Oleh: Siti Syamsiyah
(Aktivis Mahasiswi Unej)

Mediaoposisi.com-Baru baru ini media social dan media elektronik sempat riuh dengan pemberitaan adanya pemboikotan terhadap salah satu iklan yang ditayangkan dalam situs belanja online Shopee dalam bentuk petisi. Iklan ini dibawakan oleh member KPOP blackpink yang sedang digandrungi anak anak muda sekarang. Situs belanja online yang bernama Shopee itu dianggap menayangkan iklan yang tidak pantas pada jam tayang anak anak. Petisi ini dimulai oleh Maemon Herawati, seorang dosen jurnalistik Universitas Padjajaran

Tak berhenti pada sekedar petisi, Maemon membawa langkahnya menuju KPI dan ditindaklanjuti oleh Komisi PI. Menurutnya, jika konten ini muncul di tayangan anak anak berpotensi melanggar pasal 46 ayat 6 UU no 32 tahun 2002. Sedangkan KPI menilai muatan demikian berpotensi melanggar Pasal 9 Ayat (1) SPS KPI Tahun 2012 tentang kewajiban program siaran memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan yang dijunjung oleh keberagaman khalayak terkait budaya (tirto.id).

Maemon herawati melihat adanya ketidak pantasan saat penayangan iklan tersebut. Dirinya menganggap bahwa gerakan tarian yang provokatif dan tampilan busananya yang cenderung vulgar dikhawatirkan merusak generasi yang masih putih tersebut. Merasa tak ada yang salah dengan kelakuan idolanya, para fans KPOP tersebut membuat petisi tandingan untuk melawan petisi yang dibuat oleh Maemon. Seharusnya, kata mereka, tayangan seperti sinetron yang tak bermutu juga harus ikut ditegur.

Terlepas dari pihak yang pro dan kontra, kekhawatiran generasi tua kian menggunung. Semakin banyaknya tayangan tayangan yang tak senonoh dan kerap kali melanggar aturan ketimuran dalam budaya Indonesia yang kebanyakan adalah muslim. Tak heran jika para ibu ibu khawatir anaknya yang masih polos dan dibawa umur akan meniru perilaku yang tak baik dari tayangan tayangan televisi. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan perkembangan e commerce saat ini. Kemajuannnya yang pesat turut mempermudah aktivitas sehari hari. Namun ternyata, e commerce saat ini turut membawa budaya budaya asing yang jauh dari aturan Islam.

Iklan produk fashion mempertontonkan aurat, dengan tarian tarian vulgar, dan mengabaikan nilai nilai moral. Tak heran jika penerus bangsa ini krisis moral, apatis, individualis dan cenderung berperilaku tak senonoh. Secara tak langung, berakibat pada rusaknya mental generasi. Sebuah keniscayaan apabila ideology kapitalisme merupakan dalang dalam kejadian kejadian seperti ini. Asas kapitalisme adalah manfaat dan materi. Selama itu membawa keuntungan dan manfaat, terlepas apakah meanggar syariat atau tidak, maka akan tetap dilanggengkan. Terbukti, hal ini membawa efek buruk bagi kelangsungan gaya hidup generasi. Terutama anak anak muda, yang dibidik dalam agenda ini, menampakkan budaya kebarat baratan, tak lagi dapat dibedakan mana muslim dan non muslim.

Saatnya kita kembali pada gaya hidup berlandaskan syari’at Islam. Gaya hidup yang diadopsi dari iedologi kufur nyata nyata tak membawa kebaikan, justru membawa masalah baru. Islam dengan segenap aturannya mengatur dari hal terkecil sampai hal terbesar. Tayangan televise tidak akan menayangkan gambar gambar tak senonoh dan tak sesuai dengan Islam. Sebaliknya televisi merupakan media penyampai edukasi syiar syiar Islam kepada masyarakat agar terbentuk masyarakat yang Islami.

Tentu hal ini tidak bisa dilakukan oleh individu saja. Zaman sekarang, nyaris mustahil menyeleksi program program yang Islami. Sehingga perlu adanya peran Negara yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap regulasi mengenai tayangan media elektronik. Negara ini juga bukan sembarang Negara. Negara yang dimaksud harus berlandaskan syariat Islam. Sebab syariat Islamlh yang akan menjadi dasar atau panduan dalam menyeleksi dan menentukan tayangan tayangan apa saja yang sesuai dengan syariat.[MO/sr]

Posting Komentar