Oleh : Luluk Afiva 

"Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman"

Mediaoposisi.com-Lagu diatas merupakan cuplikan lirik lagu koes plus tahun 1973 yang berjudul kolam susu, dimana lagu itu mengisahkan betapa kayanya negara indonesia. Tempat dimana tongkat dan kayu bisa menjadi tanaman, jika mendengar lagu itu tak perlu bekerja keras untuk mendapatkan pangan.

Donasi Save Muslim Uighur

Bagi sebagian masyarakat harga pangan sekarang masih dianggap mahal, dalam setahun bisa naik berkali- kali, apalagi pada akhir tahun menjelang natal dan tahun baru telah menjadi kebiasaan dan selalu berulang bahwa harga-harga bahan pokok/pangan akan mengalami kenaikan.

Sebagaimana menurut Ketua Bidang Litbang Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Rizal E Halim memprediksi hingga akhir tahun harga pangan berpotensi meningkat karena efek pelemahan rupiah yang terus terjadi.

Rizal berharap kenaikan harga pangan ini maksimal sampai 10%. Jika kenaikan harga terus terjadi maka Indonesia akan semakin berpotensi krisis. Dan menurut Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto mengatakan penyebab utama inflasi pangan di akhir tahun umumnya terjadi pada momentum Natal dan Tahun Baru.

Pemerintah seperti tidak punya solusi untuk mengatasi persoalan itu. Hal semacam itu terjadi setiap tahun dan itu sudah pasti, tetapi pemerintah seolah tak punya langkah sedikitpun untuk mengantisipasinya. Pemerintah selalu mengklaim kenaikan itu masih dalam batas wajar.

Tetapi bagi rakyat tidak demikian. Kenaikan sepeserpun akan berdampak langsung pada kehidupan ekonomi mereka.

Sementara pemerintah tidak ada upaya yang serius untuk mengatasi persoalan tersebut,selama ini negara yang mengadopsi sistem ekonomi kapitalis dalam mengantisipasi lonjakan harga pangan akhir tahun, telah mengambil langkah antisipatif, salah satunya yakni dengan mengimpor beras agar stok pangan dalam negeri tetap mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Cadangan beras pemerintah pun tidak hanya yang ada di gudang-gudang Bulog tetapi juga berasal dari hasil panen petani.

Stok pangan yang ada pada faktanya tidak selalu diiringi dengan daya beli masyarakat. Terlebih dengan kian terkaparnya rupiah terhadap dollar berpotensi menimbulkan efek domino terhadap naiknya harga kebutuhan pokok masyarakat. Artinya, ketersedian pangan ini tetap tak memiliki pengaruh, sebab masyarakat tak memiliki kemampuan untuk memperoleh apa yang mereka butuhkan.

Disisi lain, para petani yang sejatinya merupakan kelompok yang paling berjasa dalam mengamankan stok pangan negara, pada akhirnya harus gigit jari ketika negara masih mengadopsi kebijakan impor bahan pangan, lantas bagaimana Islam memandang masalah ini?

Islam memandang bahwasan kebutuhan pangan merupakan kebutuhan asasiyah (mendasar) bagi rakyatnya dimana negara tanggungjawab menjamin terpenuhinya kebutuhan tersebut. Islam melalui aturan-aturannya (syari'at) menjamin terlaksananya mekanisme pasar dengan baik.

negara wajib memberantas berbagai distorsi pasar. seperti penimbunan. riba,monopoli dan penipuan. Negara juga harus menyediakan akses informasi mengenai pasar kepada semua orang hingga meminimalkan informasi asimetris yang bisa dimanfaatkan pelaku pasar untuk mengambil keuntungan dengan jalan yang tidak dibenarkan.

Dari aspek manajemen rantai pasok pangan kita belajar dari Rasul yang concern terhadap akurasi data hasil produksi. Beliau mengangkat Hudzaifah Bin Al-Yaman sebagai kaatib untuk mencatat hasil produksi di Khaibar dan hasil produksi pertanian yang ada.

Dengan demikian akan terlihat berapa banyak stok hasil produksi yang akan disalurkan ke masyarakat. Sementara kebijakan pengendalian harga dilakukan dengan mekanisme pasar melalui pengendalian supply and demand, bukan dengan pematokan harga.

Islam sendiri melarang menimbun dengan menahan stok barang agar harganya naik. Abu Umamah al-Bahili berkata: “Rasulullah melarang penimbunan makanan” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi). Jika pedagang, importir atau siapapun menimbun, ia harus mengeluarkan barang dan memasukkannya ke pasar sesuai kebutuhan.

Jika terjadi ketidakseimbangan supply dan demand (harga naik/turun drastis), negara melalui lembaga pengendali, segera menyeimbangkannya dengan mendatangkan barang dari daerah lain yang lain.
Inilah yang dilakukan Umar Ibnu al-Khatab ketika di Madinah terjadi musim paceklik. Ia mengirim surat kepada Abu Musa di Bashrah yang isinya:

“Bantulah umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam! Mereka hampir binasa”. Setelah itu ia juga mengirim surat yang sama kepada ‘Amru bin Al-‘Ash di Mesir. Kedua gubernur ini mengirimkan bantuan ke Madinah dalam jumlah besar, terdiri dari makanan dan bahan pokok berupa gandum. Bantuan ‘Amru dibawa melalui laut hingga sampai ke Jeddah, kemudian dari sana baru dibawa ke Mekah (Lihat: At-Thabaqâtul-Kubra karya Ibnu Sa’ad, juz 3 hal. 310-317).

Disisi lain, Khalifah wajib menerapkan kebijakan dalam mengatasi kelangkaan pangan dengan memanfaatkan negara agraris secara optimal. Diantaranya pemberian subsidi untuk keperluan sarana produksi pertanian.Keberadaan diwan ‘atho (biro subsidi) dalam baitul mal akan mampu menjamin keperluan-keperluan para petani menjadi prioritas pengeluaran baitul mal.

Kepada para petani diberikan berbagai bantuan, dukungan dan fasilitas dalam berbagai bentuk; baik modal, peralatan, benih, teknologi, teknik budidaya, obat-obatan, research, pemasaran, informasi, dsb.

baik secara langsung atau semacam subsidi. Maka seluruh lahan yang ada akan produktif. Negara juga akan membangun infrastruktur pertanian, jalan, komunikasi, dsb, sehingga arus distribusi lancar. Alhasil, penerapan sistem islam khususnya dalam masalah pangan ini akan mampu menjamin kestabilan harga pangan sehingga kestabilan ekonomi pun dapat diwujudkan.[MO/ge]

Posting Komentar