Reni Rosmawati
Member Akademi Menulis Kreatif

Mediaoposisi.com-Poligami, belakangan ini tengah menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah Masyarakat,

Donasi Save Muslim Uighur

setelah sebelum nya Komisioner Komisi Nasional (KOMNAS) perempuan Imam Nahe'i memberikan pernyataan yang menyebut, pihak yang menganggap praktik poligami merupakan sunnah adalah bentuk penodaan terhadap agama Islam, karena tidak ada dalam fiqih. Menurut Imam, boleh saja poligami tapi tidak naik sampai tingkat sunnah.

Imam pun secara terang-terangan, menyebut bahwa praktik poligami tak serta merta merupakan ajaran Islam. Sebab menurut nya, jauh sebelum agama Islam datang, praktik poligami sudah dilakukan sehingga pihak yang menganggap bahwa praktik poligami ajaran Islam adalah pemahaman yang keliru.

Selain itu, Islam menurut Imam tidak memerintahkan umatnya untuk melakukan poligami, tetapi memang ada aturan tentang itu. Imam Nahe'i menganggap poligami adalah kekerasan terhadap perempuan.

Bahkan Imam menyebut, pelaku poligami bisa dikenakan pidana. Sebab, menurut dia pada umum-nya, mereka yang melakukan pernikahan tidak dicatatkan biasanya adalah pernikahan kedua, ketiga.

Dalam peraturan tentang kekerasan terhadap perempuan pun, kata dia, poligami menjadi salah satu penyebab timbulnya kekerasan yang mengarah pada kekerasan fisik, psikis dan ekonomi.

Pernyataan Imam tersebut jelas saja mengundang reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat. Termasuk dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat, Anwar Abbas, menanggapi pernyataan Komisioner Komnas Perempuan Imam Nahe'i.

Poligami, kata Anwar adalah ajaran Islam. Ia pun menerangkan, Islam membolehkan poligami asal sang suami bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya. Tapi kalau takut tidak bisa berbuat adil, maka beristrilah dengan satu orang saja.

Lebih lanjut, Anwar menceritakan pada masa-masa awal Islam, Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khathab dan sahabat-sahabat yang lain punya istri lebih dari satu, kalau poligami bukan ajaran Islam, maka mereka kata Anwar telah keluar dari ketentuan ajaran Islam.

Masa Nabi Muhammad SAW yang membawa ajaran Islam keluar dari jalur dan ajaran agama yang beliau bawa sendiri. MUI pun menjelaskan bahwa poligami termasuk bagian dari ajaran Islam atau syariat Islam.

Pernyataan Anwar ini, dikuatkan oleh Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa'adi yang turut menjelaskan, bahwa banyak ditemukan dalil atau hujah baik di dalam Al-Qur'an maupun Al-Hadits yang membolehkan seorang Muslim melakukan poligami, meskipun demikian dalam praktiknya tidak mudah dilakukan oleh setiap orang karena ada beberapa persyaratan yang cukup berat.

Persyaratan  tersebut misalnya, jelas Zainut, pertama seorang pelaku poligami harus memiliki sikap adil diantara istri-istrinya. Kedua harus semakin meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Ketiga harus menjaga para istrinya, baik menjaga agama maupun kehormatannya. Keempat wajib mencukupi kebutuhan nafkah lahir dan bathin para istri dan keluarga nya.

Para Ulama pun berbeda pendapat soal poligami, kata dia setidaknya terbelah menjadi dua, pertama, kalangan Syafiiyah dan Hanbaliyah yang tampak menutup pintu poligami karena rawan dengan ketidak adilan sehingga keduanya tidak menganjurkan praktik poligami.

Sementara yang kedua kalangan Hanafiyah menyatakan kemubahan praktik poligami dan catatan calon pelakunya memastikan keadilan di antara sekian isterinya.

Menurut Zainut, saat ini beberapa negara Islam ada yang melarang poligami seperti di Maroko. Sementara sebagian besar negara Islam lainnya membolehkan poligami, termasuk di Mesir namun diatur dalam UU dengan persyaratan sang pria harus menyertakan slip gajinya.

Sedangkan di Indonesia sesuai dengan ketentuan UU NO 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Pasal 4 ayat (1), poligami dapat dilakukan dengan beberapa persyaratan antara lain mendapat izin dari pengadilan Agama yang di kuatkan oleh persetujuan dari Isteri/isteri-isterinya.

Reaksi keras terhadap pernyataan Komisioner Komnas Perempuan Imam Nahe'i ini, juga datang  dari Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Ahmad Helmy Faisal Zaini, yang menilai pernyataan Imam yang menyebut poligami bukan ajaran Islam, jelas tidak benar.

Di dalam Islam kata Helmy, seorang Muslim dibolehkan beristri, satu, dua, tiga atau empat, dengan catatan dia bisa berlaku adil. Komnas Perempuan, kata Helmy harus bisa membedakan ajaran Islam disatu sisi dengan kasus perilaku menyimpang dalam praktik poligami.

Menanggapi hal ini, wakil Ketua Komisi Dakwah MUI pusat, Fahmi Salim, MA mengatakan, Komnas Perempuan bukan lembaga Keulamaan apalagi lembaga Islam yang berhak menentukan sesuatu itu ajaran Islam atau bukan. Mereka bukan juru bicara atas nama Islam, statement mereka adalah pembajakan atas Islam.

Menurut Fahmi Salim, seharusnya yang benar itu, yang jelas bukan ajaran Islam itu adalah ; free sex, perselingkuhan, kumpul kebo, perzinahan, kawin kontrak (mut'ah), kawin sejenis, prostitusi anak dan prostitusi LGBT.

Dengan Intensnya tokoh-tokoh dan politisi menyinggung agama. Wakil ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah mengajak umat Islam semakin tak memilih partai yang bertentangan dengan Islam, dan mewaspadai lembaga yang menyuarakan paham sekularisme dan liberalisme karena kedua paham itu bertentangan dengan Islam dan haram hukumnya bagi umat Islam mengikuti paham-paham tersebut. Sesuai dengan fatwa MUI tahun 2005.

Agama Islam yang di syariatkan oleh Allah SWT dengan ilmu-Nya yang maha tinggi serta hikmah  dan ketentuan hukum-Nya yang sempurna aturan syariatnya dalam menjamin kemaslahan bagi umat Islam, serta membawa mereka meraih kebahagiaan hidup di dunia dan diakhirat.

Maka sudah sepatutnya umat Islam menerima dan menerapkan aturan-aturan yang telah diturunkan Allah SWT. Dan tidaklah patut bagi seorang Muslim baik laki-laki maupun perempuan, ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, mereka malah mencari-cari dalih (pembenaran) untuk mengingkarinya.

Di antara ciri-ciri utama seorang Muslim yang benar-benar beriman kepada Allah  SWT dan hari akhir adalah merasa ridho dan menerima dengan sepenuh hati ketentuan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

Tak terkecuali dalam hal ini, hukum Islam yang dirasakan tidak sesuai dengan kemauan/keinginan sebagian orang seperti poligami, yang dengan mengingkari atau membenci hukum Allah SWT tersebut, bisa menyebabkan pelakunya Murtad/keluar dari agama Islam.

Hukum asal poligami dalam Islam berkisar antara Ibahah (mubah/boleh dilakukan) atau Istihbaab (dianjurkan). Sebagaimana Firman Allah SWT ;

“Dan jika kamu takut tidak  akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan Yatim (bila kamu mengawininya).
Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. “(TQS. An-Nisaa:3).

Ayat diatas meskipun berbentuk perintah akan tetapi maknanya adalah larangan yaitu larangan menikahi lebih dari satu wanita jika di khawatirkan tidak dapat berbuat adil. 

Adapun Poligami (hukumnya) disunnahkan (dianjurkan) bagi yang mampu, karena dalam poligami ini terdapat kemaslahatan/kebaikan yang agung bagi kaum laki-laki maupun perempuan, bahkan bagi seluruh umat Islam.

Sebab, dengan poligami akan memudahkan bagi laki-laki maupun perempuan untuk menundukan pandangan, menjaga kemaluan (kesucian), memperbanyak jumlah keturunan dan memudahkan bagi laki-laki untuk memimpin beberapa orang wanita dan membimbing mereka kepada kebaikan serta menjaga mereka dari sebab-sebab keburukan dan penyimpangan.

Dari sini jelaslah, bahwa poligami adalah ajaran Islam bahkan terdapat kemaslahatan di dalamnya. Maka pernyataan yang mengatakan bahwa poligami bukan ajaran Islam merupakan kebohongan besar dan merupakan kelancangan yang tidak dibenarkan.

Nafsu sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) menyerang ajaran Islam melalui poligami. Poligami yang jelas-jelas adalah ajaran Islam, dianggap seolah hal yang mengerikan dan menganggapnya sebagai kekerasan terhadap perempuan.

Serangan terhadap ajaran Islam terus dilancarkan kaum sekuleris antek negara-negara Kapitalis, dengan tujuan menghilangkan sisa-sisa hukum Islam yang berpotensi memunculkan kebangkitan yang akan melawan hegemoni dan penjajahan mereka atas dunia.

Maka dengan dimunculkannya pernyataan bahwa poligami bukan ajaran Islam adalah tidak lain bentuk ketakutan rezim represif anti Islam yang tidak menginginkan Islam bangkit secara kaffah. Kondisi ini akan terus terjadi sepanjang umat Islam tidak memiliki kekuatan politik khilafah. 

Maka jalan satu-satunya adalah adalah mengembalikan kehidupan Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah, yang didalamnya sudah jelas nyata menjamin kemaslahatan bagi umat Islam serta membawa mereka meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Posting Komentar