Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Tehnik lama mendongkrak elektabilitas calon itu dengan membuat buku. Itu pula yang dilakukan Jokowi. Uniknya, kali ini judul buku Jokowi seolah ingin menyampaikan pesan dan keluh kesah (curhat).

Menuju cahaya, bisa dimaknai sebelumnya Jokowi sedang berada dalam kegelapan yang nyata. Sehingga, dia butuh suluh untuk memantik cahaya, agar terang dan terlihat petunjuk jalan, sehingga negeri ini terbebas dari keterpurukan.

Jika buku ini ditulis lawan politik Jokowi, tentu tidak masalah karena Realitasnya lawan politik itu akan menyerang Jokowi. Lawan politik menulis buku menuju cahaya, untuk menunjukan betapa gelap gulitanya Pemerintahan di era Jokowi.

Kegelapan itu ditandai menumpuknya hutang, serbuan TKA China, naiknya tarif BBM dan TDL sementara harga karet dan sawit justru terjun bebas. Kriminalisasi terhadap ulama, ormas, simbol dan ajaran Islam. Naiknya kebutuhan hidup yang tidak dibarengi dengan naiknya pendapatan rakyat.

BUMN menanggung hutang triliunan untuk menambal ambisi politik Jokowi mendapat gelar 'Bapak Infrastruktur'. Dana haji, BPJS ketenagakerjaan, BPJS kesehatan, diembat untuk ngecor beton. Bahkan, akibat itu ratusan rumah sakit meradang karena harus menalangi pasien BPJS yang duitnya menunggak dibayar Pemerintah.

Buku dengan judul 'menuju cahaya' dapat dijadikan sarana mengevaluasi rezim Jokowi yang tak membawa terang, bahkan membawa Indonesia dalam gelap gulita, sekaligus menawarkan cahaya perubahan berupa semangat untuk Ganti Presiden.

Uniknya buku ini buku Jokowi, berarti secara bebas dapat ditafsirkan :

Pertama, Jokowi mengakui pemerintahan yang dipimpinnya gelap gulita. MADESU. Jadi, Jokowi curhat melalui buku berjudul 'menuju cahaya'.

Kedua, Jokowi mempersilakan jika ada cahaya lain yang berpijar untuk memberi energi dan menerangi kegelapgulitaan bangsa, karena ketidakbecusan rezim mengelola pemerintahan.

Bukankah bisa ditafsirkan demikian ?

Tapi begitulah, jangankan memilih jargon politik. Memilih judul buku yang relevan dengan misi politik saja blunder. Buku Jokowi ini, justru menjadi penanda kejatuhan rezim diantara tanda-tanda Kubro lainnya.

Ah, bukan mau menilai subjektif tapi kualitas tim yang ada disekitar Jokowi ya cuma segitu. Alih-alih meningkatkan elektabilitas, tim Jokowi justru mendorong Jokowi mengunduh blunder.

Buku Jokowi ini diklaim agar rakyat memiliki tujuan. "Memiliki tujuan adalah hal yang sangat bernilai karena dengan itu iita percaya bahwa hari esok untuk Indonesia bisa jauh lebih baik", ungkap Penulisnya.

Benar juga, buku ini justru menginspirasi Nasrudin Joha memiliki tujuan. Ganti rezim ganti sistem untuk hari esok yang lebih baik. 2019 ganti Presiden, 2019 Jokowi pulang ke solo. Kira kira begitulah tujuan rakyat yang saat ini viral di lini massa. []

Posting Komentar