Oleh : Aulia Rahmah
(Aktivis Dakwah Islam, Gresik - Jatim)

Mediaoposisi.com-"Allah telah berjanji kepada orang - orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih diantara kalian, bahwa Dia sungguh - sungguh akan menjadikan orang - orang sebelum mereka berkuasa, akan meneguhkan bagi mereka agama yang diridhoiNya untuk mereka dan akan menukar ( keadaan ) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku tanpa mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Siapa saja yang tetap kafir sesudah janji itu maka mereka itulah orang - orang yang fasik " ( Tqs. An-nur : 55 ).
   
Saat ini eksistensi Umat Islam di seluruh dunia terancam. Jika saudara - saudara kita di Palestina, Yaman, Suriah, Rohingya, dan Uighur terancam nyawa mereka secara langsung. Berbeda dengan Umat Islam di belahan dunia lainnya. Globalisasi yang bertumpu pada Liberalisasi Demokrasi, mengancam hak - hak hidup Umat Islam,  umat terancam oleh tekanan penguasa yang bermesraan d3ngan pengusaha umtuk merampas SDA milik umat. Umat dirundung duka oleh ulah rentenir dunia yang disambut oleh penguasa boneka, melegalkan bentuk penjajahan gaya barunya.
   
Kondisi ini membuat Umat Islam tak leluasa melakukan peribadatan secara sempurna. Persia 14 abad yang silam, ketika Rosulullah Saw dan para sahabat  datang ke Madinah. Kaum Anshor memberi mereka tempat tinggal. Sementara di Madinah, kaum kafir Arab bersatu memusuhi mereka. Akibatnya kaum muslimin selalu membawa senjata di siang dan malam hari. Mereka berkata " Dapatkah kita hidup aman, tidak takut kecuali kepada Allah saja ? " Kemudian turunlah Surat Annur ayat 55 ( HR. Hakim dan Thabrani ).
   
"Di tengah - tengah kalian terdapat masa kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekhilafahan yang mengikuti metode kenabian yang berlangsungselama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan yang dzalim, yang berlangsungselama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan yang diktator yang menyengsarakan, yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Selanjutnya akan muncul kembali masa kekhilafahan yang mengikuti metode kanabian, setelah itu beliau diam " ( HR. Ahmad ).
   
Alquran Surat Annur ayat 55 dan Hadits Nabi Saw diatas sebagai pembenar bahwa akan tegak kembali khilafah menurut metode kenabian. Kapan datangnya khilafah itu ? Hanya Allah yang Maha Tahu. Tetapi indikasinya telah tampak di aksi reuni 212. Umat bersatu saling membantu, dikibarkan pula panji Rosulullah Al- liwa dan Ar-royah, juga semangat Umat Islam yang mengornkan waktu, pikiran, harta, dan tenaga untuk membela Islam dan ulama.
   
Umat , tak hanya Islam , non muslimpun ikut hadir menggembirakan reuni 212, kini menyadari sistem demokrasi adalah sistem terbaik, terbukti hoaks. Demokrasi mengakomodasi suara Umat dan menjunjung tinggi hak - hak rakyat, adalah hoaks pula. Di reuni 212 Umat menanti tegaknya Khilafah Islamiyah yang dipandu oleh para ulama warotsatul anbiya. Bukan ulama abal - abal yang mengaku cinta Rosulullah tetapi menolak sistem pemerintahan warisan beliau.
   
Patut disayangkan jika ada ulama yang mencari legitimasi Demokrasi dengan mengundang penceramah dari Libanon untuk memfitnah Umat Islam dan sistem pemerintahan khilafah. Mereka mungkin sedang tersandera oleh nikmatnya kehidupan dunia atau buta sejarah ? Sehingga menganggap khilafah adalah sumber ketidakstabilan dan kehancuran.
   
Sabtu, 8 Desember 2018 di Masjid Istiqlal, Jakarta, PBNU mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw dengan mengundang syeikh Zubair Utsman Al Ju'aid dari Libanon. Dalam ceramahnya syeikh mengatakan bahwa Demokrasi adalah sistem yang terbaik karena telah mengakomodasi nilai - nilai yang ada dalam Syariat Islam, dilansir oleh Liputan6.com ( 8/12 ).
   
Bukan Demokrasi yang baik, tetapi Umat Islam yang terikat dengan hukum Syariatlah yang terbaik. Demokrasi warisan siapa, dan Khilafah warisan aiapa. Jika ulama menolak Khilafah, lalu dimana akal sehatnya ? Reuni 212 di Monas adalah aksi umat yang disebut oleh para pengamat politik sebagai monumen akal sehat.
   
Demokrasi yang berdiri diatas landasan Sekularisme dan Kapitalisme telah meluluh - lantakkan segala bentuk kontrol pemerintahan. Kontrol individu tergantikan dengan keberingasan nafsu, kontrol masyarakat seringkali dibungkam, bahkan kontrol negara rusak oleh praktek suap - menyuap dan jual beli jabatan.
   
Demokrasi hanya menghasilkan para pecundang, tikus berdasi, dan rezim tirani. Hidup rakyat kecil terhimpit penderitaan dan berkubang dalam lumpur kemaksiatan, rakyat kehilangan figur terbaik yang mampu menuntun mereka keluar dari sempitnya hidup. Demokrasi ajang fitnah, bully, dan rebutan kusi. Demokrasi benar - benar crazy. Hari gini ulama menolak khilafah, apa kata dunia...?!! [MO/sr]

Posting Komentar