Oleh: Jahar Haiba

Mediaoposisi.com- Sukses Besar Reuni Akbar 212
Dua tahun yang lalu, Aksi Damai 212 takkan pernah terlupakan dalam memori kolektif umat Islam Indonesia. Sejarah mencatat, umat Islam yang tidak ridha Surah Al-Māi’dah ayat 51 dinistakan oleh Ahok. Aksi dalam jumlah besar ini didahului oleh aksi 411.

Momentum itu tetap diingat hingga tahun berikutnya diadakan reuni. Pada tahun kedua, reuni kembali dihelat. Jumlah massa yang hadir membludak berlipat-lipat. Ada beragam versi kisaran jumlah, mulai dari hitungan terkecil 40 ribu jiwa, 7 atau 8 juta, hingga terbesar 13,4 juta jiwa. Hitungan 40 ribu versi POLRI sungguh tak bisa diterima oleh akal sehat.  Sementara angka 13,4 juta jiwa diperoleh dari data dari jumlah IMEI telepon genggam peserta Reuni Akbar Mujahid 212 yang didapat dari MSC atau pusat operatornya masing-masing (Eramuslim.com diakses  06/12/18).

Untuk mengetahui jumlah peserta, menurut Fahmi Amhar, tinggal hitung saja area yang dicover manusia. Tetapi jangan hanya kawasan Monasnya. Hitung mulai dari 5 stasiun KRL terdekat (Gondangdia, Juanda, Senen, Sudirman dan Tanah Abang) beserta jalan-jalan di dalamnya. Di dalam area monas formasinya shaf shalat, jadi seorang cuma memerlukan space 0,7 m2. Kalau di jalanan, kadang berdesakan-desakan sampai 1 m2 diisi 9 orang, hingga ada yang pingsan. Menurutnya, kisaran yang wajar sekitar 3-5 juta orang.

Sedang tahun 2016 itu sekitar 1-2 juta orang.
Massa yang menyemut memutihkan jantung ibukota, berasal dari berbagai kota dan daerah. Bukan hanya dari Jawa. Namun, banyak yang datang dari luar Jawa, seperti dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Bahkan ada yang sengaja datang dari luar negeri seperti Malaysia, Australia dan beberapa negeri lain (Buletin Kaffah edisi 068). Reuni 212 tak hanya menjadi magnet bagi kaum Muslim, tapi juga dihadiri oleh kalangan non-Muslim. Bahkan panitia menyediakan spot khusus untuk mereka (Tribunnews.com, diakses 06/12/18). 

Mengapa Peserta Reuni 212 Jilid 2 Meningkat Berkali-Kali Lipat? 
Kehadiran para peserta dari berbagai penjuru Indonesia ini merupakan respons atas berbagai ketidakadilan hukum di negeri ini. Sebagaimana aksi 212 yang dipicu oleh ulah Ahok dan proses hukumnya yang terus berlarut-larut, Reuni 212 didahului oleh aksi 211 yang direspons dengan vonis hukum yang ‘lucu’ atas kasus pembakaran bendera Rasulullah (tauhid). Sebagaimana publik mafhum, pembakar bendera tauhid ini adalah anggota Banser yang memosisikan diri berada di sisi rezim.

Ust. Ismail Yusanto mengutarakan catatan mengenai Reuni 212 jilid 2 ini. Menurutnya, Kalau dibandingkan dengan Reuni 212 tahun lalu (2017), perbedaan paling mencolok adalah berkibarnya Alliwa dan Arrayah. Ini merupakan bentuk penegasan bahwa (bendera) itu adalah panji Rasulullah saw. sekaligus jawaban bagi yang masih mengatakan bahwa itu bukan bendera Rasulullah. Pertama, bendera ini merupakan simbol akidah kita. Kedua, sebagai simbol persatuan. Selama kita mengucapkan  lā ilāha illallāh, muḥammadur rasūlullāh, maka kita bersaudara. Ketiga, bendera ini merupakan simbol arah perjuangan kita.

Menurut Rico Marbun, Direkter Eksekutif Median, faktor yang pemicu peserta Reuni 212 makin meningkat adalah meningkatnya kelompok Islam politik, yaitu kelompok yang menginginkan agama Islam dijadikan nafas dalam perundang-undangan negara. Hal ini didasarkan pada hasil survei Median, kelompok Islam politik menguat mencapai lebih dari 52%, dan versi LSI mencapai  56%.

Amat disayangkan, umat yang menyemut memutihkan Monas dan kawasan sekitarnya tak mendapatkan apresiasi yang cukup baik dari pers Indonesia. Media televisi tanah air tiba-tiba kehilangan sinyal,  kecuali TV One.

Media cetak dan online pun nyaris serupa, kecuali Republika.  Bagaimana pun acara reuni akbar ini tetap mendunia dan mendapatkan apresiasi positif dari beberapa media luar negeri.  Reuni Akbar 212 menjadi headline dalam sejumlah media luar negeri seperti Anadolu Agency hingga Southeast Asia (Republika.co.id diakses 06/12/18). Dan masih banyak lagi media luar yang memberitakan acara Reuni Akbar 212 ini.

Reuni 212 ini merupakan kelanjutan spirit 212. Berkumpulnya jutaan umat di jantung ibu kota yang berlangsung tertib, damai, dan aman menunjukkan bahwa sungguh ukhuwah di bawah kalimat tauhid itu sangat megah, kukuh dan indah. Hal ini juga menjadi bukti bahwa persatuan umat Islam (ukhuwah Islamiyah) bukanlah perkara yang mustahil.

Merawat dan Membesarkan Spirit 212
Spirit 212 adalah pembelaan terhadap Islam. Selama  Islam belum ditegakkan secara total/sempurna (kaffah), penistaan terhadap Islam dengan ragam bentuknya, baik terhadap syariah, dakwah maupun simbol-simbolnya akan terus terjadi karena tidak adanya sanksi yang membuat jera para pelakunya. Berharap pada rezim yang abai terhadap penerapan syariah Islam, bahkan anti-Islam untuk menjaga Islam dari para penista sudah jelas tidak mendapatkan respon postif.

Buktinya saja, ketika Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 51 dinista, vonis 2 tahun penjara untuk Ahok menurut Yusril Ihza Mahendra cukup ringan. Faktanya memang vonis tersebut lebih ringan 2 tahun dari kasus penodaan agama (Tribunnews.com, diakses 06/12/18). Lebih konyol lagi, ketika bendera tauhid dibakar oleh sejumlah anggota Banser, vonis hukumannya sangat menyakiti hati umat Islam, hanya 10 hari penjara dan denda sebesar Rp2000 (detik.com, diakses 06/12/18).

Dalam ILC bertajuk Pascareuni 212: Menakar Elektabilitas Capres 2019, Fadli Zon mengatakan, Reuni 212 adalah sebuah pertemuan yang sangat beradab. Secara intelektual, ini adalah collective action dari komunitas yang mempunyai sebuah kesadaran yang dibungkus dengan spirit 212. Spirit 212 adalah semangat untuk mencari kebenaran dan keadilan, terutama keadilan hukum pada peristiwa penistaan agama. kemudian orang turun ke jalan untuk menyampaikan sikapnya. Kemudian Reuni 212 pertama dan kedua itu menunjukkan bahwa ketidakadilan itu masih ada, baik berupa ketidakadilah hukum, ekonomi, sosial, dll.

Oleh karena itu, perlu didakwahkan secara lebih masif lagi kepada umat bahwa hukum selain Islam tidak akan pernah berpihak pada Islam. Maka spirit 212 memang seharusnya semakin dibesarkan dengan mengopinikan bahwa hukum Islamlah satu-satunya solusi untuk menjaga keagungan dan kemuliaannya. Perlu adanya penguatan pada pemikiran umat bahwa menegakkan hukum Islam adalah harga mati.

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُصِيبَهُم بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

"Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan (hawa nafsu) mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Mā’idah [5]: 49 )"

Dakwah HTI
Jika umat mencari saluran untuk mengungkapkan mengungkapkan berbagai ketidakadilan dalam serangkaian Aksi Bela Islam, maka HTI pun yang oleh rezim dikriminalisasi begitu rupa kini telah berbaur dengan umat dalam saluran yang sama. Hal ini sesuatu yang alamiah, karena HTI adalah korban dari ketidakadilan rezim sekaligus salah satu elemen umat yang sangat diperhitungkan.

Ungkapan Dr. Ibnu C Ma'ruf cukup menarik. Dia menuliskan, Pemerintahlah yang telah melambungkan nama HTI dan meleburkan HTI dengan umat. HTI itu seperti air yang mengalir dari gunung menuju ke lautan lepas. Apapun yang dilalui, air tersebut akan terus mengalir hingga tujuannya tercapai. Air tersebut pada awalnya memang kecil, lalu mengalir dan bersama dengan sumber-sumber lainnya, ia akan membesar dan terus membesar secara alami (dakwah-bekasi.com, diakses 06/12/18).

Tidak ada yang bisa menafikan kontribusi dakwah HTI sebagai salah satu bagian dari elemen Umat Islam—tanpa mengesampingan peran berbagai ormas lain seperti FPI dan elemen umat Islam lainnya—dalam deretan aksi 411, 212, 211, dan juga Reuni 212. Umat sudah paham, bahwa yang mengenalkan kembali simbol Islam kepada umat, yakni Alliwa dan Arrayah adalah HTI. Sesuai dengan fokus dakwahnya, HTI telah berhasil mempengaruhi opini, wacana, dan dinamika politik Indonesia.

Dalam setiap perbincangan politik, meskipun tema yang dibahas adalah tentang demokrasi, namun HTI kerap disebut dalam perbincangan itu. Misalnya dalam Talkshow Rossi yang bertema #DewasaBerdemokrasi, HTI dan Khilafah malah menjadi topik panas perdebatan. Bahkan dalam ILC Pascareuni, lagi-lagi HTI dan Khilafah kembali disebut dan menjadi topik panas dalam diskusi.
Bernada sangat negatif, Boni Hargens menuding Reuni 212 adalah adalah politisasi identitas.

Dia mengatakan, yang hadir di situ (Reuni 212) mayoritas Hizbut Tahrir yang sudah dibubarkan dan juga ormas keagamaan. Menurutnya, wacana atau diskusi harus melampaui judul ILC malam ini, bukan perkara elektabilitas pemilu sebagai efek 212, tetapi masa depan Pancasila, UUD 1945, NKRI, setelah proses politisasi identitas ini.

Dia juga mengatakan, kita masuk pada substansi yang lebih besar, masa depan ideologi negara ini. Dia berkata, “Saya punya ketakutan, dengan proses politik yang didorong oleh kekuatan yang ingin mengganti dasar negara dengan konsep Khilafah, Indonesia tidak akan punya masa depan. Sekali mereka diberi ruang untuk menguasai Republik ini, di situlah kuburan negara ini mulai digali dan Indonesia selesai, mati.

Jauh sebelum Reuni 212 digelar, Jubir PA 212 mengapresiasi dakwah HTI dengan berkata, “Kalau itu bendera HTI lalu bagaimana dengan panji Rasulullah yaitu Arrayah dan Alliwa? Karena memang bendera itu kerap dibawa HTI dan seharusnya umat Islam berterima kasih.” Beliau mengatakan, dengan seringnya HTI mengibarkan

benderanya maka hal itu sama dengan menyiarkan panji Rasulullah yang suci (Jpnn.com, diakses 06/12/18). Berbagai apresiasi,  baik positif maupun negatif,  ini menandakan, dakwah HTI sangat diperhitungkan. Dakwah HTI sudah melampaui anggapan bahwa memperjuangkan khilafah adalah utopis.

Tantangan Dakwah 2019 
Menurut Ust. Ismail, salah satu penyebab penistaan agama terus berjalan adalah karena penguasa tidak berfungsi sebagai hirasatud dīn (pelindung agama).  Penguasa yang tidak mampu menjalankan fungsi tersebut membuat kita akan terus berkumpul seperti sekarang ini (Reuni 212). 

Apakah setelah Reuni 212, cukup berhenti sampai di sini? Beliau menuturkan, tentu tidak karena bendera tauhid itu mencerminkan keyakinan, persatuan dan arah perjuangan kita. Kita akan terus mempertahankan akidah kita sampai kita mati. Kedua, kita tidak akan berhenti sampai umat betul-betul bersatu. Dan kita tidak akan berhenti sampai perjuangan umat yang arahnya tegak kalimat tauhid itu betul-betul terwujud.

Ust. Rokhmat S. Labib, menuturkan, Ketika ukhuwah atas dasar akidah, lalu melenyapkan segala unsur pemecah belah dan menjelma menjadi benteng kukuh tanpa celah, siapa yang bisa mengalahkannya? Maka, kokohkanlah keimanan dan persatuan!

Lanjutkan perjuangan hingga Allah swt. memberikan pertolongan! beliau juga menuliskan, setelah umat ini bisa bersatu membela Al-Qur’an ketika dinistakan, maka lanjutkanlah dengan perjuangan menegakkan isi Al-Qur’an. Setelah umat ini bisa bersatu ketika bendera tauhid dihinakan, maka lanjutkan dengan perjuangan mewujudkan akidah tauhid dalam kehidupan, yaitu dengan menata kehidupan individu, masyarakat, dan negara dengan syariah secara kaffah dalam naungan khilafah. (mediaumat.news, diakses 06/12/18).

Kasus berbagai penistaan agama, ketidakadilan hukum, ketimpangan ekonomi yang terjadi di negeri ini adalah problem yang akan terus berulang selama problem utamanya tidak selesai.  Problem mendasarnya adalah tidak diterapkannya Islam dalam kehidupan bernegara.

Jika Pascareuni 212, sebagian kelompok umat Islam boleh jadi menggiring pada Pilpres 2019 (2019 Ganti Presiden),  maka sebenarnya Aksi 212 boleh dibilang berhasil memutus kepercayaan umat  terhadap rezim anti-Islam saat ini. Maka tantangan dakwah selanjutnya adalah bagaimana pemikiran dan perasaan umat ini  hanya ‘setia’ pada akidah (ideologi) Islam dan memutus kepercayaan umat kepada ideologi selain Islam, baik kapitalisme maupun sosialisme.

Mewujudkan Kesadaran Politik Umat
Upaya untuk menguatkan opini umum tentang syariah dan khilafah di tengah-tengah umat harus terus digencarkan untuk mewujudkan kesadaran politik umat. Sebagaimana dikutip dari Konsepsi Politik Hizbut Tahrir, kesadaran politik bukan berarti kesadaran akan situasi situasi politik, konstelasi internasional, peristiwa-peristiwa politik, mengikuti politik internasional, atau mengikuti aktivitas-aktivitas politik. Itu semua adalah hal-hal yang melengkapi kesempurnaannya saja. Kesadaran politik tidak lain adalah pandangan terhadap dunia dengan sudut pandang khusus. Bagi kita (kaum Muslim) sudut pandang itu adalah Akidah Islam, yaitu sudut pandang lā ilāha illallāh, muḥammadur rasūlullāh.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم    قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا  مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Umar r.a. sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka berkata lā ilāha illallāh, muḥammadur rasūlullāh. Jika mereka mengucapkannya berarti mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan alasan yang benar.  Dan perhitungan mereka ada pada Allah Taala.” (HR. Bukhari Muslim).
Sebagaimana dikutip dari buletin Kaffah, di hadapan penduduk Najran yang saat itu beragama

Nasrani, Rasulullah saw berkata:

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي أَدْعُوْكُمْ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ...

Amma ba’du. Sungguh aku menyeru kalian untuk hanya menghambakan diri kepada Allah dengan meninggalkan penghambaan kepada sesama manusia….” (Al-Baihaqi, Dalā’il an-Nubuwwah, 5/485; Ibnu Katsir, As-Sīrah an-Nabawiiyah, 4/101).

Pernyataan Rasulullah saw. ini selalu diulang-ulang oleh para panglima Muslim saat mereka menyebarluaskan Islam dengan dakwah dan jihad. Di antaranya oleh Rib’i bin Amir, salah seorang juru runding dari pihak Islam saat Perang Qadisiyyah, di hadapan Rustum, salah seorang panglima Persia saat itu. Saat itu Rustum bertanya, “Untuk apa kalian (pasukan kaum Muslim) datang kemari?”
 Rib’i bin Amir menjawab:

اَللَّهُ جَاءَ بِنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، مِنْ جَوْرِ اْلأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ اْلإِسْلاَمْ...

“Allah telah membawa kami ke sini agar kami mengeluarkan orang-orang yang Dia kehendaki, dari penyembahan kepada sesama manusia menuju penyembahan hanya kepada Allah; dari kezaliman agama-agama yang ada menuju keadilan Islam…” (Ath-Thabari, Târîkh ath-Thabari, 4/106, Ibn al-Atsir, Al-Kâmil fî at-Târîkh, 2/463).

Juru runding dari pihak kaum Muslim sebelumnya, yakni Zahrah bin Haubah, juga tegas berkata kepada Rustum, “Islam adalah agama yang haq (benar). Siapa saja yang membenci Islam akan terhina dan siapa saja yang berpegang teguh pada Islam akan mulia.” Lalu Rustum bertanya, “Agama macam apakah itu?

Zahrah bin Haubah menjawab:

أَمَّا عُمُوْدُهُ الَّذِيْ لاَ يَصْلُحُ إِلاَّ بِهِ فَشَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ...

"Adapun pilar agama ini—yang tidak mungkin baik kecuali dengan pilar itu—adalah kesaksian bahwa: Tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah…” (Ibn al-Atsir, Al-Kâmil fî at-Târîkh, 1/413)

Berkaitan dengan kesadaran politik umat, dalam Konsepsi Politik Hizbut Tahrir diuraikan bahwa kesadaran politik tidak akan sempurna kecuali dengan terpenuhinya dua unsur, yakni adanya pandangan pada dunia secara  keseluruhan, dan pandangan ini bertolak dari sudut pandang khusus yang jelas batasannya, apa pun juga sudut pandang tersebut, bisa berupa ideologi tertentu, pemikiran tertentu, kepentingan tertentu, atau yang lainnya. Inilah pengertian kesadaran politik itu sendiri secara umum. Bagi seorang muslim, sudut pandangnya tentu adalah Akidah Islam.

Supaya kesadaran politik ini tidak dianggap berat bagi kaum Muslim dan tidak pula dianggap perkara sulit yang tidak mampu dimiliki kecuali oleh orang-orang cerdas dan terpelajar, mereka harus mengetahui bahwa kesadaran politik itu sangatlah sederhana. Kesadaran politik itu mudah dimiliki oleh seluruh manusia bahkan oleh orang buta huruf ataupun orang awam sekalipun. Sebab, kesadaran politik bukan berarti menguasai Islam secara keseluruhan atau menguasai apa yang harus menjadi sudut pandang khusus bagi dunia.

Adapun cara mewujudkan kesadaran politik pada individu-individu dan umat, adalah dengan melakukan pembinaan politik dalam pengertian politis, baik berupa aktivitas pembinaan pemikiran dan hukum Islam maupun dengan aktivitas mengikuti peristiwa-peristiwa politik. Pembinaan pemikiran dan hukum Islam ini bukanlah pembinaan teoritis semata-mata, melainkan pembinaan dengan menerapkan pemikiran dan hukum Islam itu pada fakta. Demikian pula mengikuti peristiwa-peristiwa politik.

Aktivitas itu bukanlah seperti aktivitas jurnalis yang berusaha mengetahui berita, bukan pula seperti aktivitas pengajar yang mencari informasi, melainkan dengan memandang suatu peristiwa politik dengan sudut pandang khusus untuk kemudian menentukan hukumnya.

Atau dengan mengaitkan peristiwa politik tersebut dengan berbagai peristiwa dan pemikiran lain, atau dengan mengaitkan peristiwa politik tersebut dengan aktivitas-aktivitas politik yang sedang dihadapi. Pembinaan politik ini, yang dilakukan dengan membina ideologi dan politik, adalah jalan untuk mewujudkan kesadaran politik pada diri umat dan individu-individu. Inilah yang akan menjadikan umat Islam mampu memikul tujuannya yang asasi dan tugasnya yang mendasar, yaitu mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia dan menyebarkan petunjuk ke tengah-tengah umat manusia.

Penutup
Spirit 212 memang sangat kental dengan Islam, mulai dari pemicunya, yaitu penistaan Al-Qur’an dan simbol Islam (Bendera Tauhid). Dalam pelaksanaannya pun kibaran Alliwa dan Arrayah sangat dominan. Jadi tantangan dakwah selanjutnya adalah bagaimana memenangkan hati dan perasaan umat yang sudah rindu diatur oleh sistem Islam dengan mewujudkan kesadaran politik umat Islam, yakni kesadaran akan keharusan hidup di atur dengan aturan Islam di bawah naungan Khilafah Rasyidah.

Dikutip dari tweet Ust Rokhmat S. Labib, “Dua tahun lalu umat bersatu tolak pemimpin kafir, protes penistaan Al-Qur’an. Tahun ini umat bersatu kibarkan bendera tauhid, tak rela ada yang menghinakannya. Tahun depan, umat kembali bersatu tolak sistem kufur dan tuntut tegaknya kalimat tauhid dalam kehidupan, insya Allah.”

Semoga upaya membesarkan kesadaran poitik umat menjadi sebab turunnya pertolongan Allah sehingga  Khilafah yang dijanjikan-Nya bisa tegak kembali untuk menerapkan Islam dan menyatukan seluruh negeri-negeri  Islam dan kaum Muslim di bawah kalimah lā ilāha illallāh, muḥammadur rasūlullāh.  Wallāhu a’lam.[MO/sr]

Posting Komentar