Oleh : Zai 
    (Aktivis Mahasiswi)

Mediaoposisi.com-Umat Muslim kembali berduka atas tragedi kemanusiaaan yang dialami muslim Uyghur Cina. Belum kering darah dan tangisan muslim Palestina, Suriah ataupun Rohingnya , dunia kembali membiarkan muslim teraniaya, didiskriminasi oleh kebengisan Komunis Cina.

Donasi Save Muslim Uighur

Indonesia dengan penduduk muslim terbesarnya seolah tak berdaya membela sesamanya hanya karena sekat urusan pribadi negara.

Sejak April 2017, Pemerintah Cina sudah menangkap setidaknya 800 ribu dan kemungkinan 2 juta masyarakat Uyghur kedalam camp yang mereka sebut “Kamp re-edukasi” Pemerintah Cina sebelumnya membantah keberadaan kamp tersebut. Namun sekarang mereka melegalisasinya dan mengatakan kamp tersebut sebagai pusat pelatihan untuk “Melawan Ekstrimisme”.

Tapi faktanya mereka yang ditangkap termasuk Rektor Universitas dan Pejabat Partai. Kamp “Pusat Re-edukasi” telah memaksa muslim uyghur menjalani program doktrinisasi seperti mempelajari propaganda komunisme dan memberi salam hormat kepada Presiden Cina Xi jinping.

“Ini melindungi hak asasi manusia lebih besar lagi, juga menyelamatkan orang-orang ini, salah satu kontribusi penting yang Cina lakukan untuk melawan terorisme global “ kata Menteri Luar Negeri Cina Lu Kang pada bulan November  lalu, seperti dilansir Vcx. Begitulah pernyataan Cina atas sikapnya. Mereka telah melegalkan kejahatan kemanusiaan.

Indonesiapun  dinilai sulit tekan Cina untuk kasus Muslim Uyghur. Kemudahan utang luar negeri Indonesia kepada cina diduga membuat pemerintahan Presiden Joko widodo

ogah menyuarakan protes atas kasus dugaan pelanggaran HAM yang terjadi pada kelompok muslim Uyghur di Xianjiang, China. Ketua Majelis jaringan aktivis pro demokrasi (prodem) Syafti Hidayat menduga,hubungan kedekatan antara kedua pemerintahan RI-China saat ini yang membuat Jokowi enggan melakukan protes.

Rapat Paripurna DPR RI diwarnai interupsi dari anggota DPR terkait Muslim Uyghur di Cina.  Beberapa anggota parlemen menilai institusi DPR harus meminta kepada pemerintah untuk bersikap terkait apa yang dialami suku Uyghur  tersebut. Menurut mereka Indonesia harus melakukan upaya-upaya dan langkah agar tidak ada lagi kasus pelanggaran HAM di dunia.

Kedzaliman terhadap muslim Uyghur melengkapi berbagai kedzaliman yang terjadi di berbagai negeri muslim. Nasionalisme dan konsep negara bangsa menelikung umat islam di dunia dan penguasanya (termasuk Indonesia) untuk membantu saudaranya dengan bantuan yang riil.

Keberadaan penduduk muslim dunia,tentara dan senjata mereka yang banyak tak berguna untuk membebaskan saudara-saudara seakidah gara-gara paham buatan kafir tersebut.

Umat Islam membutuhkan khilafah. Karena hanya Hhilafah punya wibawa untuk melawan rezim dzalim dengan menyatukan seluruh potensi yang dimiliki dibawah satu kekuatan politik dan komandonya.[MO/ge]

Posting Komentar