ilustrasi E-Money

Merli Ummu Khila

Mediaoposisi.com-Perkembangan tekhnologi yang semakin canggih, saat ini dunia sudah memasuki era Revolusi industri 4.0 yaitu digital ekonomi, artificial intelligence, big data, robotic dan lainnya. Dunia terus berinovasi, semua aktivitas semakin di permudah dengan kecanggihan fasilitas.

Sebut saja saat ini dalam sistem ekonomi, maraknya perusahaan daring yang bergerak pada jual beli misal Buka Lapak, Shope, Lazada dan lain-lain. aktivitas jual beli yang hanya bermodalkan fitur aplikasi  pada Smart Phone ,hanya dengan sentuhan tangan transaksi bsa terjadi, barang yang di butuh kan datang sendiri tanpa harus bersusah payah ke toko .di tambah lagi sistem pembayaran dengan M-Banking atau Mobile Banking yang mempermudah transaksi untuk pembayaran tagihan pun di permudah, berbekal aplikasi M-Banking atau Mobile Banking atau kartu Flazz, eMoney, Tapcash dan sejumlah kartu elektronik lainnya. melakukan pembayaran tagihan listrik, air, cicilan, beli tiket dan berbelanja di swalayan pun bisa dengan kartu canggih ini.

Era di gital bukanlah momok yang harus di hindari ,justru harus di hadapi. Meskipun sepintas kecanggihan tekhnologi ini menjanjikan keuntungan yaitu dengan mempermudah transaksi tanpa berbelit-belit, praktis tanpa banyak membuang waktu dan tenaga, akan tetapi Revolusi industri 4.0 ini juga banyak menimbulkan kerugian bagi penggunanya

Pada pemberlakuan E-Tol misalnya, seperti yang kita tahu sejak di berlakukan pada Oktober 2017
kendaraan yang masuk tol wajib membayar dengan E-Tol dan tidak boleh membayar dengan tunai.
jika tidak mempunyai kartu maka tidak boleh berkendara melalui tol. 

Hal ini tentu sangat merugikan pengendara yang hanya melintasi tol pada masa tertentu saja atau satu kali perjalanan misalnya, bayangkan untuk membayar tarif tol Rp.15.000 misalnya, dia harus membeli kartu E-Tol dengan harga Rp.10.000 sampai Rp.30.000 dan mengisi saldo minimal RP.50.000 secara tidak lansung pengendara tersebut mengeluarkan biaya Rp 60 ribu sampai Rp.80.000 hanya untuk melewati satu gerbang tol. Dan jika ada ribuan pengendara yang terpaksa melakukan hal serupa maka bisa di bayangkan dan yang mengendap pada pengelola yang menerbitkan E-toll

Pada E-Money atau uang elektronik yang dikeluarkan bank, tentu ada dana yang mengendap pada kartu konsumen dan tentu saja ini tidak dibiarkan begitu saja oleh pengelola saldo konsumen akan di putarkan pada pada pemodal yang tentu saja keuntungan nya tidak di nikmati oleh pemegang kartu.

Kecanggihan tekhnologi tentu saja tergantung sistem yang membawanya, jika pembawa nya sistem liberalisme yang di mana negara tidak boleh ikut campur dalam mengatur nya dan semua berdasarkan kebebasan pasar dan pemilik modal, maka yang menjadi tujuan adalah materi, bagaimana pemodal hanya berfokus pada profit atau keuntungan.

Sebagai seorang muslim tidak bisa lepas dari aturan yang disyariatkan. Karena pedoman seorang muslim itu bukan berdasarkan asas manfaat akan tetapi harus sesuai dengan hukum syara.

Menurut fatwa DSN MuI tentang Uang Elektronik Syariah, setiap E-Money yang diterbitkan dan
diperjual belikan itu bisa sesuai dengan prinsip syariah jika memenuhi tiga ketentuan utama yaitu:

a. Penempatan nominal uang tersebut ditempatkan di rekening bank syariah.

b.Tidak ada unsur gharar atau ketidakjelasan dalam hak-hak dan kewajiban antar pelaku yang terlibat
dalam penerbitan dan jualbeli e-money.

c.Yang diizinkan adalah server best dimana setiap kartu yang hilang tidak berarti nominal uang pemilik kartu tersebut hilang.

Kemajuan tekhnologi adalah termasuk madaniah atau peradaban yang boleh saja dipakai selama masih dalam koridor yang diperbolehkan dalam islam. [MO/vp]

Posting Komentar