Oleh : Rosmiati, S.Si

Mediaoposisi.com-Zaman kediktatoran itu akan datang, kaum muslimin kala itu akan mendapati pahitnya hidup, tragedi kemanusiaan kian massif dipertontonkan. Sungguh zaman itu benar-benar masa yang paling buruk yang pernah dilalui ummatku.  Begitu lah kutipan pesan Rasul Saw jauh sebelum kaum muslimin menderita luka  sebagaimana hari ini tersaji di depan mata.

Yaman. Tak lagi seindah kisahnya di masa awal-awal Islam tegak di Madinah. Bahkan Rasul pun turut mendoakan kebaikan padanya. Memujinya dan menyanjung penduduknya. Suatu ketika rasulullah Saw dalam perjalanan antara Mekah dan Madinah, beliau bersabda “ Hampir-hampir bangsa Yaman melebihi kalian. Mereka bak segumpal awan. Mereka adalah sebaik –baik penduduk bumi” (HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Al-Baihaqi, dinilai shohih oleh Albana).

Negara yang dulunya didoakan oleh sang insan mulia itu kini hidup dalam kesengsaraan dan keterpurukan. Sebuah negara yang berbatasan langsung daratannya dengan Arab Saudi itu, kini harus berpasrah menerima kezaliman demi kezaliman dari bangsa tetangganya sendiri yakni Arab Saudi.

Derita pilu yang cukup mengiris hati. Yaman mengalami krisis berkepanjangan disaat dunia tertawa riah menyambut era millennial yang dipenuhi dengan tontonan kecanggihan perkembangan teknologi.

Bagaimana tidak,  sekitar 8,6 juta anak-anak Yaman saat ini tidak memiliki akses ke air minum. Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) pun merilis sebuah informasi yang cukup memprihatinkan dimana sekitar 85.000 anak-anak Yaman yang berusia kurang dari lima tahun telah meninggal karena kekurangan gizi sejak konflik di Yaman bermula pada 2015.

Konflik yang kini telah memasuki tahun keempat itu setidaknya sudah memangsa sekitar 14 juta orang di Yaman bahkan jumlah ini setara dengan setengah dari total penduduk negara ini dan mereka beresiko menderita kelaparan (Seraamedia 23/11/18).

Negara tetangganya yakni koalisi Arab Saudi tidak hanya menaruh serangan lewat udara tetapi juga menerapkan Sanksi ekonomi. Blokade ekonomi ini pun kian massif digalakan akibatnya masyarakat Yaman sulit untuk mendapatkan pasokan makanan serta kebutuhan hidup lainnya.

Alhasil peristiwa ini semakin berkontribusi pada krisis kemanusian yang semakin parah melanda masyarakat biasa disana. (Matamata politik 23/11/18). Bahkan tak tanggung-tanggung serangan udara koalisi Arab Saudi  menghantam salah satu pabrik makanan ringan di Sanaa (salah satu wilayah di Yaman) (Republika 27/11/18).

Krisis kemanusian yang melanda negeri-negeri kaum muslimin seakan tiada akhirnya terpampang di depan mata. Duka Yaman menambah luka dijantung kaum muslimin. Yaman bergemuruh disaat Palestina, Suriah, Afhganistan dan negeri kaum muslimin lainnya juga sedang berkalang duka. Nyawa kaum muslimin pun seakan tak bernilai dimata mereka para pemangsa.

Duka yaman dan duka negeri kaum muslimin lain, sesungguhnya ialah duka kaum muslimin  seluruh dunia. Sebab jauh sebelum konflik kemanusiaan ini melanda ummat Islam.

Rasulullah Saw telah mengingatkan eratnya hubungan persaudaraan diantara kaum muslimin, tanpa memandang batas negara, “perumpamaan orang-orang Muslim dalam hal kasih sayang dan tolong menolong yang terjalin antar mereka adalah laksana satu tubuh. Jika satu bagian merasakan sakit maka seluruh bagian tubuh akan bereaksi, dengan tidak tidur dan demam” (HR. Muslim).

Maka ditengah hiruk piruk permasalahan yang kian menerpa bangsa ini bahkan datang dari berbagai lini kehidupan, tidak boleh membuat kita lupa akan kondisi nasib kaum muslimin di Yaman dan kaum muslimin di berbagai wilayah negeri lainnya yang juga sedang dalam tindak kesewenang-wenangan oleh penguasa zalim.

Sebagaimana sabda Nabi Saw, harusnya kita pun juga merasakan apa yang tengah mereka alami. “Siapa saja yang bangun pagi dan hanya memperhatikan masalah dunianya maka orang tersebut tidak berguna sedikit pun di sisi Allah… Siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslim maka ia tidak termaksud golongan mereka” (HR ath-Thabrai dari Abu Dzar al-Ghifari).

Pada hadist-hadist Rasulullah sangat jelas digambarkan, bahwa kaum muslimin harus menjunjung tinggi persatuan dan persaudaraan. Tanpa memandang batas wilayah/ negeri. Bahkan tidak diperbolehkan untuk saling menyakiti diantara sesamanya.

Sayangnya kini, kaum muslimin hidup dalam kotak-kotak nasionalisme. Yang membuat mereka tidak berdaya menghadapi lawan dikala saudara seimannya disakiti dan ditindas secara sewenang-wenang tanpa mengenal peri kemanusiaan. Bahkan dengan mudahnya di adu dompa.

Hidup dalam negara-negara bagian membuat kondisi kaum muslim semakin melemah, tidak berdaya dan menjadi santapan gratis oleh rezim diktator, baik nyawa maupun hasil alamnya seakan dilelang secara gratis. Kaum muslimin yang banyak jumlahnya pun dibuat tak berdaya. Kondisi hari ini tentunya sangat jauh berbeda ketika kaum muslimin masih hidup dalam satu komando dan tidak dibatasi oleh sekat-sekat bangsa bagian. 

Sungguh keberadaannya  sangat ditakuti dan disegani oleh dunia. Rakyatnya hidup dengan makmur, terpenuhi kebutuhan hidupnya. Nyawa kaumnya pun dilindungi, bahkan mereka yang tak berakidah islam pun dilindungi dan diperhatikan oleh negara serta dijamin keselamatannya oleh penguasa.
 Kendati demikian rasul pun telah mengingatkan, bahwa duka dan derita ini pasti akan berakhir sebab Allah Swt pun akan memberikan kemenangan atas kaum muslimin.

Memberikan kabar gembira. Sebagaimana Firmannya:“Allah Swt telah berjanji kepada orang=orang yang beriman dan beramal shalih di anatara kalian bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi ini, sebagaimana Dia pernanh menajdikan orang-orang sebelum mereka berkuasa (QS. An-Nur [24]:55).[MO/ge]

Posting Komentar