Merli Ummu Khila 

Mediaoposisi.com-Penderitaan umat islam di negara minoritas semakin menyedihkan. Bukan hanya diskriminasi, bahkan para pembenci islam terang-terangan menyiksa umat muslim. Tapi mirisnya, tidak ada negara Islam yang mampu mengatasi masalah ini. Bahkan PBB dan OKI sekali pun.

Saat ini kita di suguhkan berita yang menyakitkan bagaimana muslim Uighur diperlakukan dengan keji oleh rezim China. Meski diberikan status otonomi, penduduk muslim di Xinjiang faktanya justru mengalami perlakuan represif. Lebih dari 10 juta muslim di Xinjiang mengalami perlakukan diskriminatif, baik diskriminasi agama, sosial, maupun ekonomi.

Sekitar dua juta warga Uighur ditahan otoritas China di penampungan politik di Xinjiang. Banyak para tahanan yang dipenjara untuk waktu yang tak ditentukan dan tanpa dakwaan. Bahkan ironisnya, penahanan tersebut tidak sedikit yang berujung pada penyiksaan, kelaparan, dan kematian.

Namun miris melihat pemimpin negara-negara muslim seolah tutup mata. Hampir tanpa reaksi. Kalau pun ada hanya sekedar kecaman dan tidak berujung solusi. Hal ini tidak hanya pada muslim Uighur atas siksaan otoritas China tapi juga pada muslim Rohingya  atas siksa rezim Myanmar pada muslim Palestina oleh Israel dan pada muslim minoritas di berbagai belahan dunia.

Tidak adanya satu pemimpin yang menjadi rujukan negara-negara Islam membuat para pemimpin nya seolah tanpa kekuatan. Ikatan nasionalisme yang terpatri didalam dada para pemimpin negara muslim membuat mereka lupa bahwa sesungguhnya mereka bertanggungjawab atas penderitaan saudaranya sesama muslim.

Terlebih di Indonesia, negara muslim terbesar di dunia namun nyaris tanpa suara hanya karena adanya kerja sama bilateral dengan negara tersebut. Pemerintah seolah kehilangan taring nya untuk sekedar mengecam.
Inilah bahayanya ketika ikatan nasionalisme diatas segala nya. Dan sistem yang dianut negara-negara Islam yang membebek pada sistem kufur terbukti tidak akan mampu menjamin keselamatan umat muslim.

Hanyalah islam, yang dahulu pernah berjaya terbukti sudah menorehkan sejarah emas bersatu nya umat dalam satu pemerintahan yaitu khilafah. Sejarah mencatat ketika pada masa kekhilafahan Utsmani, Mary McAleese, Presiden ke-8 Irlandia yang menjabat dari tahun 1997 sampai 2011.

Dalam pernyataan persnya terkait musibah kelaparan di Irlandia pada tahun 1847 (The Great Famine), yang membuat 1 juta penduduknya meninggal dunia. Terkait bantuan itu, Mary McAleese berkata:

“Sultan Ottoman (Khilafah Utsmani) mengirimkan tiga buah kapal, yang penuh dengan bahan makanan, melalui pelabuhan-pelabuhan Irlandia di Drogheda. Bangsa Irlandia tidak pernah melupakan inisiatif kemurahan hati ini. Selain itu, kita melihat simbol-simbol Turki pada seragam tim sepak bola kita.”(Media Ummat, 19 April 2018).

Hanya Khalifah yang mampu berlaku tegas pada kedzaliman tanpa intervensi pihak lain. Dan hanya islam yang mampu mengatur semua aspek kehidupan baik itu ekonomi, politik, sosial, pendidikan dan budaya. Karena semua peraturan hidup bersumber dari sang Pencipta nya manusia berupa Al Qur’an.[MO/ge]

Posting Komentar