Oleh : Dini tri narni

Mediaoposisi.com-Setiap kali Desember tiba,kita selalu dihadapkan dengan perdebatan tentang ucapan selamat natal. Yang sebenarnya bagi umat Islam sudah jelas keharamannya.

Sebab hal ini sudah termasuk dalam ranah aqidah,yang tidak boleh kita masuki. Dalam keyakinan umat Nasrani,perayaan Natal artinya memperingati kelahiran Yesus sebagai anak Tuhan. Hal ini sungguh berbeda 180° dengan akidah Islam yang tercantum dalam surah Al Ikhlas ayat 3,

"Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan."Dengan mengucapkan selamat natal,sama saja kita mendukung juga menyetujui akan keyakinan kufur tersebut.

Allah subhanahu wataala juga telah mengajarkan prinsip yang mendasar,dalam menjaga toleransi sekaligus merawat akidah kita,yaitu "lakum dinnukum waliyadin " artinya bagimu agamamu,dan bagiku agamaku.

Tidak ada larangan bagi kita untuk berteman,bertetangga,bermitra dalam pekerjaan dengan non muslim,bahkan kita juga dianjurkan untuk tolong menolong sebagai sesama manusia. Terlarang juga bagi kita melanggar hak-hak mereka,menyakiti atau bahkan menghilangkan nyawa mereka.

Islam sudah membuktikan, dari masa kenabian hingga masa kekhalifahan, bagaimana umat Islam selalu bisa hidup berdampingan, saling menghargai dan melindungi dengan umat beragama lain.

Hak-hak hukum merekapun juga dijamin oleh khalifah,tidak dibedakan dengan muslimin. Namun di era penuh fitnah ini,suatu prinsip yang sudah baku, selalu berusaha digoyang dan dianulir. Dengan berbagai cara,pemikiran dan faham pluralisme dimasukkan kedalam benak umat Islam. Setiap tahun berulang,dan semakin terang benderang mereka perlihatkan.

Dengan melibatkan beberapa tokoh Ulama dan Pejabat,umat diarahkan untuk membenarkan ucapan selamat natal.

Contoh yang sedang viral saat ini,yaitu video Menteri agama Lukman hakim syaifudin dan KH. Ma'ruf amin sebagai calon wakil presiden Joko widodo. Mereka dengan ringan dan tanpa beban mengucapkan selamat natal kepada umat Nasrani.

Tidak ketinggalan PSI partai kontroversi pencari sensasi,menghimbau semua kadernya,termasuk yang muslim untuk mengucapkan selamat natal sebagai bentuk solidaritas dan menjaga toleransi. Dalil yang sering digunakan oleh mereka adalah firman Allah dalam surah Mariyam ayat 33 yang berbunyi:

"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali"

Padahal makna dari ayat ini sesungguhnya adalah ,penjagaan Allah subhanahu wataala terhadap Nabi Isa alaihisalam,bukan menunjukkan bolehnya mengucapkan selamat natal. Teringat Sabda Nabi Shalallahu alaihi wassalam,dari Abu dzar dia berkata :

 "Aku bersama Nabi suatu hari dan aku mendengar beliau bersabda," Ada hal yang aku takutkan pada umatku melebihi dajjal " kemudian aku merasa takut sehingga aku berkata,ya Rasulullah apa itu..? Beliau bersabda "ulama yang sesat dan menyesatkan "(HR. Ahmad )

Karena itu sudah selayaknya kita mewaspadai,akan adanya ulama yang termasuk didalam hadits ini.

Dan jangan mudah terpengaruh pada perkataan ulama,hanya karena gelar ataupun kedudukannya. Sebab ada bahaya besar yang mengancam akidah umat Islam dibalik seruan ucapan selamat natal ini,yaitu kampanye ide pluralisme yang mengajarkan kebenaran semua agama. Menurut paham ini,tidak ada kebenaran mutlak,semua agama dianggap benar.

Dan juga merupakan propaganda sinkretisme,yaitu pencampuradukan ajaran agama-agama. Padahal didalam Islam batasan antara iman dan kufur itu jelas,batasan antara halal dan haram juga jelas.

Umat Nasrani pun juga banyak yang menyadari bahwa menghargai bukan berarti harus mengucapkan selamat pada hari raya mereka. Mereka juga menghormati prinsip yang dijaga oleh umat Islam,dan tidak mempermasalahkan. Sebab toleransi yang sebenarnya adalah dengan membiarkan umat beragama lain menjalankan ibadah dan ajaran agamanya secara bebas.

Tidak ada paksaan dalam agama,serta tidak saling mencampuri dalam urusan akidah dan ibadah masing-masing.

Harusnya negara berperan penting dalam mempersatukan seluruh rakyatnya,dalam bingkai toleransi yang benar. Namun hal itu sangat sulit diwujudkan di negara yang menganut ideologi kapitalisme,seperti sekarang ini. Sebab negara hanya mementingkan manfaat dan materi yang mungkin bisa didapat.

Dunia diutamakan,melebihi urusan akhirat.Alih-alih melindungi akidah umat,justru negara memfasilitasi kampanye global ide-ide sesat.

Jauh berbeda bila negara menganut ideologi Islam,negara dibangun berdasarkan akidah Islam yang melahirkan peraturan-peraturan berlandaskan syariat Islam. Tidak akan ada masalah dengan toleransi, keberagaman,dan perbedaan.

Kedamaian dan kesejahteraan akan terwujud, karena Allah subhanahu wataala ridho kepada hamba-hamba Nya yang bertakwa.

Islam adalah rahmat bagi sekalian alam,apabila syariat Nya dijalankan oleh individu,keluarga dan juga negara,maka rahmat itu akan dilimpahkan. Jadilah pejuang bukan penghalang,bagi tegaknya daulah Islam ,yaitu Khilafah ala minhajinnubuwah 

Posting Komentar