Oleh: Reni Tri Yuli Setiawati, S. Si

Mediaoposisi.com-Kita banyak mengenal perempuan di dunia yang berkecimpung dalam dunia politik. Kiprah dan kontribusi mereka banyak diakui bahkan namanya tak lekang oleh zaman.

Terdokumentasi rapi sehingga generasi yang tidak sezamannya bisa membayangkan kebesaran mereka. Ada yang berhasil memenangi kontestasi politik sebagai presiden maupun perdana menteri.

Sebutlah nama mantan rival berat Donald Trump, pasti orang dengan cepat menyebutkan nama Hillary Clinton. Politikus besutan Partai Demokrat ini juga pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri di era Presiden Obama.

Tersebut juga politikus perempuan dunia dari India yaitu Indira Gandhi. Berturut-turut nama lainnya ada mantan Perdana Menteri Inggris Margareth Thacher, dan mantan Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo.

Dari dunia Islam juga tercatat Perdana Menteri Pakistan yaitu Benazir Bhutto, yang pada 2007 mengalami peristiwa tragis pembunuhan atas dirinya.

Dari dalam negeri sendiri, hitungan jari tak muat untuk menghitung segala kiprah para polikus perempuan. Yang berasal dari suku maupun agama berbeda. Baik yang memenangi kontestasi di jajaran eksekutif maupun legislatif. Di jajaran eksekutif, pernah terpilih sebagai perempuan pertama yang menduduki kursi Presiden, Megawati Soekarnoputri dari partai yang terkenal berlambang banteng bermoncong putih.

Deretan kepala daerah juga terus bermunculan dari kalangan perempuan. Di mulai dengan fenomenalnya Walikota Surabaya yaitu Tri Rismaharini. Ada juga Bupati Kebumen Rustriningsih, Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diani, Bupati Jember Faida, dan yang tinggal menunggu pelantikan sebagai Gubernur Jawa timur ada Khofifah Indah Parawansa.

Dibarisan legislatif pun lagi-lagi tak muat hitungan jari untuk menghitung para legislator yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Mulai dari trah Soekarno ada Rachmawati, Puan, dan Puti. Trah Soeharto ada Titik  dan Tutut. Ratu Hemas, Marwah Daud Ibrahim, Rieke Diah Pitaloka, Nurul Arifin, Yenny Wahid, Grace Natali dan sebagainya juga meramaikan perpolitikan wanita.

Peran politikus perempuan tersebut sudah banyak mendulang prestasi. Namun tak sedikit pula yang terjebak dalam kejahatan korupsi. Banyak yang membuat gebrakan baru dan menghembuskan angin segar politik yang dianggap baru. Majunya perkembangan politik perempuan tak lepas dari isu gender. Mendobrak stigma bahwa perempuan hanya urusan dan perhiasan rumah. Angin segar politik pun semakin dihembuskan menyegarkan dengan adanya kuota 30% perempuan di parlemen. Setiap partai politik yang mendaftar dalam pemilihan para legislator harus menyediaan ruang tersebut untuk perempuan. Apalagi ide-ide khas sistem demokrasi yaitu kebebasan, gender, hak asasi manusia semakin memikat banyak perempuan.

Politik sekuler yaitu demokrasi yang telah berhasil menarik para perempuan untuk berkiprah dalam dunia politik, juga berhasil mewarnai corak pikir para perempuan politikus tersebut. Jika kita arahkan pada politikus perempuan khususnya muslimah, maka ide-ide yang mereka perjuangkan berada dalam koridor sekuler. Meskipun ada sedikit nuansa islami, tetapi itu sekedar penonjolan keshalihan skala individu. Misalnya politikus muslimah yang berhijab dan taat beribadah. Untuk pemikiran tentang persoalan dan solusi umat msih menggunakan kerangka sekuler ataupun komunis.

Misalnya, dalam persoalan kemandirian ekonomi bangsa. Hutang Indonesia setiap tahun selalu bertambah. Pastinya dengan dalih defisit APBN. Padahal, hutang yang diterima bukanlah berupa murni kebaikan. Tetapi mengandung pesan terselubung untuk bisa menguasai sumber daya alam Indonesia secara halus.

Defisit APBN pun menjadi dalih juga untuk mengurangi subsidi sekaligus menaikkan tarif pajak sekaligus diversifikasi. Para politikus perempuan tersebut mengiyakan bahkan ikut gencar mengopinikan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan tersebut. Seolah mereka pun mengiyakan kebijakan tersebut karena sudah dianggap tidak ada lagi jalan lain untuk mengatasi persoalan tersebut. Bahkan menganggap itulah cara paling realistis.

Jika jujur menilai dan merasakan, tentunya para politikus muslimah tersebut sangat merasakan bahwa kebijakan tersebut membebani rakyat. Tapi mereka bisa berbuat apa selain akhirnya mengeluarkan solusi tambal sulam.

Misalnya bantuan untuk kalangan miskin. Padahal masih ada solusi lain yang belum tersentuh, dilirik pun belum. Warna sekulerisme yang cukup kental dalam benak mereka akhirnya menghalangi pandangan bahwa masih ada kilau cemerlang sebuah solusi yang berasal dari agama yang mereka anut. Agama yang bukan sekedar tuntunan ibadah ritual kepada Sang Pencipta tetapi juga tuntunan dalam aktivitas keseharian mereka bahkan sampai perpolitikan.

Inilah agenda penting untuk menghapus warna sekuler dalam benak politikus muslimah tersebut. Kesadaran berpolitik yang terus tumbuh perlu kanalisasi secara benar. Yaitu dengan mengalihkan pusaran politik mereka sesuai dengan fitrahnya.

Politik yang akan membawa kemuliaan peradaban dan keselamatan bagi tiap insan di muka bumi. Yang hanya dengan Islam semua itu bisa terwujud.[MO/ge]

Posting Komentar