Oleh: Sri Nopita Sari,
(Mahasiswa Univ. Indo Global Mandiri)

Mediaoposisi.com- Di hari guru yang bertepatan pada tanggal 25 November 2018 lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengucapkan "Selamat Hari Guru" untuk seluruh pendidik di Indonesia. Presiden juga mengapresiasi usaha para  guru yang telah memberikan ilmu serta memberikan bimbingan agar Indonesia bisa meningkatkan kualitas sumber daya yang ada (liputan6.com).

Sungguh, apresiasi itu hanya sekadar kata-kata manis dan tak sejalan dengan tugas Presiden Jokowi yang seharusnya menyejahterakan guru. Faktanya, tampak kesejahteraan guru yang tidak merata, terutama guru dengan status ‘honorer’. Data yang diambil dari Detik.com menyebutkan, per Juni 2018, tercatat jumlah guru secara nasional ada sekitar 3,017 juta orang. Perbandingan guru yang telah menjadi PNS dengan guru honorer baik negeri maupun swasta adalah 1 : 1. Data tersebut membuktikan bahwa masih terdapat banyak guru honorer yang tersebar di seluruh Indonesia yang seperti "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". Beberapa waktu lalu, para guru honorer yang berjumlah 70 ribu orang mendatangi istana untuk mengeluarkan apresiasi mereka, sekaligus menuntut kesejahteraan atas pengabdian mereka kepada bangsa. Namun aksi tersebut tidak mendapatkan respon dari pemimpin negara sedikitpun. Pemerintah menganggap telah berusaha dalam menyejahterakan para pendidik bangsa tersebut dengan solusi PNS, P3K, dan UMR. Namun nyatanya, solusi tersebut memiliki persyaratan dan proses yang rumit, serta memberatkan para guru honorer yang telah mengabdi bertahun-tahun. Di sistem pemerintahan sekarang ini, para guru benar-benar dijadikan pahlawan tanpa tanda jasa dengan tak diberikan jaminan kesejahteraan sebagai wujud apresiasi dan penghormatan kepada guru oleh negera. Hal tersebut merupakan kedzoliman terhadap para pendidik yang telah mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaga mereka demi mendidik anak-anak yang merupakan penerus generasi masa depan. Dalam sistem islam, para guru sangat diapresiasi sedemikian besar oleh negara. Terbukti dimasa kekhalifahan Umar Bin Khatthab, seorang guru setingkat TK diberi gaji 15 dinar emas per bulan (1 dinar=4,25 gr emas). Padahal pendidikan dengan sistem Islam tanpa biaya atau gratis, bahkan dengan fasilitas penunjang belajar yang berkualitas belajar-mengajar dan tempat pendidikan yang mudah diakses. Keberhasilan sistem islam dalam menyejahterakan guru dan umat telah melahirkan generasi yang mencetak para ilmuan-ilmuan muslim yang penemuannya dipakai hingga saat ini, contoh yang sering didengar adalah Al-Khawarizmi dan Ibnu Sina. Dengan sistem ekonomi islam yang menunjang di bidang pendidikan, tak heran jika kesejahteraan umat terjamin. Karenanya, hanya sistem yang bersumber dari Alquran, Sunnah, Ijma, dan Qiyas merupakan sistem yang sempurna, yang tak hanya memberikan kebaikan untuk manusia di dunia, tapi juga di akhirat.[MO/sr]


Posting Komentar