Oleh: Mahrita Julia Hapsari, M.Pd
 Praktisi Pendidikan

Mediaoposisi.com-Bencana alam silih berganti menghampiri negeri tercinta ini. Berturut-turut dalam tahun ini telah terjadi bencana besar yang memakan banyak korban.

Dimulai dengan gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebanyak 515 orang menjadi korban tewas akibat gempa yang melanda wilayah NTB sejak 29 Juli 2018 hingga 19 Agustus 2018. Korban jiwa paling banyak terjadi pada saat gempa berkekuatan 7 skala richter mengguncang NTB pada tanggal 5 Agustus 2018, yaitu sebanyak 479 korban jiwa.

Tak berselang lama, tepatnya pada tanggal 28 September 2018, Sulawesi pun diguncang gempa dengan kekuatan 7,4 SR. Gempa yang besar itu juga terasa hingga ke Kalimantan Timur, utamanya kota Samarinda dan Balikpapan.

Kota Palu dan Donggala adalah dua kota terparah yang terdampak gempa. Alat deteksi dini tsunami sempat berbunyi namun kemudian mati.

Dikira keadaan sudah aman. Namun gelombang laut setinggi 7-15 meter menggulung apapun yang ada di daratan. Tak hanya gempa dan tsunami, terjadi pula likuifaksi yang mengerikan. Likuifaksi adalah proses ketika tanah kehilangan kepadatannya dan menelan apa saja yang ada di atasnya serta menguburnya.

Sungguh sangat mengerikan untuk dibayangkan. Multi bencana di Palu dan Donggala pun memakan korban tewas sebanyak 2.045 orang. Data tersebut berdasarkan data BNPB per-10 Oktober 2018 (wikipedia.org).

Duka kembali menyelimuti ibu pertiwi. Tak ada gempa, tetiba air pasang naik hingga ke daratan. Pada tanggal 22 Desember 2018, peristiwa tsunami yang disebabkan oleh letusan Anak Krakatau di Selat Sunda menghantam daerah pesisir Banten dan Lampung. Sedikitnya 429 orang tewas dan 1.485 terluka akibat peristiwa ini.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tsunami disebabkan pasang tinggi dan longsor bawah laut karena letusan gunung tersebut (wikipedia.org). Ini peristiwa yang tak biasa, karena biasanya tsunami terjadi setelah adanya gempa. Kali ini tak ada gempa, namun tsunami datang.

Mari mengamati dua peristiwa terakhir dari kacamata para ilmuwan. Kota Palu dan Donggala merupakan titik pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia.

Berada di tiga lempeng itu, maka Kita Palu dan Donggala sangat rawan gempa. Gempa yang terjadi di Palu dan Donggala adalah gempa dengan pola sesar.

Secara ilmu geologi, ada 3 jenis pergerakan lempeng bumi, yaitu konvergen, divergen, dan transformasi atau sesar. Konvergen adalah gerakan  saling bertabrakan  antar lempeng  bumi. Divergen, dimana lempeng saling berjauhan. Sedangkan transform atau sesar adalah gerakan lempeng bumi hanya saling bergeser.

Dengan magnitudo hanya 7,4 SR dan jenis gempa yang terjadi adalah transformasi atau sesar, maka kecil kemungkinan akan menimbulkan tsunami. Para ilmuwan luar negeri masih memberikan tanda tanya besar atas tsunami yang terjadi hingga 15 meter tersebut.

Para ilmuwan dalam negeri mencoba menjawabnya dengan beberapa kemungkinan. 

Diantaranya adalah adanya longsor di bawah laut, terjadinya patahan di tempat lain, dan adanya flower structure di dasar laut yang mengumpulkan air laut dan menimbulkan tsunami. Namun hipotesis-hipotesis tersebut hanya didasarkan satu bukti yaitu keruhnya air laut, artinya belum cukup kuat dan perlu  banyak hal yang harus diteliti.

Menengok tsunami yang terjadi di selat sunda yang baru saja terjadi, tanda tanya pun semakin besar. Pasalnya, tsunami terjadi tanpa diawali gempa.

Letusan gunung anak Krakatau adalah hal yang biasa, bahkan dijadikan objek wisata tersebab cahaya pijarnya yang mempesona. Kuat dugaan para ilmuwan, ada badan dari gunung Anak Krakatau yang runtuh dan meluncur keras ke dasar laut hingga menyebabkan tsunami.

Jika para ilmuwan mampu menjawab semua pertanyaan pasca bencana, semestinya ilmuwan pun memiliki kapasitas untuk memprediksi terjadinya bencana berdasarkan ilmunya. Sehingga bisa meminimalisir jumlah korban bencana dan kerugian material. Dan memang sebenarnya sudah ada penelitian dari para ilmuwan.

Seperti pada tahun 2012, sudah ada penelitian dan pemetaan tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya likuifaksi, termasuk Sulawesi (bbc.com, 2/10/2018).

Di April 2018, peneliti Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memprediksi terjadinya tsunami setinggi 57 meter di Pandeglang (okezone.com, 9/4/2018).

Apakah penelitian-penelitian tersebut dijadikan acuan pemerintah untuk menanggulangi bencana? Biar fakta yang berbicara. Di luar logika, polisi bermaksud melakukan proses hukum terhadap Badan Meteorologi Klimatologi dan geofisika (BMKG) dan BPPT. Alasannya adalah hasil penelitian itu dianggap meresahkan dan menghambat investasi (bbc.com, 9/4/2018).

Sampai pada alasan ini kita pun mengetahui isi otak penguasa dan penegak keadilan. Benar sekali, isinya hanyalah investasi, uang dan uang. Inilah otak kapitalis.

Ideologi kapitalisme telah membawa bencana ke negeri ini. Prediksi likuifaksi tak dipakai dan tetap terus membangun perumahan serta hotel bertingkat di Sulawesi. Hingga ketika bencana datang, korban pun tak terhitung. Peneliti dipidana dengan alasan meresahkan investor, hotel, resort dan tempat hiburan pinggir pantai pun tetap dibuka.

Hingga datanglah tsunami di selat sunda yang tak terdeteksi dan berjatuhanlah korban jiwa. Perseli-ngkuhan antara penguasa dan pengusaha dalam sistem kapitalisme telah membunuh rakyat jelata. Demikianlah sistem kapitalisme.

Satu lagi ciri khas ideologi kapitalisme adalah ambisinya untuk memisahkan agama dengan kehidu-pan. Ambisi ini mendaulat manusia layaknya Tuhan yang membuat aturan-aturan kehidupan. Padahal kelemahan dan keterbatasan akalnya menjadikan aturan yang dibuat tak pernah bisa menyelesaikan masalah, justru menambah masalah.

Ketidakinginan ideologi kapitalisme memakai agama dalam kehidupan, menihilkan agama dalam mengurus negara, telah membuat derita tanpa henti bagi kaum muslimin. Ideologi ini membuat kita tak bisa menjadi hamba yang beriman dan bertakwa. Inilah yang mengundang bencana laksana kiamat kecil seperti gempa dan tsunami.

Bencana kemanusiaan seperti kemiskinan, kelaparan, kebodohan, kriminalitas, seks bebas, serta LGBT pun siap memusnahkan spesies manusia.

Islam adalah satu-satunya agama sekaligus ideologi yang bersumber dari Sang Maha Pencipta. Paripurnanya aturan dalam ideologi Islam sangat layak dijadikan sebagai  sistem yang mengatur kehidupan manusia sebagai individu, masyarakat dan negara. Ideologi Islam pun menjamin ketakwaan seluruh manusia. Islam pun sangat layak untuk memimpin dunia.

Dan telah terbukti selama 14 abad Islam mampu memberikan rahmat bagi semesta alam, 2/3 dunia berada dalam naungan keberkahan Khilafah.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 96, yang artinya: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."

Posting Komentar