Oleh : Rizkya Amaroddini
(Mahasiswi STEI Hamfara)

Mediaoposisi.com-Perayaan tahun baru tak pernah absen dari Negeri ini. Dari berbagai kalangan dan berbagai agama turut ikut merayakan tahun baru.

Donasi Save Muslim Uighur

Tidak bisa di pungkiri bahwa Agama Islam pun turut andil dalam perayaan itu, padahal faktanya Islam mempunyai penanggalan Hijriyah. Dalam history kalender masehi akan terikat dengan history Romawi Kuno.

Kalender masehi mulai di gunakan pada awal umat Kristen. Dalam perhitungan tanggal dan bulan menggambil dari kalender bangsa  Romawi yang di sebut  kalender Julian (yang tidak akurat) sejak 45 SM, kemudian di sempurnakan di tahun 1582 menjadi kalender Gregorian.

Semenjak itulah kalender di gunakan oleh seluruh dunia.  Dalam bahasa Inggris penanggalan ini di sebut “Anno Domini” / AD (dari bahasa latin yang berarti “Tahun Tuhan kita”) atau Common Era/CE (Era Umum) untuk era Masehi, dan “Before Christ”/ BC (sebelum kelahiran Kristus) atau Before Common Era/BCF (sebelum Era Umum).

Pada buku The World Book Encyclopedia tahun 1984, volume 14, halaman 23 :

“Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke 46 SM. Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu).

Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah – sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap ke (masa) lalu.”

Tradisi perayaan tahun baru di Indonesia menjadi hal biasa terutama umat Islam, sepatutnya sebuah tindakan haruslah  di dasarkan dengan sebuah pemahaman agar sesuai dengan Syari’at.

Apa yang menjadi sebab sehingga banyak umat Islam tidak paham akan ajaran Islam. Realita perayaan-perayaan berlangsung dengan alasan toleransi. Ironisnya Negeri ini membebaskan tercampurnya ajaran agama lain dengan dalih toleransi.

Negeri ini telah jelas menjauhkan Islam dari kehidupan, mengatur segala aspek kehidupan tanpa pandangan Agama, khususnya perayaan tahun baru.
   
Hukum menyerupai orang kafir telah ditetapkan oleh sebagian ulama, diantaranya :
Dari Ibn Umar beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Dawud, hasan)

Menyerupai ahli kitab dari berbagai aspek seperti : orang yang menyerupai orang kafir dalam segala hal baik pakaian, kebiasaan, gaya hidup, etika, dan akhlaq. Penyerupaan secara parsial terhadap orang-orang kafir adalah Haram. Karena tasyabbuh berarti ikut mensyi’arkan kekafiran dan kemaksiatan mereka.

Masalah tasyabbuh adalah terlarang hanya dalam perkara kekhususan mereka. Agama Islam ini mengajarkan supaya seorang muslim berbeda dengan orang kafir dan fasiq di seluruh aspek, maka hendaklah kaum muslimin di zaman ini bersungguh-sungguh kembali ke Islam sehingga dapat menerapkan sesuai Hukum syara’.[MO/ge]

Posting Komentar