Oleh : Wida Aulia 

Mediaoposisi.com-Data PBB menunjukkan 3200 anak di Indonesia terjangkit HIV dengan penularan dari ibu. Penularan paling banyak adalah istri yang menjadi pemakai narkoba dengan suntik, para pengguna jasa pekerja seks komersial, istri para pria gay dan pria gay.

Donasi Save Muslim Uighur

 Dulu, asumsi kita bahwa  penderita HIV AIDS adalah orang dewasa yang mengenal seks bebas. Namun hari ini HIV AIDS juga telah menyerang para ibu yang kemudian mewariskannya pada anak-anaknya.

Anak-anak yang merupakan bibit generasi penerus peradaban. Sementara HIV AIDS adalah penyakit menular dan mematikan yang tidak dapat disembuhkan. Bayangkan!! Akan tumbuh generasi seperti apa jika bibitnya saja sudah rusak? Peradaban seperti apa yang bisa dibangun dari generasi yang lemah dan rusak.

Keluarga adalah benteng utama dalam mendidik anak-anak, dan ibu adalah gurunya. yang menanam-kan konsep pendidikan berakidah Islam akan melahirkan anak-anak yang bertakwa sehingga akan tercapai ketakwaan individu dari dalam keluarga. Namun, apakah ketakwaan individu ini sudah cukup untuk menghindarkan generasi kita dari ancaman HIV AIDS?? Ternyata tidak.

Pergaulan bebas yang menjadi titik awal tumbuhnya HIV sudah merajalela di masyarakat. Masyarakat abai dan tak peduli jika ada anggota masyarakat yang berbuat mesum/zina karna dianggap bukan urusan mereka. Bahkan terhadap pasangan zina yang menghasilkan anak justru dinikahkan.

Masyarakat juga tak peduli pada sekelompok anak muda yang minum minuman keras di lingkungan mereka, juga abai terhadap tempat-tempat maksiat yang tumbuh subur di masyarakat. Bahkan pelaku L68T diberi ruang dalam masyarakat.

Banyak waria yang justru dijadikan ikon hiburan baik di televisi maupun di kampung ketika ada acara karnaval peringatan hari kemerdekaan. Seolah perilaku menyimpang L68T itu dianggap sah dan wajar. Hal ini menunjukkan tingkat dekadensi moral yang sangat parah dalam masyarakat.

Tak adanya kontrol dari masyarakat tersebut diperparah dengan penanganan yang tidak tepat oleh negara dalam memberantas akar masalah berkembangnya HIV AIDS.

Negara bukan menghapus atau setidaknya mempersempit ruang seks bebas, tapi negara justru memperluas ruang gerak bagi pelaku seks bebas dengan melarang pernikahan dini ( membebaskan pacaran), memberikan kampanye seks sehat dengan memakai kondom, tidak memblokir situs-situs porno dan mempropagandakan tentang kewajiban masyarakat untuk merangkul para pelaku zina L68T dan penderita HIV AIDS.

Dimana seharusnya para penderita HIV AIDS dikarantina agar tidak dapat menularkan penyakitnya pada orang lain dan juga dibina aqidahnya agar bertaubat dan kemudian diberi perawatan medis.

Permasalahan terpaparnya anak-anak oleh HIV AIDS adalah masalah berantai yang dimulai dari diabaikannya satu masalah sehingga melahirkan masalah-masalah yang baru.

Berawal dari kebebasan (liberalisme) sehingga semua aktivitas di bolehkan atau diizinkan (Permis-ivisme) menimbulkan suburnya pergaulan bebas bahkan di kalangan anak-anak. Apa lagi yang bisa dipanen dari semua permasalahan tersebut selain  tingginya angka hamil diluar nikah, tingginya angka aborsi, tingginya angka perselingkuhan dan perceraian, tingginya angka pekerja seks komersial yang menyebabkan tingginya angka penderita HIV AIDS, tingginya angka pecandu narkoba dan tingginya angka kriminalitas.

Ketika HIV AIDS telah merusak generasi, masihkah ada harapan untuk masa depan negeri ini?
Allah SWT berfirman:

اَفَحُكْمَ  الْجَـاهِلِيَّةِ يَـبْغُوْنَ ۗ  وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّـقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?"(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 50)

Harapan itu adalah dengan mencampakkan sistem sekuler kemudian menerapkan hukum Allah yaitu Islam. Karena Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk masalah pergaulan dan masalah hukuman bagi pelaku zina agar pelaku jera dan yang lain tidak berani melakukan kesalahan yang serupa. Allah SWT berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَاۤ فَّةً   ۖ  وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ  ۗ  اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208)

Jadi, untuk memutus rantai masalah yang telah merusak generasi adalah dengan memperjuangkan diterapkannya aturan Islam secara menyeluruh dalam institusi negara. [MO/ge]

Posting Komentar