan-kebijakan yang mereka keluarkan pun berbeda-beda. Namun bagaimana bisa hal itu terus berulang tiada henti. Tidak hanya persoalan pelecehan Agama namun kebijakan-kebijakan yang di keluarkan untuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, dll.

justru tetap menjadikan kesengsaraan bagi rakyat dan tidak ada ketegasan dalam memutuskan kebijakan untuk orang-orang yang melakukan pelecehan Agama. Jika kita menelusuri lebih dalam maka kita akan mendapati bahwa kerusakan berada pada sistem.

Umat tidak memerlukan beberapa pergantian pejabat jika akar pokok masalah berada pada sistem yang mereka anut. Akar pokok masalah bisa teratasi jika Indonesa tidak mengadobsi ideologi  Kapitalisme atau Sosialisme. Lantas ideologi seperti apa yang mampu memberikan solusi bagi Negeri ini.

3 ideologi yang di akui oleh dunia yakni ideologi kapitalisme, sosialisme dan Islam. Ideologi inilah yang akan menjadi mercusuar pandangan hidup seseorang. Ideologi yang mampu melahirkan seperangkat peraturan bagi penganutnya, yang akan mengarahkan dan menyelesaikan problematika. Namun dari ketiga ideologi tersebut, manakah yang mampu memberikan solusi kebangkitan hakiki bagi Negeri ini. Faktor penentu kebangkitan berada pada peradaban yang ada di masyarakat.

Dalam satu masterpiece dari Dr. Mohammad Al-Qashshs dalam kitab Usus al- Nahdlah al-Raasyidah (Pondasi Kebangkitan) mengungkapkan “Faktor yang menentukan bangkit dan mundurnya suatu masyarakat adalah perdaban yang di miliki masyarakat tersebut. Jika peradabannya tinggi, niscaya msyarakat di situ akan bangkit.

Jika peradabannya mundur, mereka tidak akan pernah mengetahui kebangkitan. Ketika kita membicarakan peradaban yang ada di tengah-tengah masyaakat, berarti kita sedang membicarakan jalan hidup (way of life), pola perilaku, dan pola hubungan yang menjadikan sebuah masyarakat memiliki kekhasan.”

Berdasarkan penelitian secara jernih dan mendalam membuktikan bahwa hanya ada atu ideologi yang mampu membawa kemaslakhatan bagi umat yakni ideologi Islam, sedangkan ideologi kapitalisme dan sosialisme terbukti gagal dalam mewujudkan kebangkitan yang hakiki.

Kapitalisme-sekulerisme menciptakan kehancuran dengan cara mengeksploitasi manusia dengan manusia yang lain, mereka dapat hidup di atas penderitaan manusia yang lain, pemisahan Agama dari kehidupan, kebebasan dalam kepemilikan hanya tertuju pada individu tertentu. Sosialisme-komunisme menciptakan peradaban yang menganggap manusia sama dengan mesin, ideologi ini menggiring penganutnya untuk tidak mempercayai eksistensi Tuhan, menyebarkan berbagai fitnah antar manusia, serta menjerumuskan manusia ke dalam pandangan hidup yang aneh dan sesat.

Kapitalisme dan sosialisme sangat bertentangan dengan ‘Aqidah dan Syariah Islamiyyah yang tidak mampu menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan holistic. Kemajuan yang terjadi di negara-negara yang menganut ideologi tersebut sebenarnya hanya kemajuan yang semu. Kemajuan mereka di landasi penindasan, kesenjangan pendapatan serta tercabutnya nilai-nilai kemanusiaan.

Adapaun Islam adalah ideologi yang shahih (benar) yang bersumber dari Al-Khaliq Al-Mudabbir yang mampu memuaskan akal manusia tanpa kedoktrinan, sesuai fitrah manusia, dan terbukti mampu menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan holistic. Hal ini tidak akan terwujud jika sistem yang di adobsi Indonesia adalah demokrasi yang masih mengadobsi ideologi kapitalisme dan sosialisme, semua itu perlu di rubah dengan (al-hadlarah al-Islamiyyah).

Peradaban Islam hanya bisa terwujud dengan penerapan Islam secara kaffah dan menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia melalui kekuasaan Islam sesuai tuntunan Rosulullah yakni Khilafah Islamiyyah. Penegakan Khilafah tidak akan terwujud jika bercampur dengan sistem kapitalisme atau sosialisme, sistem itu terwujud jika penerapan di adobsi dari ideologi Islam.

Sekalipun Timur tengah menerapkan hukum-hukum Islam namun tidak secara keseluruhan, perubahan di Negara Timur Tengah telah gagal membangkitkan kesadaran umat secara hakiki. Sehingga di butuhkan institusi Daulah atau Negara yang menerapkan Islam secara kaffah dengan penerapan Khilafah Islamiyyah ‘ala minhaj an-nubbuwah.[MO/ge]

Posting Komentar