Oleh : Wida Aulia 

Mediaoposisi.com- Dunia Islam masih berada dalam tindakan ketidak adilan ketika umat Islam menjadi minoritas di sebuah wilayah. Rohingya di Myanmar belum sembuh dari derita, kini minoritas etnis muslim Uighur di China juga masih mengalami hal yang sama bahkan sekarang lebih mengenaskan. Mereka disiksa dan dipaksa meninggalkan Islam sebagai agamanya. Namun keadaan mereka tak membuat pemimpin negeri-negeri muslim di dunia bertindak untuk menolongnya. Termasuk pemimpin negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia yakni Indonesia,  juga diam tak bersuara.

Peneliti Kebijakan Luar Negeri dan Politik Asia Tenggara dari International Institute for Strategic Studies (ISS), Aaron Connelly, menganggap isu Uighur ini sensitif bagi publik Indonesia sehingga Jokowi tak bisa cepat bersuara.
Peneliti lembaga think thank Singapura itu menganggap Jokowi akan berpikir dua kali sebelum menyinggung China soal ini di depan publik, salah satunya karena kerja sama ekonomi terutama modal Beijing yang cukup besar tertanam di Indonesia.

Connelly menganggap Jokowi masih ingin menarik lebih banyak inisiatif China untuk bekerja sama dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Menurut Connelly, hal itu tak mungkin dilakukan jika China merasa tersinggung dengan Indonesia. ( CNN INDONESIA )

Inilah buah dari sistim kapitalis yang diterapkan oleh dunia saat ini termasuk Indonesia. Sehingga tak heran jika pemerintah lebih berpihak kepada pemilik modal ( kapital ). Kapitalisme hanya berorientasi pada keuntungan materi sehingga ketika melihat tidak ada keuntungan materi jika berpihak pada etnis minoritas muslim Uighur di China, maka pemerintah tidak akan berbuat apa -apa.

Ini juga bukti bahwa investasi adalah salah satu jalan penjajahan. Investasi telah membelenggu negara ini sehingga rezim pun bisu terhadap kekejaman China kepada muslim Uighur.   Karna investasi telah membuat negara ini lemah. Padahal investasi diberikan bukan dengan cuma-Cuma, tapi China juga memperoleh keuntungan. Lalu untuk apa negara ini berdaulat jika hanya untuk menanggapi hal seperti ini saja negara tidak kuat.

Akan berbeda jika dunia menerapkan sistim Islam, maka pemerintah menggunakan hukum syariat Islam untuk mengatur kehidupan bernegara. Bukan keuntungan materi yang dikejar tapi tuntutan akidah yang diutamakan. Dan dalam hal ini akidah menuntut kita sebagai muslim untuk peduli dan melindungi saudara seakidah yakni sesama muslim terutama yang sedang mengalami penindasan dan ketidak adilan.
Allah SWT berfirman:
"Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di Bumi dan kerusakan yang besar."
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 73)


Tidakkah berbagai bencana, kekacauan dan kerusakan yang melanda tanah air akhir – akhir ini menjadi peringatan bagi umat Islam terutama pemerintah. Masihkah rezim ini lebih memilih takut dan tunduk pada China hanya karna mereka sebagai investor yang meminjamkan segelintir dana. Sementara mereka lupa ada Allah yang maha kaya telah melimpahkan kekayaan sumber daya alam yang begitu besar luar biasa.

Ibarat hubungan bank dengan nasabah, maka Indonesia adalah sebagai nasabah yang memberikan keuntungan. Dan nasabah adalah raja. Jadi seharusnya pemerintah Indonesia bisa lebih menekan China untuk menghentikan penganiayaan mereka pada etnis muslim Uighur yang menjadi minoritas di China. Bukan hanya diam tak berbuat apa-apa. Tapi, apa mau dikata begitulah keadaannya. Semakin tampak kepada siapa rezim ini berpihak. Tanpa berpikir, cukup dengan melihat hal ini saja harusnya rakyat sudah bisa meraba. Bahwa rezim ini lemah dihadapan tuannya, China.

Berbagai kejahatan terhadap umat Islam di seluruh dunia ternyata tidak dapat diatasi oleh negara yang menganut sistim kapitalis sekuler. Sudah saatnya umat Islam untuk kembali menerapkan Islam dalam segala aspek kehidupan melalui institusi negara yakni Khilafah . Sehingga seluruh umat Islam didunia tidak terhalang oleh sekat negara bangsa untuk saling melindungi dan memberi pertolongan.

Posting Komentar