Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Lelucon apa lagi yang dipertontonkan penenggak hukum di negeri ini ? Abu janda, lolos. Ade Armando, lolos. Busukma, lolos. Fictor laiskodat, lolos. Cornelis, lolos. Giliran umat Islam, kenapa Habib Bahar enteng sekali dijerat ? Dijadikan tersangka, Pasal berlapis pula !

Janganlah, mentang-mentang berkuasa berlaku suka-suka, janganlah merasa digjaya mengumbar kuasa yang menghinakan nalar dan logika. Ini penegakan hukum model apa ? Terlalu jauh hukum dijadikan alat kekuasaan !

Sampai hari ini, ribuan penghina agama di jejaring sosial media dibiarkan. Hukum tak mampu menyentuh mereka, karena politik hukumnya justru melindungi penista agama. Tetapi jika ada yang kritik rezim, hukum segera bekerja.

Ya, kami marah. Sangat marah. Bagaimana mungkin kami ridlo dengan seluruh kezaliman yang tela-njang ini? Darimana alasan kami untuk ikhlas atas apa yang ditimpakan kepada putra-putra kami?Baiklah, jika nasehat tak mampu membuat insyaf maka biarlah hukuman yang memaksa rezim berhenti. Tidak, kami tdk mau beri kesempatan, kesalahan rezim berulang dan sudah sangat kelewatan.

Wahai umat, janganlah berdiam diri. Jika kita diam, rezim akan merangsek merobek-robek kemuliaan umat, dengan memburu ulama lainnya. Cukup sudah ! Cukup Habib Rizq, cukup Habib Bahar, Cukup Ust Alfian Tanjung, Cukup Gus Nur, Cukup Asma Dewi, Jonru, Buni Yani. Jangan biarkan rezim menambah deret nama putra umat yang dizalimi lagi.

Wahai umat, bahu membahulah. Selain persoalan rezim, ini juga soal sistem. Hukum warisan penjajah Belanda, yang menzalimi Habib Rizq, Habib Bahar, Ust Alfian Tanjung, Gus Nur, Asma Dewi, Jonru, Buni Yani. Jika syariah Islam yang diterapkan, maka tidak mungkin ada satupun pasal yang bisa digunakan untuk menjerat Habib Rizq, Habib Bahar, Ust Alfian Tanjung, Gus Nur, Asma Dewi, Jonru, Buni Yani.

Ganti rezim ganti sistem, ganti sistem kapitalisme sekuler ini dengan sistem Islam. Hanya dengan Islam, kemuliaan ulama dan putra terbaik umat dapat terlindungi. Ya, Habib Bahar harus menjadi pemantik api perlawanan, api perubahan. Rezim ini wajib dilawan dan dipersoalkan. Marahlah ! Marahlah ! Marahlah wahai umat Islam.

Jika seseorang dibuat marah, tetapi dua tidak marah, maka dia adalah keledai. Kemarahan ini bukan karena sosok, tapi karena Islam. Kasus Habib Rizq, Habib Bahar, Ust Alfian Tanjung, Gus Nur, Asma Dewi, Jonru, Buni Yani, membuktikan rezim ini represif dan anti Islam. Karena itu wahai umat, marahlah karena Islam. Marahlah, karena rezim ini terbukti represif dan anti Islam. [MO/ge]

Posting Komentar