Oleh: Sri Wahyuni

Mediaoposisi.com- Banyuwangi beberapa tahun belakangan namanya santer diberitakan oleh media. Hal tersebut tak lepas dari sejumlah prestasi dan penghargaan yang diraih baik dalam skala nasional maupun internasional. Salah satunya, Banyuwangi mampu mempertahankan inflasi terendah seJawa Timur. Bahkan inflasi Banyuwangi berada di bawah rata-rata nasional.

Namun, beragam prestasi tersebut nyatanya tak sejalan dengan fakta yang ada. Sebagaimana diberitakan beberapa waktu yang lalu, demi efisiensi anggaran, Pemkab Banyuwangi berencana merumahkan sebanyak 1000 THL (Tenaga Harian Lepas) yang tersebar di berbagai instansi pemerintah. Pemkab beralasan banyaknya THL sangat membebani anggaran daerah. Dikutip dari laman Indopos.co.id 06/12/18, Pemkab Banyuwangi harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp 56 miliar untuk membayar honor para pegawai THL. Padahal, beragam festival yang tak pernah absen digelar oleh pemerintah setiap tahun mampu menambah pemasukan daerah.

Menurut kepala dinas kebudayaan dan pariwisata Banyuwangi Muhammad Yanuarto Bramuda, dalam pegelaran festival BEC (Banyuwangi Ethno Carnival) diperkirakan pendapatan daerah mencapai 25 miliar (Kontan.co.id 23/07/18).

Sementara itu, dalam festival Gandrung Sewu Menteri Pariwisata Arief Yahya memperkirakan perputaran uang mencapai 10 miliar (Kumparan Travel 22/10/18). Belum lagi pendapatan dari festival lain yang pada tahun 2018 ini terdapat 77 festival.

Jika pendapatan dari festival tersebut digunakan untuk kesejahteraan rakyat, lantas mengapa pemerintah merumahkan 1000 THL? Bukankah para THL adalah bagian dari rakyat yang harus disejahterakan? Hal ini tentu membuktikan bahwa rezim telah gagal dalam menjamin terwujudnya kesejahteraan rakyat. Sebab meskipun festival tersebut mendunia, nyatanya demi merampingkan anggaran para THL harus ditumbalkan.

Kondisi tersebut tentu sangat kontras dengan sistem Islam, dimana Islam sangat memperhatikan kondisi rakyat. Di masa khalifah Umar bin Abdul Aziz misalnya, kesejahteraan sangat dirasakan oleh rakyat. Sejarah mencatat kas baitul mal jumlahnya pernah berlimpah saat itu. Bahkan setelah dibagi-bagikan kepada rakyatnya kas negara masih tersisa banyak.

Dalam sebuah riwayat disampaikan bahwa khalifah Umar memerintahkan pegawainya untuk berseru setiap hari di kerumunan khalayak ramai, untuk mencukupi kebutuhannya masing-masing. “Wahai manusia! Adakah di antara kalian orang-orang yang miskin? Siapakah yang ingin kawin? Kemanakah anak-anak yatim?“ Namun tak seorang pun datang memenuhi seruan tersebut.

Ditemukan pula dalam banyak catatan-catatan sejarah yang ditulis oleh orang non muslim yang menunjukkan betapa peradaban islam begitu mengagumkan dalam memberikan pelayanan kepada rakyatnya. Salah satunya Will Durant dalam bukunya Story of Civilization mengatakan,

Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti ini belum pernah tercatat dalam sejarah setelah zaman mereka.

Begitulah, tatkala Islam diterapkan, tak hanya dirasakan oleh segelintir orang namun seluruh umat akan merasakannya. Bukankah Islam terlahir untuk menjadi rahmat bagi semua makhlukNya. Sebagaimana Allah menerangkan dalam ayatNya: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (TQS. Al-Anbiya’ : 107).[MO/sr]

Posting Komentar