Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Soal kejatuhan Jokowi, tidak bisa ditafsirkan secara persoanal individual. Tapi ini terkait rezim, klan politik, kekuasaan bisnis, sindicat asing, para kapital asing maupun aseng, para Bintang dan mantan Jenderal, kepentingan ideologi dan agama, satu geng besar yang berhimpun dibalik 'Koalisi Kerja'.

Kompensasi mendudukkan setiap klan atau individu dalam jabatan politik tertentu, direksi atau komisaris BUMN, Dirjen dan jabatan birokrat penting lainnya, konsesi Projek dan penguasaan SDA kepada para kapitalis asing maupun aseng, konsesi Projek infrastruktur, pastilah diberikan bukan tanpa pamrih. Mereka semua, harus berjibaku membela Jokowi. Sebab, kejatuhan Jokowi adalah kejatuhan mereka.

Jokowi gagal dua periode, berarti mereka juga gagal menikmati kue kekuasaan melalui konsesi yang selama ini telah mereka nikmati. Bahkan, mereka telah menyiapkan rencana untuk menikmati bangsa ini secara lebih 'dahsyat' lagi.

Karena itu, mereka harus setor peran. Peran hukum untuk memastikan politik hukum berjalan diatas kepentingan rezim. Peran jaringan, untuk memastikan stake holder mendukung rezim. Peran militer, untuk memadukan agar tentara tetap pasif dan Istiqomah menjadi satpam kekuasaan. Peran mantan Jenderal, agar tak memicu pergolakan di militer organik. Peran pemodal, memastikan ketercukupan logistik politik. Peran asing aseng, untuk membagi 'kavling jatah jajahan' di negeri muslim terbesar ini.

Karena itu, merobohkan Jokowi berarti harus mengangkat turut serta seluruh akar dan jaringan yang menopang rezim. Mereka, akan membela Jokowi laksana membela istri, anak dan keluarganya. Mereka, akan mengorbankan harta, pikiran, waktu dan tenaga, bahkan walau harus kehilangan sebagian tokoh-tokoh mereka, untuk memastikan kekuasaan Jokowi berlanjut.

Jika Jokowi roboh, berarti taruhannya jabatan mereka, posisi mereka, konsesi tambang SDA mereka, Projek-Projek mereka, kepentingan ideologi dan agama mereka, nasib dan masa depan mereka. Mereka, sudah sampai pada satu kesimpulan jika Jokowi kalah, maka itu berarti neraka bagi mereka.

Posisi mereka digeser, kasus hukum mereka diproses, Konsesi mereka diambil alih, sedangkan bagi pasukan nasi bungkus : tidak ada pesta lagi setelah Jokowi. Mereka, akan terkena imbas. Tidak ada lagi, gizi politik yang merembes kepada mereka, meskipun hanya berwujud nasi bungkus.

Karena itu, jelas ini pertarungan besar, ada geng Kurawa yang ingin terus mengangkangi negeri ini. Ada kumpulan preman politik yang tidak cakap mengelola negara, tapi kesombongannya sundul langit.

Ini sudah seperti perang paragrek, perang puputan, perang salib, jihad suci, bahkan ini sudah diujung 'ARMAGEDON'. Jika terjadi tsunami politik yang meluluhlantakkan bangunan klan Jokowi, maka itu sama saja kiamat bagi Jokowi n the gank.

Sekali lagi, ini bukan persoalan kecil, bukan perkara sepele. Ini perubahan besar, untuk memastikan rezim tercerabut dari akarnya. Saat itulah, pembalasan dimulai.

Setiap kezaliman wajib di Qisos, tidak menunggu di akherat tetapi didunia wajib segera ditunaikan. Anda bersenda gurau, jika menganggap kejatuhan rezim dapat ditempuh dengan modal 'cengengesan'. Ini serius Bung, ini persoalan antara 'the end' atau 'to began'. [MO/ge]]

Posting Komentar