Oleh: Muthi Nidaul Fitriyah
(Karyawati Sekolah Tahfizh Plus Khoiru Ummah)

Mediaoposisi.com- Semarak persatuan umat di aksi 212 kemarin, menyisakan rindu yang mendalam untuk terus bersatu dibawah sang panji berkalimatkan tauhid itu.
Menyaksikan langsung kehangatan reuni akbar bela tauhid 212 lalu memang yang berkibar ada yang tak hitam putih, terkibar beberapa diantaranya bendera tahud bewarna warni, bahkan latarbelakang dari kalimat tauhid itu bermotif yang cukup beragam.

Alhamdulillah, hal itu menunjukan semangat yang begitu luar biasa, tak perlu ada rasa takut lagi diintimidasi, dipersekusi saat membawa berbagai atribut tauhid diantaranya bendera tauhid.
Namun sebagai umat Islam tak cukup hanya semangat tapi perlu juga diiringi dengan ilmu dan pemahaman agar perjangan dan pengorbanan kita dalam memperjuangkan kalimat tauhid benar-benar Allah balas dengan pahala dan surga. Sebagai seorang muslim, lebih awal tentu kita haus tahu apa dan seperti apa bendera tauhid itu?

"Al-Rayah Rasulullah saw. berwarna hitam dan al-Liwa beliau berwarna putih." (HR. Al-Tirmidzi, Al-Baihaqi, Al-Thabrani dan Abu Ya'la)

"Nabi saw, memasuki Makkah pada hari Fathu Makkah dan al-Liwa beliau berwarna putih." (HR. Al-Tirmidzi, Al-Nasa'i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

"Al-Rayah Rasulullah saw berwarna hitam dan al-Liwa' beliau berwarna putih, tertulis disitu laa ilaaha illa Allah Muhammad Rasulullah" (HR. Abu Syaikh al-Ashbahani dalam akhlaq an -Naby saw)

Bendera dan panji Rasulullah saw bernama al-Liwâ dan ar-Râyah. Secara bahasa, keduanya berkonotasi al-alam (bendera). Namun, secara syari, al-liwâ (jamak: al-alwiyah) dinamakan pula ar-râyah al-azhîmah (panji agung), dikenal sebagai bendera negara dan simbol kedudukan pemimpin.
Banyak sekali dalil dalam as-Sunnah dan atsar yang menjelaskan tentang al-liwâ dan al-râyah. Ibn Abbas ra., misalnya, menyatakan, Bendera (liwâ) Rasulullah saw. berwarna putih dan panjinya (râyah) berwarna hitam. (HR. al-Hakim, al-Baghawi dan at-Tirmidzi).

Ibn Abbas ra. menyatakan: “Panji (râyah) Rasulullah saw. berwarna hitam dan benderanya (liwâ) berwarna putih; tertulis padanya: Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasûlulLâh. (HR. ath-Thabrani).
Jabir bin Abdullah ra. juga menyatakan, Sesungguhnya liwa Nabi saw. pada Hari Penaklukkan Kota Makkah berwarna putih. (HR. Ibn Majah, al-Hakim dan Ibn Hibban).

Jadi, panji Rasulullah saw itu ada dua, berwarna hitam dan putih. Panji yang bertuliskan kalimat "tauhid." Punya makna yang berarti penting dan peran yang besar dalam sejarah kehidupan Islam. Panji yang begitu mulia. Dulu, yang membawanya hanyalah orang yang terpilih, sebagai mukmin yang mendapatkan tempat yang tinggi di sisi Tuhan karena ketakwaan.

Penisbatan al-Liwâ dan ar-Râyah dalam hadis dan atsar sebagai bendera dan panji Rasulullah saw. pun memperjelas kedudukannya sebagai syiar Islam. Apalagi kalimat tauhid yang menjadi ciri khas keduanya merupakan kalimat pemisah antara iman dan kekufuran. Kalimat ini menyatukan kaum Muslim dalam ikatan yang hakiki, yakni ikatan akidah Islam.

Jadi jelas bahwa keduanya termasuk syiar Islam yang wajib diagungkan dan dijunjung tinggi, menggantikan syiar-syiar jahiliah yang menceraiberaikan kaum Muslim dalam sekat-sekat imperialistik. Mengagung-kan dan menjunjung tinggi syiar Islam sesungguhnya merupakan bagian dari apa yang Allah SWT firmankan kepada kita:

"Demikianlah (perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan kalbu" (TQS. al-Hajj [22]: 32).

Inilah sikap yang lahir dari ketakwaan kepada Allah. Syaikh an-Nawawi al-Bantani (w. 1316 H), saat menukil ayat ini, menjelaskan, di antara sifat terpuji yang melekat pada orang yang bertakwa adalah mengagungkan syiar-syiar Allah, yakni syiar-syiar Din-Nya. Sifat takwa ini ditunjukkan oleh sikap para Sahabat, Dari Anas bin Malik ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, Zaid mengambil ar-Râyah, lalu ia gugur. Kemudian Jafar mengambil ar-Râyah itu, lalu ia gugur. Selanjutnya Ibn Rawahah mengambil ar-Râyah itu, lalu ia pun gugur. (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Panji Rasulullah merupakan simbol persatuan umat manusia di naungan sistem Islam, mulai dari masa Rasulullah saw hingga para Shahabat dan khalifah setelahnya. Payung Islam yang menaungi berbagai ras, suku dan kabilah. Yang menyatukan kaum Muslim dan non-Muslim dalam segala perbedaan, namun dapat hidup saling bersisian.

Saat itu perbedaan agama yang ada tak jadi penghalang untuk disatukan dalam keteraturan. Penerapan syariah dalam segala aspek dan lini yang begitu menakjubkan. Sehingga benar-benar dapat terwujud kehidupan sejahtera dalam lindungan Khilafah Islamiyah. Begitu tampak Islam sebagai rahmatan lil 'alamin.

Panji Rasulullah dulu begitu dikenal. Pada masa Rasulullah menegakkan panji-panjinya untuk menyebarkan dakwah Islam dan membebaskan dari kekufuran lewat jihad. Para sahabat Rasulullah pun turut mencontohkan dalam memuliakan panji tersebut. Jiwa dan raga dipersiapkan untuk menjaga, bahkan rela mengorbankan nyawa untuk mempertahankan kesuciannya.

Pada masa sesudah generasi para sahabat, juga diterus khulafaur Rasiyidin sampai masa Kekhilafahan Islam seterusnya hingga  masa Kekhilafahan Ustmani yang terakhir, panji ini penuh arti. Tak sekedar panji biasa, namun sebagai eksistensi keagungan Islam. Hingga kemuliaan Islam pun tersebar lebih dari dua pertiga dunia. Inilah yang menyebabkan Islam sampai pada kita sekarang.

Warna hitam dan putih sang panji itu memiliki makna yang mendalam, tak perlu untuk dicampur dan diambah-tambah dengan berbagai warna yang mungkin saja akan membuatnya jauh lebih menarik akan tetapi hal itu dihawatirkan menggeser bahkan akan menghilangkan esensi makna yang terkandung dibalik warna Al Liwa dan Ar Raya panji (bendera) Rasul saw.
Wallahu'alam bi ash showab..[MO/sr]



Posting Komentar