Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Ajaib, jika ada sebagian kecil kalangan yang meminta Habib Bahar Bin Smith meminta maaf kepada Jokowi. Apa salahnya ? Menyebut 'Jokowi Presiden Banci' karena tak berani menemui ulama dan jutaan umat Islam yang datang ke istana, apalagi malah kabur membiarkan rakyatnya ditembaki aparat, bukanlah sebuah kesalahan. Kritik sarkasme, yang menurut kamus Nasrudin Joha biasa-biasa saja.

Kalaupun itu dianggap salah, Habib Bahar hanya membuat kesalahan kepada Jokowi. Sementara, Jokowi tak merasa dirinya dicemar, tak merasa dihinakan, tidak ada satupun laporan polisi yang dibuat Jokowi.

Kalau pun itu dianggap salah, kesalahan itu hanya merugikan Jokowi. Bandingkan dengan kesalahan Jokowi yang 'gagal' mengelola negeri ini. Tarif listrik naik nyaris 300 persen, kesalahan Jokowi mengelola energi listrik ini menyebabkan jutaan rakyat terzalimi karena naiknya tarif listrik. Gaji rakyat, nyaris habis hanya untuk membayar tagihan listrik. Apakah Jokowi pernah meminta maaf kepada rakyat ?

BBM di era Jokowi baik berkali lipat, ongkos transportasi naik, sehingga bisnis menjadi lesu. Biaya hidup ikut merangsek naik. Ada sekitar 200 juta orang terbebani akibat kebijakan zalim Jokowi yang menaikan harga BBM. Apakah Jokowi pernah meminta maaf kepada rakyat ?

Dana haji, dana BPJS kesehatan dan ketenagakerjaan, diembat untuk proyek infrastruktur. Sekarang proyek macet kehabisan duit, BPJS Nunggak ke RS dan industri farmasi, pasien RS Terbengkalai. Jamaah haji juga kecewa, karena dana yg ditabung untuk haji ternyata cedera akad digunakan untuk bangun jalan. Berapa juta orang ditelantarkan Jokowi ? Apakah Jokowi pernah meminta maaf kepada rakyat ?

Ulama dan habaib dikriminalisasi di zaman Jokowi. Ajaran Islam khilafah dipersoalkan, Papua membunuh 31 pekerja Istaka Karya cuma disuruh ngecek. Apa yang model begini tidak bikin rakyat kesel ? Apakah Jokowi pernah meminta maaf kepada rakyat ?

Saya tidak ridlo Habib Bahar minta maaf kepada Jokowi. Sebaliknya, Jokowi yang harus meminta maaf, bukan hanya kepada Habib Bahar tetapi kepada seluruh rakyat. Tiap hari masalah bangsa mendera, malah sibuk asyik bikin telenovela keluarga, bernarasi ingin mantu jadi kepala daerah. Tidak punya malu.

Jadi lanjut saja, mau kita lihat sampai batas apa kezaliman rezim ini, sampai dimana penindasan yang dipermaklumkan, sampai kapan rezim akan insyaf. Sederhana saja, dimanapun tidak ada satupun kekuasaan yang mampu menang melawan rakyat. Firaun saja tumbang.

Saya kira, ini persoalan umat bukan sekedar urusan Habib Bahar. Umat Islam, akan berada disamping kiri kanan, depan belakang sang Habib. Kita mau lihat, bisa apa rezim ini dengan wewenang dan seluruh alat kekuasaan yang dimilikinya.

Posisi Habib Bahar sudah cakep, tidak perlu mundur. Sedang rezim butuh pencitraan untuk menaikan elektabilitas. Berani bertindak lebih terhadap Habib Bahar, publik akan memberikan sanksi kolektif terhadap rezim.

Apalagi, bulan April itu sudah dekat. Salah langkah dalam urusan ini, rezim saya jamin akan menangis meraung-raung, menyesal dengan tindakan yang diambilnya. [MO/ge]

Posting Komentar