Oleh: Meilani Afifah
(Member Komunitas Muslimah Peduli Umat)

Mediaoposisi.com- 1 Desember menjadi momen bersejarah bagi hari Aids sedunia. Aids adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV. Virus menular paling mematikan di dunia yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya. Virus yang menjadi momok menakutkan sejak 1920-an ini hingga kini tak pernah berujung. Berbagai spekulasi asal mula munculnya virus ini terus menjadi perdebatan. Namun para ahli bersepakat bahwa virus ini berawal dari seks bebas.

Dilansir dari kompas.com (2/11/2018) sejumlah ahli dari universitas Oxford Inggris, mereka menemukan bahwa virus HIV berasal dari Kinshasa, ibukota Republik demokratik Kongo. Pada tahun 1920-an virus ini diduga kuat menyebar dari daerah tersebut. Penyebaran virus ini dibantu oleh pekerja seks.

Di Indonesia sendiri virus ini pertama kali ditemukan di Bali pada 1987. Diambil dari pusat data dan informasi kementerian kesehatan republik Indonesia (30/12/2016),  HIV Aids sudah menyebar di 407 dari 507 kabupaten/kota (80%) di seluruh provinsi di Indonesia. Dan jumlah ini terus meningkat setiap tahunnya.

Semakin maraknya perzinahan, seks bebas, penjualan kondom dan hubungan sesama jenis di Indonesia, semakin menjadi mimpi buruk untuk bisa melepaskan diri dari virus mematikan ini. Setiap hari ada saja kasus asusila berupa seks bebas baik di kalangan remaja maupun orang dewasa. Baru baru ini setidaknya kita dikejutkan dengan berita kehamilan 12 orang siswi SMP di Lampung. Fenomena yang mengerikan. Belum lagi kabar ditemukannya grup-grup LGBT kalangan remaja di media sosial, hal ini menambah pil pahit negeri kita.

Berbagai solusi yang sudah dilakukan pemerintah tidak menyentuh akar masalah. Justru yang terjadi malah menambah masalah. Buktinya akar masalah penyebaran virus HIV yaitu seks bebas malah semakin dipelihara dan dijaga eksistensinya.

Solusi Semu Kapitalisme
Dengan menggunakan rumus ABCDE sebagai solusi semu yang ditawarkan sistem kapitalisme saat ini tidak memiliki pengaruh apapun. Malah seperti bola salju yang semakin lama semakin membesar. Dengan semakin menguatnya gaya hidup hedonisme dan seks bebas yang  menjangkiti masyarakat saat ini maka semakin sulit untuk bisa memberikan solusi tuntas.

Stop diskriminasi dan stigmatisasi terhadap ODHA (orang yang positif terkena virus HIV) yang gencar dikampanyekan oleh pemerintah dan pegiat HAM, juga menambah masalah yang ada. Bagaimana mungkin orang yang sakit dan lemah bahkan menularkan penyakit mematikan dibiarkan menularkan penyakitnya kepada orang yang sehat.

Berbeda dengan Islam yang memiliki sistem yang komprehensif. Tidak hanya memberikan pencegahan namun juga bisa memberikan solusi tuntas masalah HIV Aids ini. Pergaulan bebas yang menjadi akar masalah penyebaran virus HIV dalam sistem Islam akan ditutup rapat.

Individu-individu yang bertaqwa menjadi pilar penting kehidupan, mereka menjalankan hukum-hukum Syara’ dengan penuh keikhlasan. Aturan Islam berupa larangan berkhalwat ( berdua-duaan dengan yang bukan mahramnya), larangan berikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya tanpa adanya keperluan), larangan tabaruj bagi wanita, wajib menggunakan jilbab dan kerudung bagi wanita pada saat keluar rumah, serta wajib menundukkan pandangan bagi laki-laki. Semua itu akan menciptakan masyarakat yang bersih dan sehat.

Negara sebagai pelaksana sistem Islam dan hukum-hukumnya juga akan memberikan sanksi yang tegas dan keras apabila individu masyarakat terbukti melakukan pelanggaran hukum Syara’. Misalnya bagi pelaku zina, bagi yang masih lajang akan diberikan sanksi berupa 100 cambukan. Dan bagi yang sudah menikah maka akan di rajam, dilempari batu hingga mati.

Bagi mereka yang terkena penyakit HIV Aids, jika terbukti sebagai pelaku zina maka akan diberikan had zina. Perlakuan khas juga diberlakukan bagi mereka yang bukan pelaku zina atau bagi yang sudah dikenakan had zina bagi yang belum menikah, yakni berupa pengobatan terbaik, negara akan berupaya keras menemukan penawar virus HIV Aids ini. Karena penyakit ini menular, maka mereka akan dikarantina dengan berbagai fasilitas terbaik. Selain itu mereka juga akan direcovery mental untuk bisa menatap hidup lebih sabar dan tawakal.

Begitulah cara Islam dalam mengatasi masalah HIV Aids. Namun semua itu hanya bisa terwujud jika Islam menjadi sistem bagi kehidupan dalam naungan khilafah. Wallahu a’lam bi as Showab.[MO/sr]

Posting Komentar