Oleh : Ifa Mufida

Mediaoposisi.com-Berkembangnya industri media komersil di Indonesia  tidak dipungkiri memiliki potensi yang besar. Salah satunya adalah berkembangnya e-commerce yang cukup digandrungi oleh  masyarakat milenial.

Dalam bisnis komersil, berbagai cara dilakukan  demi meningkatkan rating penjualan, sehingga bisa mendapat  keuntungan yang besar dari konsumen. Salah satu upayanya, mereka harus  mampu memberikan cerita yang menarik di tiap-tiap channel-nya, terutama media sosial.

Industri media komersil  menawarkan berbagai iklan dengan daya tarik yang dikemas simpel, update, dan tahu persis selera para milenial. Untuk mendongkrak promosi, tak tanggung-tanggung, mereka sering menggunakan endorse artis baik dalam dan luar negeri untuk mendongkrak penjualan mereka. Salah satu industri e-commerce ternama, Shopee, telah menjadikan K-Pop girls Blackpink untuk meng-endorse sehingga menarik konsumen di kalangan milenial. Iklan blackpink shophee juga hadir di banyak channel televisi yang dimungkinkan anak-anak pun juga ikut menontonnya. Bahkan sering menjadi iklan di antara film kartun yang sering dilihat anak-anak.

Blackpink yang saat ini viral adalah salah satu contoh band terkenal yang berasal dari Korea. Pastinya ini melengkapi demam KPop yang melanda kebanyakan remaja saat ini. Dalam menyanyikan lagunya mereka rekat dengan baju mini, tarian yang eksotis yang bisa dimasukkan sebagai konten pornografi dan pornoaksi. Blackpink sendiri  telah memiliki banyak penggemar di tanah air yang disebut dengan Blink. Bahkan girlband tersebut akan menggelar konser pada 20 Januari 2019 mendatang di ICE (Indonesia Convention Exhibition) BSD Tangerang. Sebanyak 8000 tiket konser akan dijual secara online dengan kisaran harga mulai 1 juta hingga 2,5 juta rupiah. Hal tersebut diungkapkan oleh Publik Relation Manager tiket.com Metha Tri Rizka. (Tribunnews.com).

Adanya Iklan Blackpink ini akan semakin menyebarluaskan virus K-pop dan segala hal tentangnya kepada remaja. Generasi muda juga semakin terlena oleh berbagai hiburan yang dari hari ke hari semakin menggeliat.

Mereka lebih sibuk menyaksikan tontonan sejenis konser musik yang banyak mempertontonkan aurat didepan umum beserta tarian yang gerakannya bisa mengundang naluri seks mereka. Lebih parah lagi, generasi kita justru merasa bangga saat mampu menirukan konten-konten tersebut. Remaja juga  semakin nyaman dengan kehidupan konsumtif mengikuti gaya hidup artis idola mereka.  Mereka juga meleburkan diri mereka untuk mencari dan mengikuti segala seluk beluk kehidupan artis yang mereka idolakan. Hal ini akhirnya sangat berpengaruh terhadap corak kehidupan nyata mereka.

Adanya fakta tentang blackpink tersebut, akhirnya Iklan blackpink shophee menuai protes di berbagai pihak. Salah satunya, adalah petisi dengan judul “Hentikan Iklan Blackpink Shopee”. Petisi ini dibuat oleh Maimon Herawati untuk memprotes iklan tersebut. Petisi yang  banyak mendapat persetujuan melalui penandatanganan  tersebut intinya memberikan tekanan pada KPI melalui lembar pengaduan terhadap konten iklan yang berpotensi merusak masa depan generasi. Hal ini sebagai bentuk kekhawatiran terhadap  efek yang akan ditimbulkan dari tayangan blackpink.

Pasalnya iklan ini dengan gaya Kpop nya menonjolkan musik yang eksotis dengan tarian yang terbuka aurat dan ternyata saat ini sedang digandrungi oleh remaja milenial.

Media sosial harusnya menjadi alat yang bisa memberikan  edukasi yang bersifat positif. Namun di era sekuler ini, media sosial justru menjadi sarana untuk menawarkan gaya hidup hedonis dan tata kehidupan permissif di kalangan remaja. Generasi milenial saat ini juga sangat mudah mengakses seluruh konten digital tanpa ada hambatan. Terlebih, Industri e-commerce lebih mengutamakan agar konten yang mereka jual menjadi viral sehingga dapat meraup keuntungan yang banyak. Mereka pun tak pernah memikirkan dampak negatif yang akan berpengaruh terhadap remaja dan keberlangsungan generasi selanjutnya.

Rasanya tak berlebihan jika dikatakan bahwa hadirnya e-commerce saat ini di linimasa turut andil dalam  mengimpor budaya liberal yang merusak generasi. Dan bisa dipastikan akan semakin banyak remaja yang  dirusak oleh iklan ataupun tontonan yang sangat jauh dari ajaran Islam ini. Sedangkan gaya hidup  yang merusak ini menjadi pintu awal masuknya virus mematikan yang lain seperti seks bebas dan LGBT, sekaligus serentetan permasalahan lain yang mengikuti seperti hamil di luar nikah, married by accident, aborsi, tersebarnya berbagai penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS, dst. Jika arus kehidupan yang liberal ini tidak dibendung, bisa dipastikan kerusakan generasi ke generasi tidak bisa tertahankan lagi.

Fakta ini sudah selayaknya memantik kekhawatiran berbagai pihak. Di sisi lain, tidak dipungkiri  kemajuan teknologi memang membantu kita akan kemudahan dalam bertransaksi. Sayangnya, sistem sekuler liberalis tak berpikir mengenai dampak negatif yang ditimbulkan dari kemajuan teknologi ini. Pola pikir kapitalistik telah menumpulkan nalar agar ikut peduli pada generasi penerus bangsa. Keuntungan materi justru mengaburkan daya kritis mereka mengenai cost social yang harus dibayar bangsa ini akibat rusaknya generasi. Lalu apa yang seharusnya diupayakan dan diperjuangkan untuk mencegah kerusakan generasi ini?

Kemajuan Teknologi harusnya diikuti dengan adanya nilai-nilai luhur Islam di dalamnya, bukan justru membawa nilai yang merusak. Perkembangan teknologi seharusnya diiringi dengan adanya ketakwaan individu. Ketakwaan ini harus ada pada pelaku bisnis e-commerce sekaligus kental pada diri individu konsumen. Kontrol masyarakat juga harus berjalan untuk mengontrol berbagai materi yang disajikan linimasa. Petisi yang sebelumnya ada dimana  menolak iklan blackpink adalah sebagai salah satu contoh bentuk kontrol masyarakat. Ini harus terus dipupuk untuk bisa membendung arus liberal yang berkembang di tengah masyarakat. Namun kontrol masyarakat saja akan dirasa sulit jika tidak diikuti dengan kebijakan negara sebagai bentuk pengurusan terhadap rakyatnya.

Sudah selayaknya negara peduli dan menerapkan kebijakan preventif. Dengan adanya kebijakan ini, diharapkan tidak ada transaksi di masyarakat yang memanfaatkan sisi kecantikan, pornografi dan pornoaksi sebagai daya tarik dalam menjalankan bisnis. Di sisi lain, Negara harus bisa membentuk regulasi agar media bisa menjadi sarana edukasi untuk menancapkan keimanan kepada rakyatnya sekaligus sebagai sarana yang memberikan informasi IPTEK. Dengan demikian, perkembangan teknologi akan berjalan sebagaimana fungsinya yakni untuk mempermudah transaksi di masyarakat tanpa harus melanggar aturan yang telah ditetapkan Allah SWT.[MO/an]





Posting Komentar