Oleh: Sri Hartati Daniel

Mediaoposisi.com- K-Pop seperti tidak ada habisnya diperbincangkan, mulai anak-anak, remaja, dan Orang tua tidak ketinggalan gosip tentang mereka. K-Popers, sebutan bagi penggila K-Pop, bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Bukan hanya di Indonesia, negara-negara Barat pun tak luput dari invasi Korean wave (demam Korea).

Demam Korea yang sedang melanda kaum muda di Indonesia tak pelak mempengaruhi gaya hidup mereka. Mulai dari style pakaian mereka, bahasa, makanan, dan tingkah lakunya pun banyak ditiru. Pergaulan bebas, hura-hura, perilaku konsumtif, di kalangan remaja semakin mengkuatirkan. Hedonisme menjadi cerminan generasi muda kita.

Wajah tampan dan cantik rupawan selalu siap menghipnotis kaum hawa, terutama kalangan remaja. Meskipun wajah rupawan idola mereka ini hasil bedah estetika atawa oplas (operasi plastik) tidak menyurutkan “kegilaan” mereka terhadap K-Pop.

Mengapa K-Pop ini sangat digemari? Bahkan pengagum K-Pop memiliki fanatisme yang tinggi. Termasuk di Indonesia, para fans ini bahkan tidak segan-segan membully pihak-pihak yang mengkritisi penampilan para K-Pop yang bisa merusak masa depan generasi.

Sebagaimana yang terjadi baru-baru ini seorang ibu, Maimon Herawati, yang dibully habis-habisan oleh K-Popers karena mengkritik iklan salah satu olshop besar di Indonesia yang menampilkan bintang K-Pop yang sedang digandrungi, Blackpink. Penampilan yang seronok menjadi kekuatiran ibu Maimon karena iklan tersebut muncul di sela-sela acara tontonan anak di TV hingga kemudian beliau mengajukan petisi “Hentikan Iklan Blackpink Shopee”.

Fanatisme terhadap K-Pop rupanya telah meminggirkan budaya Indonesia yang terkenal santun. Akhlak yang baik tidak lagi dikedepankan oleh generasi muda, bahkan nyaris tidak mengenal adab. Budaya malu tidak lagi menghiasi tingkah laku para remaja.

Budaya K-Pop bak mantra-mantra telah merasuki pemikiran para remaja. Budaya hura-hura atau having fun. Penampilan yang good looking, jago menari, dengan visual yang ditata secara apik di setiap acara panggungnya telah menyihir jutaan pasang mata kawula muda. Begitu juga di setiap drama-dramanya, kehidupan Borjuis, hedonis dan matrealistis di setiap alur cerita yang dikisahkan, perlahan namun pasti, telah menggeser pola pikir.

Korean wave adalah bahaya laten yang mengintai generasi Islam karena bisa mengikis akhlak dan memerosotkan akidah. Sikap tasyabbuh (meniru-niru) terhadap budaya, tingkah laku, dan gaya kehidupan yang serba bebas yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman telah mengancam kerusakan moral dan keimanan. Pelakunya bisa terjatuh dalam kemunafikan bahkan kekufuran.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. telah mengingatkan kita dalam sebuah hadits,
Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia termasuk mereka (kaum tersebut)” ( HR. Abu Dawud).
Menjadikan orang-orang kafir sebagai idola tidak dibenarkan dalam Islam. Karena biasanya apabila kita mengidolakan seseorang, dengan sendirinya, perlahan namun pasti kita akan mengikuti kebiasaan orang tersebut. Nah, ini yang dilarang, karena kebiasaan orang-orang kafir lebih banyak bertentangan dengan Islam.

Allah Ta'ala juga telah melarang untuk menjadikan mereka teman akrab, penolong, apalagi pemimpin. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu).” (QS: Al-Nisaa’. 144).

Hallyu atau Korean wave atau gelombang/demam Korea bukanlah hal sepele. Bukan hanya sekedar mengidolakan para artis K-Pop dengan musik dan dramanya. Atau mengikuti gaya berpakaian dan menggemari makanannya saja. Tetapi lebih dari itu, ada agenda terselubung yang hendak dipropagandakan.

K-Pop sejatinya adalah produk hegemoni Barat. Media Barat berperan penting dalam mempopulerkan artis Korea Selatan ini, dimana Korea Selatan adalah negara yang mengikuti gaya hidup Barat yang liberal.

Popularitas yang diskenariokan sedemikian rupa oleh Barat tentu saja ada maksud-maksud tertentu di dalamnya. Lihat saja disetiap penampilannya, membawa simbol-simbol kekufuran, kampanye LGBT, free sex termasuk misi terselubung yang diemban para K-Pop.

Celakanya, banyak dari remaja-remaja muslim yang terseret arus Korean wave. Tidak dipungkiri maraknya komunitas LGBT dan pergaulan bebas di kalangan remaja sudah sangat meresahkan.
Maraknya kasus-kasus amoral di kalangan generasi muda menjadi PR besar bagi para orang tua, masyarakat dan terutama negara dalam membentengi akidah umat terutama kalangan remaja yang masih rentan dan mudah terpengaruh.

Bagaimana Negara ini bisa maju dan berdaulat jika bibit-bibit generasi penerus peradaban telah diracuni sebelum tumbuh. Bukankah masa depan bangsa ada di tangan generasi muda?[MO/sr]

Posting Komentar