Oleh: Hana Annisa Afriliani,S.S
(Pemerhati Sosial)

Mediaoposisi.com-Isu intoleransi kembali merebak. Usai adanya rilis hasil survey yang dikeluarkan oleh Setara Institut yang menempatkan Jakarta sebagai kota Intoleran ke-3 setelah Jakarta. Kota-kota tersebut memiliki skor rendah dalam hal toleransi.

Direktur Riset Setara Institute Halili menjelaskan yang dimaksud kota toleran adalah kota yang memiliki beberapa atribut seperti regulasi pemerintah kota yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi dalam perencanaan dan pelaksanaan.

Atribut lainnya yaitu pernyataan dan tindakan aparatur pemerintah kota yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi, tingkat peristiwa dan tindakan pelanggaran kebebasan beragama rendah, dan kota itu dapat mengelola keberagaman identitas keagamaan. (cnnindonesia.com/07-12-2018)

Sangat disayangkan jika kemudian isu intoleransi ini diaruskan untuk menghadang penerapan syariat Islam. Sebagaimana kita ketahui bahwa Jakarta di beberapa tahun belakangan ini menjadi titik sentral berlangsungnya aksi keislaman yang fenomenal, mulai dari aksi 411, 212, dan terakhir reuni akbar 212 yang dihadiri oleh sekitar 13 juta kaum muslimin. Jakarta juga pernah menjadi tempat menggemanya opini "Tolak Pemimpin Kafir" pada dua tahun silam.

Tak hanya itu, selama masa kepemimpinan Anis Baswedan sebagai gubernur DKI Jakarta, banyak tempat-tempat mesum yang 'dibersihkan' salah satunya yang terkenal adalah Alexis. Lantas kemudian Jakarta ditempatkan sebagai kota intoleran. Sungguh hal ini seolah-olah memberikan judgment bahwa segala apa yang pernah terjadi di Jakarta merupakan "dosa" Jakarta sehingga layak dikatakan sebagai kota intoleran.

Begitupun Aceh, kota tersebut terkenal dengan perda syariahnya, berlaku juga sistem sanksi yang berdasarkan pada syariat Islam bagi para pelanggar syariat, seperti berzina, mencuri, dll. Lantas Aceh digolongkan sebagai kota intoleran.

Begitulah hakikatnya narasi toleransi yang sengaja diciptakan sebagai alat untuk menghadang syariat. Tak bisa dipungkiri bahwa siapapun yang bicara lantang soal penerapan syariat Islam pasti langsung dilabeli radikal dan intoleran.

Contohnya, soal opini masjid terpapar radikalisme, indikatornya adalah sikap penceramah terhadap pemimpin. Jika lantang menyerukan keharaman memilih pemimpin kafir, maka masjid tersebut terkategori terpapar radikalisme. Sungguh ironis! Padahal sangat jelas Islam melarang kaum muslimin untuk memilih pemimpin kafir. Jadi bukan soal toleran atau tidak toleran, tapi kepatuhan pada syariat.

Anehnya, jika Islam yang menjadi "korbannya", maka pelakunya tak lantas dilabeli intoleran. Sebaliknya justru dimaklumi bahkan dibiarkan. Contohnya setiap natal, semua karyawan toko yang bekerja diwajibkan untuk memakai atribut natal meski dia muslim. Jelas ini bentul intoleransi yang nyata! Karena dalam Islam, seorang muslim haram mengikuti budaya agama lain. Tasyabuh bil kuffar.

Jelaslah bahwa narasi intoleransi sejatinya hanyalah upaya orang-orang kafir dan antek-anteknyaa untuk menghadang kebangkitan Islam . Lewat narasi itulah kemudian, dimunculkan islamphobia. Sehingga kaum muslimnya sendiri akan takut dalam menampilkan wajah Islam yang apa adanya. Islam kaffah.[MO/ge]

Posting Komentar