Oleh Ainul Mizan

Mediaoposisi.com-Hari ini dunia Islam sedang berduka. Bangsa Uighur yang mayoritasnya berpen-duduk muslim kini harus merasakan penderitaan. Pemerintah China melakukan berbagai macam intimidasi hingga penyiksaan dan pembunuhan.

Donasi Save Muslim Uighur

Identitas keislaman dilarang. Uighur menjerit hingga memenuhi angkasa. Suaranya menggema ke seluruh pelosok negeri. Suara jeritan orang – orang yang teraniaya menyayat hati dan rasa. Indonesia pun mendengar suara jeritan itu.

“Maafkan kami, wahai saudaraku, Muslim Uighur. Bukan kami tidak mau menolongmu. Bukan kami tuli dan buta. Kami tidak berdaya.

Kami hanya bisa berkumpul dan berteriak-teriak di pinggir jalan. Paling banter, kami hanya berseru usir Dubes China dari Indonesia. Itu saja dan tidak lebih”. Akan tetapi respon anda dan bocah-bocah Uighur membuat terharu. Walau kami hanya bisa berteriak, kalian menganggap kami sebagai saudara.

Andaikan kami punya sedikit kuasa, tentunya akan kami kirimkan jet-jet tempur untuk menolongmu. Kami menyadari akan sabda Baginda Nabi SAW yang menegaskan bahwa persaudaraan umat Islam itu adalah ibarat satu tubuh.

Jika satu anggota tubuh ada yang sakit, maka terasa sakitlah anggota tubuh lainnya. Kau sakit saudaraku, tapi kami di sini juga sakit ketika tidak ada respon dari para penguasa di negeri ini. Justru respon yang muncul dari para petinggi negeri ini lebih menyakitkan. Penderitaanmu diabaikan. Keluh kesahmu dianggap angin lalu.

“Masalah Uighur adalah masalah dalam negeri China. Indonesia tidak bisa ikut campur tangan”.  Inilah ungkapan dari salah satu petinggi di negeri ini. Masalah kemanusiaan dianggapnya masalah dalam negeri. Wajar saja bila Indonesia tidak mampu hanya untuk sekedar membela nasib TKI dan TKW-nya yang didholimi di negeri lain.

Ya, tameng yang dipakai untuk tidak peduli dengan nasib Uighur adalah paham Nasionalisme. Nasionalisme meniscayakan rasa tidak peduli dengan nasib bangsa lain, bahkan walau terhadap sesama muslim yang ada di negeri lain. Kemanakah politik bebas aktif Indonesia? Kemanakah misi perdamaian Garuda yang dulu pernah aktif dalam percaturan politik dunia?

Bukankah bangsa Uighur yang Muslim itu rasnya lebih mirip dengan bangsa Eropa yakni Ras Kaukasoid, keturunan Klan Turki. Kebudayaan Uighur mendominasi selama seribu tahun di wilayah Asia Tengah sebelum dianeksasi oleh Dinasti Manchu yang memerintah China waktu itu.  Sedangkan bangsa China - Han, secara rasnya lebih mirip dengan bangsa Asia.

Lantas klaim nasionalisme darimana yang bisa dibenarkan, kalau masalah bangsa Uighur itu adalah masalah dalam negeri negera Tirai Bambu itu? Justru ketika berada dalam kekuasaan China malah menderita.

Nasionalisme sebagai paham kebangsaan yang menyatukan bangsa-bangsa yang memiliki rumpun bahasa yang sama, ras kulit yang sama dan bernaung dalam satu pemerintahan yang sama dalam bentuk nation state. Lantas mengapa Malaysia dan Indonesia tidak menjadi satu negeri dengan pemerintahan yang sama.

Dari segi rumpun bahasa adalah satu rumpun bahasa Melayu. Nyatanya, antara Indonesia dengan Malaysia sering mengalami konflik baik secara politik maupun batas teritori. Dari aksi Ganyang Malaysia di Era Orde Lama hingga sengketa kepemilikan Pulau Ligitan dan Pulau Sipadan.

Kalau dengan dalih Nasionalisme, mestinya Bangsa Uighur bisa nyaman dan sejahtera di negerinya sendiri. Mereka dianggap sebagai bagian dari keluarga besar negara China.

Bukan justru malah menderita. Ini kan aneh. Jangan  - jangan ada sentimen anti Islam yang menjadi phobia yang menjangkiti pemerintah China. Hal demikian terungkap dari pernyataan Kedubes Tiongkok bahwa mereka sedang melakukan program de-radikalisasi dan anti terorisme (idntimes, 20 desember 2018).

Jelas sekali bahwa sentiment anti Islam begitu kuat terasa dari program deradikalisasi dan anti terorisme ini. Sesungguhnya Islam menjadi common enemy baik oleh Kapitalisme global maupun Komunisme.

Proyek ini telah menelan korban yang sudah banyak di Indonesia. Densus 88 sebagai eksekutornya. Yang disasar adalah Islam. Buktinya OPM hanya disebut sebagai KKB alias Kelompok Kriminal Bersenjata. Bukti kejahatan OPM itu sudah banyak. Mereka mengibarkan bendera Bintang Kejora, membunuh dan yang terbaru adalah OPM membantai 33 pekerja proyek Trans Papua.

Mengapa mereka tidak disebut sebagai kelompok Teroris?? China sendiri juga memiliki sejarah yang tidak sedap dengan Islam. Pada tahun 714 M, Pasukan Islam di bawah kepemimpinan Qutaibah bin Muslim telah banyak menaklukan wilyah Asia hingga merangsek di perbatasan China.

Kekaisaran China menjadi kecut dengan laju penaklukan Islam. Akhirnya Kekaisaran China dengan terpaksa mengajak melakukan perundingan dengan Qutaibah bin Muslim. Saat ini ketika genderang perang terhadap Islam ditabuh dengan War on Terorisme, Ideologi Islam menjadi musuh bersama.

Program deradikalisasi yang ada di China dengan program deradikalisasi di Indonesia memiliki entry poin yang sama yakni menghalangi tampilnya Islam Politik dan Ideologi untuk tampil mengatur kehidupan.

Dengan tampilnya Islam dalam kehidupan politik, tentunya akan terhapuslah segenap bentuk penjaja-han di muka bumi ini. Sementara Ideologi Kapitalisme maupun Komunisme menjadikan penjajahan dan eksploitasi sebagai metode untuk menyebarkan ideologinya dan kepentingan merusaknya.

Memang, jawabannya hanya satu bahwa dunia ini sedang menunggu Islam. Islam yang akan membe-baskan dunia dari kekejaman Ideologi Kapitalisme dan Komunisme. [MO/ge]

Posting Komentar