(Khaira Ummu Hanif, Licin - Cimalaka)

Mediaoposisi.com-Ummat islam kembali berduka. Penindasan dan diskriminasi terhadap kaum muslimin seakan tiada habisnya.

Donasi Save Muslim Uighur

Belum habis kisah pilu muslim Rohingya di Myanmar, muslim Pattani di Thailand, Palestina, Suriah, dan di sejumlah negara lainnya. Kini kaum muslim Uyghur di Cina tengah dilanda derita.

Sudah sejak lama pemerintahan Cina berlaku tidak manusiawi terhadap muslim Uyghur. Mereka memberlakukan aturan yang bersifat intoleransi terhadap minoritas pemeluk agama Islam yang menempati wilayah Xinjiang itu.

Diantara aturannya adalah pelarangan shaum di bulan Ramadhan, pelarangan menggelar pengajian dan shalat berjama'ah, pelarangan memanjangkan jenggot dan penggunaan identitas islam, memerin-tahkan pemilik toko untuk menjual alkohol, dan lain sebagainya sebagai upaya untuk melemahkan aturan agama islam.

Barangsiapa yang menolak ketentuan tersebut, maka bersiap-siaplah untuk diintimidasi dan menjadi penghuni kamp-kamp konsentrasi.

Terhitung sekitar 1 juta warga etnis Uyghur yg telah ditahan di tempat rahasia tersebut. Dengan dalih kamp-kamp pelatihan kejuruan dan pendidikan,  di tempat penahanan itulah mereka berupaya mencuci otak muslim Uyghur dengan menanamkan doktrin-doktrin komunisme, yang tak jarang perlakuan tersebut berujung pada kekerasan fisik hingga berakhir kematian.

Uyghur menjerit, namun dunia seakan tuli. PBB tak berkutik. Seruan HAM dan toleransi seakan tak berlaku jika yg tertindas adalah kaum muslimin. Demikian pula para penguasa negeri kaum muslim-in, termasuk pemimpin negeri ini. Jangankan mengirim bala tentaranya dan memutus hubungan kerjasama dengan negara berideologi komunis itu, misalnya, sepatah kata pembelaan pun tak terucap darinya. Jangan campuri urusan dalam negeri negara lain, dalihnya.

Sekat-sekat nasionalisme telah mengikis habis ikatan persaudaraan atas landasan akidah islam. Sebab batas teritorial negara, mereka seakan tidak merasa bertanggungjawab dan memiliki kewajiban untuk menolong saudara seakidah mereka yang tengah membutuhkan perlindungan.

Padahal Islam mengajarkan, sesama muslim adalah saudara atas ikatan akidah. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya bagaikan satu tubuh yang dimana jika salah satu bagian darinya terluka, maka seluruh bagiannya yang lain turut merasakan sakit. Tanpa memandang ras, suku maupun bangsanya, dan tidak terbatas wilayah dan negara tempat mereka tinggal.

Tanpa kepemimpinan ummat yang satu, kaum muslimin tak ubahnya seperti anak ayam tanpa induknya. Tiada kekuatan yang mampu melindunginya dari berbagai penindasan.

Karenanya solusi tuntas atas penindasan terhadap kaum muslimin di seluruh dunia adalah dengan mewujudkan persatuan ummat dalam satu kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Islam, yakni Khilafah. Tanpa ada lagi sekat-sekat nasionalisme, cukup akidah Islam yang menjadi ikatan persatuan.

Hanya dengan Khilafah-lah penindasan terhadap kaum muslimin dapat terselesaikan. Cukuplah sejarah sebagai bukti bagaimana pemimpin kaum muslimin menjadi junnah (pelindung) bagi rakyatnya.

Sebagaimana khalifah Al-Mu'tashim yang mengirim ratusan ribu pasukan hanya untuk membela kehormatan seorang muslimah. Tentu kita pun merindukan sosok pemimpin yang demikian, yang memiliki wibawa dalam melindungi rakyatnya. Dan pemimpin serupa itu hanya akan terlahir dari sistem Khilafah, yakni kepemimpinan Islam yang tegak atas dasar akidah Islam.



Posting Komentar