Oleh: Cici Aprisa
(Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com- Ibarat bola salju menggelinding semakin membesar, begitulah kasus HIV/AIDS  yang jumlahnya selalu meningkat dan melaju dengan begitu pesat. Meningkatnya jumlah penderita AIDS pada seluruh dunia  khususnya Indonesia telah sampai pada tingkat mengkhawatirkan, tidak hanya orang dewasa namun juga anak-anak.

Berdasarkan data yang diperoleh dari kementerian kesehatan periode januari hingga maret 2018 sedikitnya di Sumatera Barat sudah tercatat 10.376 kasus HIV yang mana 28 % diantaranya dari lelaki suka lelaki. Jika dari kelompok umur 29 persen diantaranya rata-rata penderita AIDS tertinggi ada di rentang umur 20 hingga 29 tahun kata konselor perhimpunan konselor VCT dan HIV AIDS Indonesia Sumbar Khaterina Welong dari rilis yang diterima.  (Viva.com selasa 14 april 2018).

Selain itu penyebaran kasus HIV/AIDS di padang pariaman semakin mengkhawatirkan, betapa tidak, dalam tentang waktu januari hingga April 2018 sudah ditemukan 12 kasus  kasus baru HIV/AIDS di padang pariaman. (kabarsumbar.com, 1/6-2018).

HIV/AIDS adalah penyakit menular yang tidak dapat disembuhkan. AIDS adalah kondisi terparah dari penyakit HIV. Namun fenomena HIV ini ibarat fenomena gunung es,  hanya segelintir kulit luar saja yang tampak, padahal banyak korbannya yang tidak diketahui.

Hal ini tentunya sangat memperihatinkan bagaimana tidak? Penyakit ini sangat mematikan, dan hingga saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan, sedangkan jumlah penderitanya selalu bertambah, tentu ini sangat mendesak untuk kita fikirkan bersama, bagaimana kasus HIV/AIDS ini untuk tidak terjadi lagi.

Penyebab HIV memang disebabkan oleh pergaulan bebas, penggunaan jarum suntik, aktivitas LGBT,  namun perlu kita kaji adalah apa yang menyebabkan pergaulan bebas dan tindakan-tindakan yang memicu terjadinya penyakit HIV/AIDS  itu bisa dengan begitu mudah dilakukan sehingga jumlah HIV AIDS selalu meningkat dan tak terbendung?

Terjadinnya seks bebas, perilaku LGBT, dan penggunaan narkoba sehingga menyebabkan meningkatnya jumlah penderita HIV AIDS adalah disebabkan sistem sekulerisme yang diterapkan hari ini, yang mana dalam sistem ini adalah sistem yang membebaskan manusia untuk berbuat sesuai kemauannya atas nama hak azazi manusia (HAM).

Ide HAM muncul dari sekulerisme barat yang memisahkan agama dalam urusan kehidupan yang sarat dengan ide kebebasan atau liberlisme. Karena ide-ide dasar HAM ini nilai-nilai liberal (hak-hak alamiah) maka liberalisasi politik, liberalisasi sosial, liberalisasi dalam berkeyakinan, liberalisasi ekonomi, liberalisasi ekonomi dan lain sebagainya pada akhirnya akan menjadi sebuah keniscayaan., sehingga Liberalisasi kehidupan sosial telah menghasilkan pola kehidupan tanpa aturan.

 Adanya kebebasan ini, maka nilai-nilai agama tak lagi dipedulikan, agama tak lagi digunakan untuk mengatur kehidupan. Sekulerisme telah menjadikan aturan agama berada di sudut pojok kehidupan  Kebebasan dan persamaan tersebut telah menebas  akal sehat. Menjadikan manusia bebas tanpa batas.

Dalam sistem ini yang serba bebas, yang telah lama diadopsi, kian menjelma dalam masyarakat. manusia bisa berbuat sekehendak hatinya, termasuk dalam pergaulan, antara laki-laki dan wanita tak lagi memiliki aturan, baik antara laki-laki dan perempuan, atau sesama jenis sekalipun, Manusia dalam sistem ini seakan hilang control diri.

Berbagai upaya telah dilakukan dalam mengatasi masalah HIV AIDS, mulai dari slogan-slogan anti HIV/AIDS, dan slogan tentang bahaya pergaulan bebas, juga dengan slogan sexs aman dengan menggunakan kondom,  dan lain sebagainya dilakukan oleh pemerintah, namun ternyata usaha ini tak membuahkan hasil, penderita HIV/AIDS selalu meningkat.

Alasan kenapa tidak berhasilnya solusi yang diberikan dalam menangkal penyebaran HIV/AIDS adalah disebabkan solusi yang diberikan tidak sesuai dengan akar permasalahannya, misalnya seperti  penggunaan kondom ketika melakukan hubungan seksual, justru ini akan sangat membahayakan, karena sama saja melegalkan sex bebas, dan  akan terjadi banyaknya kerusakan moral, dan juga akan menimbulkan polemik baru.

 Solusi yang diberikan seharusnya dicabut dari akarnya atau tindakan preventif (pencegahan), yang mana slogan yang sering kita dengar yaitu mencegah lebih baik daripada mengobati. Seharusnya  itulah yang dilakukan, mencegah dari akarnya agar HIV dan AIDS itu tidak terjadinya, bukan hanya dengan mencari cara-cara untuk  mengobatinya.

 Pengaturan tentang pergaulan pria dan wanita tersebut yang mana  melarang adanya hubungan bebas tersebut, menutup tempat-tempat yang memberikan pelayanan kepada prostitusi seksual, dan menutup pintu-pintu yang akan menuju kepada terjadinya hubungan seskual tesebut seperti, melarang antara laki-laki dan perempuan berdua-duan (pacaran), mengharamkan zina, dan menutup hal-hal yang akan memicu terjadinya terjadinya hubungan seksual tersebut seperti media-media yang berbau pornografi, pornoaksi, dan melarang aktivitas seks menyimpang, seperti LGBT tersebut. selain itu juga melakukan pemberantasan terhadap narkoba sampai ke akarnya, minum-minuman keras dan lain sebagainya yang akan memicu terjadinya HIV/AIDS.

Selain dari solusi itu maka perlu juga control dari keluarga terhadap anak-anaknya, dan juga control dari masyarakat agar tidak terjadinya pergaulan bebas dan praktek-prakteks maksiat dalam masyarakat. Selain itu juga tak kalah pentingnya adalah peranan negara, yang mana negara merupakan pengatur urusan umat, dan negara memiliki wewenang dalam mencegah terjadinya perilaku perilaku maksiat yang akan berdampak kepada HIV/AIDS.

Maka begitulah aturan yang diberikan oleh sang pencipta, tak ada yang lebih bagus dari aturaan yang diberikan sang pencipta. Sudah sepatutnya kita kembali kepada aturan sang pencipta.[MO/sr]

Posting Komentar