Oleh: Nurfitrianti Vivi 
(Ketua Umum Muslimah KARIM Indonesia) 

Mediaoposisi.com- Sebab perubahan hanya akan diraih melalui dakwah. Dalam bahasa Arab dakwah artinya menyeru, menyampaikan kebaikan. Tidak hanya menyampaikan kebaikan tapi juga mencegah kemungkaran.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (TQS. Ali 'Imran: 104)

Salah satunya pada momen 212 ini momen untuk menyampaikan kebaikan Islam sebagai pemersatu Umat dan juga momen untuk menyampaikan kemungkaran. Ya semua sistem yang tidak berasal dari Islam adalah kemungkaran.

Berbicara dakwah sama dengan berbicara tentang perubahan. Dan dakwah tidak hanya dilakukan oleh Ulama dan Habaib tapi dakwah dilakukan oleh siapa saja termasuk pemuda (kecuali orang gila). Karena dakwah adalah jantung perubahan. Jika dakwah berhenti maka berhenti pula detak jantung perubahan.

Seorang tokoh sejarah Mustafa Kamil pernah berkata :

"Seorang pemuda yang diam dari memikirkan kemajuan bangsanya, maka matinya lebih baik daripada hidupnya".

Selain itu, dakwah juga tidak hanya dilakukan di ruang tertutup seperti di masjid-masjid atau di rumah-rumah saja. Tapi dakwah juga dilakukan di luar ruangan seperti di jalan-jalan, di pasar-pasar dll.

Sesuai yang dicontohkan Rasulullah saw. Beliau pernah berdakwah di luar ruangan yakni di pasar yang disebut pasar Ukadz. Salah satu pasar yang jaraknya dua hari perjalanan dari Makkah. Pasar ini sangat terkenal pada masa itu. Salah satu tradisi Bangsa Arab adalah menyelenggarakan hari pasar sebagai hari besar dan festival dagang.

Dan disitulah Rasulullah memanfaatkan momen untuk berdakwah menyeru manusia untuk bertauhid. Setelah tiga tahun Rasul berdakwah secara sembunyi-sembunyi, Beliau pun berdakwah secara terang-terangan.

Sebagaimana fungsi pasar adalah berdagang, atau menjual. Rasul pun tiap tahun ke sana untuk berdagang yakni 'menjual' Islam menyeru manusia untuk bertauhid. Lalu Abu Lahab datang dan memukuli betis Nabi sampai berdarah-darah dan memfitnah Rasul bahwa Rasul adalah seorang penipu dan pendusta. Jangan percaya omongannya. Katanya sambil ia membubarkan massa di pasar tersebut.

Sungguh, apa yang terjadi di zaman Rasulullah tidak jauh beda yang terjadi sekarang. Ketika Umat hendak melakukan dakwah secara terang-terangan di ruangan terbuka, selalu saja muncul "Abu Lahab Abu Lahab akhir zaman". Yakni mereka yang suka menyebar fitnah dan membubarkan massa aksi sebagaimana yang dilakukan Abu Lahab di zaman Rasulullah.

Renungkanlah, apa yang terjadi jika Rasul diam dan berhenti berdakwah? Tentu tauhid tidak akan sampai pada diri-diri kita. Dan renungkan pula apa yang terjadi jika Umat Islam diam dan berhenti berdakwah? Tentu tauhid dan bendera tauhid tidak akan viral sampai sekarang.

Jika Rasulullah dulunya berdakwah mengajak orang kafir bertauhid, maka sekarang waktunya berdakwah mengajak orang Islam menerapkan hakikat tauhid dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pedoman hidup.

Dan jika kita mengharamkan turun ke jalan berdakwah, lalu sunnah siapa sebenarnya yang kita ikuti ?[MO/sr]

Posting Komentar