Oleh: Ulia Niati

Mediaoposisi.com- Dewasa ini kaum muslim memadankan kata toleransi pada kata tasamuh yang artinya sikap, membiarkan (menghargai). Toleransi secara bahasa berasal dari kata tolerance. Maknanya adalah “To Endure With Out Protest” yang artinya menahan perasaan tanpa protes. Menurut Webster’s New American Dictionary, toleransi adalah memberikan kebebasan dan berlaku sabar dalam menghadapi orang lain.

Kata tolerance tersebut diadopsi ke bahasa indonesia menjadi toleransi, berasal dari kata toleran yang mengandung arti; bersikap atau bersifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda atau yang bertentangan dengan pendiriannya bersadasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Sehingga toleransi dapat dikatakan suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar perorangan baik dalam masyarakat ataupun dalam lingkupan lainnya. Sikap toleransi menghindarkan terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Intoleransi disematkan untuk islam
Intoleransi (ketidaktoleran) sering diartikan dan dikaitkan dengan tindakan ekstrim yang dilakukan ataupn melibatkan umat islam. Sehingga muslim selalu menjadi kaum yang intoleransi, bahkan rendah adab bertoleransi antar penganut keyakinan yang lainnya, begitulah tudingan yang disematkan untuk islam.

Padahal dibalik tudingan tersebut ada suatu opini yang ingin disampaikan untuk membenarkan pandangan keliru dari kaum liberal yang mengatakan kekerasan didunia islam sering terjadi karna adanya “truth claim” dan “fanatisme”. Sehingga siasatpun diatur agar umat islam dapat bertoleransi terhadap keyakinan lain dan “truth claim” serta “fanatisme” harus dihapuskan di dunia islam dan agar tidak ada kekerasan.

Mereka lakukan dengan cara menyematkan kepada kaum muslim “meyakini keberadaan agama lain” sehingga kaum muslim menjadi ragu dengan identitasnya bagaimana seharusnya bersikap toleransi. Sehingga goyahlah dan keraguan menjadi meningkat padahal sejatinya hal tersebut sudah  mencampur adukkan akidah kaum muslim yang masuk dalam perangkap ide mereka.

Padahal Allah telah menyampaikan dalam Qs. Ali Imran: 19 yang artinya “Sungguh agama yang diakui disisi Allah hanyalah Islam”. Begitu jelas Allah sampaikan, jadi ini menjadi pegang kita sebagai seorang muslim meyakini agama satu-satunya yang diakui disisi Allah.

Presfektif Islam Mengenai Toleransi
Islam begitu toleransi terhadap agama lain dengan catatan tidak dalam hal ikut serta kepada akidah selain islam. Islam tidak pernah mengakui kebenaran serta keyakinan agama lain kecuali islam. Bahkan dapat dikatakan suatu kekufuran. Siapapun yang meyakini selain islam baik sebagian ataupun keseluruhan adalah kafir. Jelas islam begitu tegas, tidak akan pernah ada toleransi perkata ini dan begitu pula mengenai akidah dan hukum syariahnya.

Namun islam tidak melarang berinteraksi dengan non muslim seperti jual beli, kerjasama, tolong menolong, saling memberi bahkan bisnis dan sebagainya. Tentu banyak hal mubah yang dapat dilakukan dengan mereka, jangan menjadikan satu hal yang dapat menutupi banyak hal yang diperbolehkan.

Bahakan T.W. Arnold, pernah menuliskan dalam bukunya The Preaching of Islam, menyebutkan tentang perlakuan yang baik/toleran yang diterima non muslim yang hidup di bawah pemerintahan Khilafah Utsmaniyah.

Dia menyatakan, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen”.

Bahkan Arnold juga menuliskan, “Perlakuan pada warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman –selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani– telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.

Sungguh islam begitu toleransi tidak memandang ras, suku, warna kulit bahkan agama dalam peraturan yang diterapkan dalam islam, sungguh mulianya islam, penuh dengan ketoleransiannya.
Lihatlah sekarang tak kita temui yang demikian bahkan muslim baik minoritas maupun mayoritas selalu menjadi citra buruk untuk islam dan bidik panahnya pas fokus hanya mengenai islam. Nauzubillah. Kenapa harus islam yang melulu menjadi bidiknya?.

Padahal sudah tercatat di masa Daulah Islam dalam sejarahnya bahwa islam begitu toleran. Sungguh kita merindukan naungan demikian tanpa pandang bulu yang menjaga kedamaian yang hakiki berdasarkan syariat yang diturunkan oleh sang illahi.[MO/sr]

Posting Komentar