Oleh: Iit Oktaviani Patonah, S. Pd.
(Muslimah Pondok Gede, Kota Bekasi)

Mediaoposisi.com-Telah menjadi kabar umum akhir-akhir ini di berbagai media sosial terkait persekusi yang dilakukan oleh pemerintahan komunis China terhadap muslim Uyghur. Kabar ini tentu harus menjadi perhatian khusus bagi semua orang dan semua kalangan.

Pasalnya bukan hanya karena tentang ‘muslim’ yang dipersekusi, namun juga hal ini tentang hak seorang manusia untuk bebas memilih keyakinannya serta tentang keadilan yang harus ditegakkan di atas muka bumi yang kita pijak selama ini. Semua menyaksikan bahkan mengetahui bahwa dalam dunia internasional yang kesemuanya diwakilkan oleh PBB menjamin dan melindungi yang namanya HAM (Hak Asasi Manusia). Namun pada faktanya,

HAM yang di gembar-gemborkan selama ini nampaknya hanya berlaku untuk segolongan manusia tertentu dan tidak berlaku bagi segolongan manusia lainnya, terkhusu untuk kaum ‘muslim’ dimanapun berada.

Diberitaan bahwa sekitar 16 juta suku Uyghur mengalami persekusi masal. Mereka yang asalnya tinggal di wilayah yang disebut Turkistan Timur ini, pada akhirnya sekitar 1 juta jiwa dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi untuk di re-edukasi.

Re-edukasi yang dilakukan adalah dengan cara mendoktrin, mengintrogasi bahkan melakukan tindak perbuatan keji dengan tujuan agar meninggalkan keyakinan sebagai muslim.

Lebih dari itu, muslimah Uyghur dipaksa menikah dengan lelaki kafir Han dengan dalih asimilasi budaya, untuk menghapuskan ras suku Uyghur disaat lelaki suku Uyghur dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi. Sungguh semua ini sangatlah jelas kedzaliman dan ketidakadilan yang dilakukan pemerintahan komunis China.

Dari keadaan muslim Uyghur diatas ada beberapa hal yang harus kita pahami bahwa di era kapitalisme saat ini, keadilah seolah menjadi milik orag-orang tertentu yang khususnya benci terhadap ajaran Islam.

Islam selalu menjadi sasaran utama mereka untuk di diskriminasi baik ajarannya maupun pemeluknya. Dalam era kapitalisme kekuasaan sepenuhya digenggam oleh para elit politik kafir, kaum minoritas yahudi dan komunis menjadi negara adidaya yang tidak akan pernah lelah mencari cara untuk menghancurkan Islam.

Para pemimpin negara lain pun hanya bisa mengecam tanpa bertidak nyata dikarenakan adanya dinding tebal nasionalisme yang memisahkan sehingga sulit ditembus oleh pemimpin negara manapun. Hal ini menjadi alamiyah adanya, sebab status pertahanan ideologi kapitalis adalah yang menjadi dasar kehidupan hari ini, bukan Isam.

Selanjutnya, kita juga harus pahami bahwa duka muslim Uighur bukan hanya duka meraka saja, namun harus menjadi duka kita semua.

Kita adalah saudara muslim mereka yang diikat oleh aqidah islam yang sama. Aqidah yang menuntut kita untuk tidak tinggal diam melihat penderitaan muslim Uyghur. Sungguh sangat disayangkan ketika kita hanya tinggal diam tanpa melakukan sesuatupun untuk menolong saudara kita disana. Hal yang bisa kita lakukan sebagai seorang muslim adalah berdo’a dan berdakwah.

Berdo’a agar Allah Swt memberikan pertolongan kepada mereka semua. Berdakwah menyadarkan ummat bahwa sudah saatya kita semua bersama meninggalkan sistem rusak kapitalisme dan segera beralih kepada Islam yang sempurna memiliki aturan yang penuh dengan keadilan serta sesuai dengan fitrah manusia.

Karean sejatinya yang hanya bisa menggantikan peradaban kapitalisme ini adalah mengembalikan kembali peradaban Islam yang diterapkan dalam kehidupan diseluruh dunia.[MO/ge]

Posting Komentar