Oleh : Trisnawaty A 
(Revowriter, Makassar)

Mediaoposisi.com- Bagi yang lahir di era tahun 1980-an, pasti masih mengingat mini seri yang booming di tahun 1990. Film Siti Nurbaya yang sukses mendulang pemirsa seantero Indonesia. Diperankan oleh  Novia Kolopaking sebagai Siti Nurbaya, Gusti Randa sebagai Samsul Bahri, dan HIM Damsyik sebagai Datuk Maringgih. Tulisan ini bukan untuk menggambarkan tentang film tersebut.

Tetapi, sedikit mengenai film itu adalah yang menyayat hati bahkan  akan membawa penontonnya meneteskan airmata bercampur marah sebuah ‘stratetegi politik’  yang diakukan oleh Datuk  Maringgih demi untuk mendapatkan Siti Nurbaya. Strategi dengan memberikan utang berbalut bantuan  disertai dengan kelicikan. Akhirnya utang semakin menumpuk dan orangtua Siti Nurbaya  tidak bisa membayarnya. Konsekuensi dari itu harus menyerahkan anaknya kepada Datuk Maringgih.

Indonesia Dalam Kubangan Utang
Bagaimana dengan Indonesia apakah dia akan senasib dengan Siti Nurbaya ?!. Perlu diketahui bahwa Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia angkanya sudah sangat besar. Statistik Utang Luar Negeri Indonesia Oktober 2018 (SULNI-OKT-18) yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia menyatakan, pada akhir Agustus 2018 total utang luar negeri Indonesia sebesar US$ 360,724 miliar atau Rp 5.410,86 triliun (US$ 1 = Rp 15.000). Utang tersebut terdiri dari utang Pemerintah dan Bank Sentral (BI) sebesar US$ 181,304 miliar atau Rp 2.719,56 triliun (Pemerintah sebesar US$ 178,123 dan BI sebesar US$ 3,181 miliar) dan utang swasta termasuk BUMN sebesar US$ 179,421 miliar atau Rp 2.691,315 triliun. 

ULN Pemerintah itu terdiri dari pinjaman luar negeri, Surat Berharga Negara (SBN) dalam mata uang asing dan SBN dalam Rupiah yang dimiliki oleh bukan warga negara. Total ULN Indonesia pada akhir Agustus 2018 itu memiliki rasio 34% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). (https://mediaumat.news/buletin-kaffah-bahaya-penumpukan-utang-luar-negeri/).

Utang Menguatkan Intervensi Asing
Adnan khan dalam bukunya “Mitos-Mitos palsu Ciptaan Barat” : ‘Dana biasanya diberikan sebagai alat untuk meraih dukungan dari sekutu politik internasional dan dengan niat untuk mempengaruhi proses politik dalam negeri di negara penerimanya. AS mengembangkan Marshall Plan dalam rangka menarik negara-negara eropa kearah kapitalisme dan menjauhi komunisme.

Di dalam beberapa dekade terakhir, pendanaan melalui berbagai organisasi semacam Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia telah diarahkan sebagai alat utama dalam membuka era baru bagi kapitalis global, dan hanya sedikit atau sekali tidak, yang terkait dengan kesejahteraan rakyat di negara-negara penerima dana’. Akibat utang,  negara tak lagi  mandiri dan kedaulatanpun akan berangsur hilang.

Utang adalah salah satu alat penjajahan yang digunakan Barat dalam mencengkeram negeri-negeri jajahan mereka agar tetap tunduk patuh terhadap segala kebijakan yang mereka keluarkan. Terus menumpuknya utang akan membebani pembayaran cicilan pokok dan bunga yang juga makin tinggi serta akan membuka kerang selebar-lebarnya bagi Kapitalis untuk melakukan cengkraman. Disisi lain risiko terbesar dari kegagalan membayar utang bisa akan senasib dengan Zimbabwe dan Sri Langka serta Pakistan, ibarat ‘orangtua Siti Nurbaya harus dengan rela melepaskan anaknya untuk Datuk Maringgih’.

Islam Adalah solusi
Islam telah menetapkan sebuah sistem ekonomi yang berlandaskan syariah yang akan membangun kemendarian ekonomi dan akan memutus berbagai hubungan yang akan mendikte atau membahayakan negara. Itu hanya bisa terwujud dengan adanya sebuah negara yang menerapkan islam secara totalitas yaitu khilafah dan adanya seorang khalifah.

Khalifah haram  mengambil utang luar negeri, baik dari negara tertentu, misalnya Amerika Serikat, atau dari lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia, karena selain mengandung riba yang  diharamkan juga  menghilangkan kedaulatan negeri yang jelas-jelas diharamkan. Allah swt berfirman :

"Allah tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk mengalahkan orang-orang beriman "(TQS An-Nisa : 141).[MO/sr]



Posting Komentar