Oleh :Nurhidayat Syamsir 
Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan UHO


Mediaoposisi.com-Negeri Sakura, Jepang adalah sebuah negara kepulauan di Asia Timur. Negeri yang terkenal dengan kemajuan ekonomi juga sebagai negara maju yang memiliki standar hidup tinggi dalam bidang teknologi, telekomunikasi, permesinan, robotika, industri, transportasi dan kontruksi.

Dalam budaya pop Jepang sebagai negara pengekspos terbesar seperti anime, manga, mode dan sebagainya. Gemerlap indah negeri yang kerap disapa dengan julukan matahari terbit ternyata memiliki potret buram masalah sosial. Salah satu tren belakangan ini adalah tren kesendirian setelah sebelumnya muncul tren “Kodokushi” atau mati dalam kesendirian. Seperti yang dilansir dalam Jakarta, CNN Indonesia.

Aktivitas perjalanan tunggal atau solo traveling yang belum lama menjadi primadona baru bagi wisatawan baik nusantara maupun mancanegara.

Berbagai ‘alibi’ pun dibuat untuk membuat kegiatan ini layak dilakoni siapapun, khusunya wanita. Salah satu alasan terkuat untuk membujuk orang untk melakukan solo traveling adalah ‘me time’ atau menghabiskan waktu berkualitas hanya dengan sendiri. Rupaya kegiatan ini sudah lama dilakoni oleh publik Jepang, bahkan penduduk di Negeri Sakura ini memiliki istilah unik yakni Okitorisama atau sebuah seni untuk melakukan segala kegiatan sendirian.

Mengutip ATP, seorang analisis di Jepang mengatakan jika secara demografi Jepang sangat memungkinkan untuk melakukan apapun sendirian. Sehingga Jepang kerap menjadi tempat ynag tepat untuk pemuja ‘me time’. Salah satunya “karaoke”. Sebuah tempat karaoke Koshikada yang meluncurkan program bilik karaoke untuk mereka yang ingin berkaraoke sendiri, toko-toko yang menjual makanan paket untuk yang ingin sendiri.

Hal ini diperkuat oleh seorang konsultan pemasaran senior di Jepang Motoko Matsushita melihat tren masyarakat apa-apa serba sendirian ini sebuah pasar baru yang potensial. Menurutnya sebuah survei di Jepang menunjukkan jika kaum muda lebih suka menghabiskan waktunya sendirian ketimbang bersama keluarga dan teman-teman.

Tren Kesendirian Menuai Sengsara

Manusia adalah makhluk kompleks yang tidak serta merta tinggal diam seperti halnya makhluk dalam wujud benda material lainnya, melainkan selalu bergerak dinamis untuk mengaktivisasikan dirinya. Hidupnya dikelilingi sanak saudara dan kerabat, juga sebagai seorang yang tidak bisa hidup sendiri. Jelaslah manusia adalah makhluk yang suka bersosialisasi dan mengerjakan sesuatu lebih seru dengan bersama-sama.

Namun di Jepang tak sedikit yang memilih hidup dalam kesendirian. Menelisik kegiatan ini, dapat kita lish diantara faktor yang mempengaruhi dibalik tren kesendirian.

Pertama, pola dan budaya hidup di Jepang terpengaruh oleh pemikiran hedone yang berasal dari Barat. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan.

Hedonisme sendiri bermakna bahwa pemujaan terhadap kesenangan dan kenikmatan dunia harus dikejar, dan itulah tujuan hidup yang paling hakiki bagi manusia. Hal ini menyebabkan perilaku manusia sebagai konsumen semakin menggila, yaitu perilaku yang mengatas-namakan merk, kekuasaan, dan kenikmatan sesaat, termasuk tren kesendirian.

Kedua, ajakan untuk menikmati panorama kegiatan yang dilakukan serba sendiri. Salah satu targetnya adalah kaum wanita yang diajak untuk menghabiskan wantunya sendiri. Namun jika diperhatikan ajakan ini agar orang cenderung individualime.

Individualisme yaitu paham yang memandang bahwa seseorang yang mementingkan haknya pribadi tanpa memperhatikan orang lain. Di kehidupan sehari-hari akan cenderung acuh tak acuh dan menghindari keterlibatan sosial. Sikap hidup seperti inilah yang dapat memudarkan solidaritas dan kesetiakawanan sosial, musyawarah mufakat, gotong royong dan sebagainya.

Pandangan hidup ini menjelaskan bagaimana seseorang hidup tanpa adanya sosialisasi dengan orang lain. Hal ini berarti memberikan pengertian bahwa Individualisme itu sendiri merupakan bentuk keegoisan seseorang didalam melakukan segala hal.

Dengan sifat egoisnya itu, seseorang tidak lagi memperdulikan orang-orang yang ada disekitarnya untuk dapat hidup bersosialisasi dengan dirinya. Alhasil seseorang senantiasa menjauh dari keniscayaan interaksi yang memperkuat hubungan sosial. Dengan paham inipun akan memutus kepekaan sosial juga menumpulkan kepedulian terhadap sesama.

Ketiga, Jepang dikenal sebagai negeri yang memposisikan agama menjadi sesuatu yang tidak berpengaruh dan mempengaruhi. Artinya isu perbedaan keyakinan tidak memicu pertentangan antar sesama warga. Meski seyogyanya seseorang akan mempertahankan juga menyebarluaskan keyakinan yang dimilikinya.

Namun tidak di Jepang, buktinya satu orang bisa menganut satu atau lebih keyakinan bahkan sampai tak beragama. Misalnya menikah umumnya memakai keyakinan kristen dan pemberkatan di Gereja, lalu jika meninggal umumnya memakai keyakinan Budha. Juga ikut serta dalam merayakan natalan. Tribunnews.com (27/12/12).

Fitrah adalah sesuatu yang melekat dan akan selalu ada pada setiap manusia. Salah satunya adalah fitrah bahwa manusia senantiasa mencari ketenangan. Tren kesendirian ini salah satunya karena menganggap dengan menyendiri dapat menimbulkan ketentraman jiwa. Namun sayang, ketenangan jiwa yang dikehendaki justeru sifatnya sementara, pasalnya seorang akan sampai pada titik jenuh dan bosan hidup menyendiri, butuh bersosialisasi.

Tak heran jika banyak yang mengambil jalan mengakhiri hidup dengan mati sendirian menghabiskan masa tua atau sengaja bunuh diri lantaran kesulitan dan resah tidak mendapatkan ketenangan jiwa. Keempat, Tren ini berpengaruh pada angka konsumtif pasar yang dinilai sebagai pasar baru yang potensial sebab jumlah pemuja kesendirian akan memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus berbagi lagi. Disisi lain ini tidak lepas dari paham gila materi, semua dipandang dari segi keuntungan dan manfaat.

Islam Memandang Kesendirian

Islam adalah agama yang memandang sistem sosial adalah gabungan dari hubungan keseluruhan kemasyarakatan yang saling berkaitan satu dengan yang lain, juga kekuatan ikatannya dipengaruhi oleh aturan yang dimiliki. Islam telah mendudukkan hal yang paling utama dalam kehidupan sosial berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah yakni bekerjasama (ta’awwun) antara satu sama lain untuk melaksanakan kebajikan dan tidak bekerjasama untuk dosa dan kedzoliman. Sebagaimana Allah berfirman:

"Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (Al Ma'idah: 2), juga "Dan orang orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah daripada yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka ta'at kepada Allah dan Rasul Nya...' (At Taubah: 71).

Kemudian segala bentuk perhubungan diantara manusia adalah dengan tujuan untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah. sebagaimana Allah berfirman: "Mereka diliputi kehinaan di mana sahaja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (al Din) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia." (Ali 'Imran: 112), juga "Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenarbenar taqwa kepada Nya; dan janganlah sekali kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai muslim. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (al Din) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." (Ali 'Imran: 102-103). Maka bersosial dalam islam adalah bagian dari ibadah.

Tren kesendirian menciptakan kesan menarik, namun beberapa penyebab yang menjadi alasan kesendirian ini sebanarnya karena adanya pengaruh sistem kapitalisme dalam menjalani kehidupan. Sebuah tata aturan yang memandang segala sesuatu dari asas peraihan kebahagiaan semata.

Dari kapitalisme inilah yang menyebabkan Jepang memiliki standar hidup tinggi, muncullah tekanan kerja yang tinggi pula, seseorang akan cenderung mementingkan pekerjaan. Tekanan ini yang melahirkan ide untuk mengerjakan segalanya sendirian, mementingkan diri sendiri lalu menjamurlah orang-orang yang memisah dan memutus akses sosial yang sejatinya saling menguatkan, serta semakin diperparah dengan ketiadaan ruh yang mengantarkan pada ketentraman jiwa.[MO/an]


Posting Komentar