Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-HTI bukan kontestan politik, HTI hanya ormas Islam, bahkan BHP HTI telah dicabut secara zalim oleh Kemenkumham yang merupakan representasi rezim Jokowi.

Donasi Save Muslim Uighur

HTI tak memiliki ekspektasi dan hasyrat politik untuk mendudukkan kadernya dilingkaran kekuasaan, baik sebagai anggota DPR atau di kursi eksekutif. Tak ada terlintas misi menjadikan kader HTI sebagai salah satu kandidat menteri.

HTI bukan ancaman, baik bagi kubu petahana maupun kubu oposisi dalam aspek 'kapling' dan 'jatah' kekuasaan. Tak ada satupun partai atau politisi, khawatir kursi dapil politiknya dirampas HTI. Justru, kader partai baik partai penguasa atau oposisi, saling bermanuver dan saling serobot antar sesama caleg, sesama dapil dan tentunya sesama partai.

Namun bicara preferensi publik, pilihan politik umat, HTI sangat diperhitungkan baik dalam ajang pemilu maupun Pilpres. Jika ada kubu partai oposisi menyeru umat untuk tidak pilih Jokowi, mungkin umat masih mengabaikannya. Sebab, wajar saja oposisi ya tidak mungkin menyeru memilih capres yang diusung petahana.

Jika kubu petahana menyeru umat untuk tidak pilih Prabowo, mungkin umat masih mengabaikannya. Sebab, wajar saja petahana ya tidak mungkin menyeru memilih capres yang diusung oposisi.

Jika ada partai oposisi menyeru jangan memilih politisi dari koalisi partai petahana, wajar saja. Tidak mungkin partai oposisi menyeru umat memilih lawan politiknya sebagai petahana. Jika ada partai koalisi penguasa menyeru jangan memilih politisi dari koalisi partai oposisi, wajar saja. Tidak mungkin partai penguasa menyeru umat memilih lawan politiknya sebagai oposisi.

Bagaimana jika seruan itu berasal dari HTI ? Bagaimana jika HTI menyeru umat jangan pilih capres Jokowi ? Bagaimana jika HTI menyeru umat jangan pilih partai pendukung penista agama ? Apa konsekuensinya ?

Ini berbeda dengan seruan-seruan baik dari oposisi maupun petahana. Seruan HTI adalah seruan murni yang berdasarkan akidah Islam dan kepentingan kemaslahatan umat. HTI tidak menyeru dalam rangka agar kadernya menjadi anggota DPR atau menteri. HTI murni menyeru demi keselamatan umat dan negeri berpenduduk muslim ini.

Seruan HTI juga bukan seruan kosong yang hanya lantang di sosial media, tetapi mengakar di tengah massa. HTI kadernya memiliki jaringan yang mengakar ditengah-tengah umat. HTI memiliki kader yang mengampu berbagai pengajian dan ceramah agama, memiliki pengikut loyal yang akan menjalankan perintah dengan taat.

Anda bisa lihat kekuatan konsolidasi dan penetrasi politik HTI pada pengerahan jumlah masa Pada aksi demonstrasi dan sejumlah even yang diselenggarakan HTI. Bisa dikatakan, tidak ada partai atau ormas yang mampu menandingi HTI dalam hal pengerahan masa.

Sebentar, jangan hanya melihat HTI didunia nyata. Kader HTI didunia maya tak kalah militan. Jagat tweeter bisa dibuat tranding topik untuk isu-isu yang digawangi HTI. Pada saat sidang PTUN HTI menjelang putusan, bahkan HTI mampu mendudukkan beberapa tagar, bertengger dan bertahan lama sebagai tranding topik di jagat tweeter.

HTI juga memilik banyak kader yang mampu berlaga pada diskusi keumatan dengan perspektif Islam. Kader HTI tak pernah merasa kesemutan untuk berdiskusi tentang banyak isu dan banyak hal. Mereka telah memiliki bekal yang cukup untuk berselancar dalam lautan pemikiran dan diskusi.

Coba Anda bayangkan, kekuatan HTI itu digunakan untuk meminta umat tidak memilih capres tertentu dan partai tertentu. Haram memilih pemimpin ingkar janji, haram memilih pemimpin represif dan anti Islam, haram memilih partai pro penista agama. Anda bisa kalkulasi sendiri kekuatan HTI, dengan bercermin pada kasus Pilkada DKI Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Jadi, sesunggunya selain kekuatan partai, HTI telah mewujudkan dan menjadi pusat penentu hasil pemilu dan Pilpres 2019. Partai yang mengambil kebijakan menzalimi HTI, bersiap-siap mengunduh buah hasil dari kezalimannya. Partai yang membela HTI, bisa mendapat berkah dari setiap posisi dan manuver politik yang ditempuh HTI. Anda punya pendapat lain ? [MO/ge]

Posting Komentar