Oleh: Arin RM, S.Si
(Freelance Author, Taman Surga Community)

Mediaoposisi.com-  Sudah menjadi design yang Mahakuasa jika perbincangan seputar khilafah terus menjalar di berbagai kalangan. Setelah pada 2017 lalu ideologi khilafah dituding bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 oleh sebagian elit  penguasa, tahun ini pobhia terhadap khilafah disuarakan oleh ulama dari Lebanon.  Dalam kesempatan peringatan Maulid Nabi Muhammad di Istiqlal tahun 2018, Syeikh Zubair al Ju’aid mengatakan:

jangan terpecah, terkecoh, dan terpengaruh dengan rayuan untuk mendirikan negara khilafah atau bentuk negara selain saat ini”. Menurut Ketua organisasi Jamiat Al Amal Al Islamiy Lebanon itu sistem demokrasi saat ini sudah baik dalam mengakomodir nilai-nilai keislaman. Dan Indonesia merupakan negara yang aman sehingga tidak ada kepentingan mendesak sistem kekhalifahan didirikan di Indonesia (m.antaranews.com, 08/12/2018).

Untuk anda yang ingin donasi membantu Media Pro Islam bisa klik link dibawah ini:
https://www.mediaoposisi.com/2018/12/ayo-dukung-media-pro-islam-bantu-media.html

Black campaign yang sengaja dihembuskan untuk mengubur keagungan khilafah adalah sinyal betapa pobhia khilafah masih sangat melekat di benak sebagian orang. Tuduhan bahwa khilafah bisa mengecoh, merayu, dan tidak penting di negeri yang aman adalah penyesatan politik yang memalingkan umat dari ancaman sebenarnya. Misi Barat untuk menakhlukkan Islam dengan tuntas tak akan lagi terbaca. Sebab perang pemikiran yang Barat lancarkan berhasil membuai banyak pihak untuk mempercayai propaganda negatif mereka terhadap ideologi Islam.

Akan dilancarkan upaya berkesinambungan untuk menghadang ideology Islam agar tidak eksis secara politis maupun penerapan secara praktis. Berbagai upaya kriminalisasi Islam dan ajarannya, yakni khilafah akan terus disuarakan dengan label dan stigma negative. Mereka berharap langkah ini akan membuat masyarakat menolak konsep khilafah.

Dan ujungnya khilafah sebagai institusi politik penerap syariat Islam kaffah tidak akan pernah tegak. Namun rupanya harapan itu jauh dari kenyataan. Semakin mereka menjelekkan khilafah, diskusi terbuka terkait topik ini pun semakin banyak. Walhasil jumlah yang terpahamkan dengan benar dari kalangan masyarakat yang mau berpikir juga semakin banyak.

Masyarakat akan melakukan studi, ototidak ataupun diskusi dengan yang berkompeten. Kemudian mereka akan menemukan bahwa secara faktual tidak menakutkan. Masyarakat juga akan tahu bahwa kapitalismelah yang sebenarnya menakutkan. Sebab fakta di berbagai negara menunjukkan bahwa penerapan kapitalisme justru menyengsarakan, menimbulkan krisis internasional, hingga diakui gagal menyejahterakan dunia. Sebab dengan diberlakukannya kapitalisme, laporan Oxfam tahun 2016 menunjukkan sebesar 1% orang kaya di dunia memiliki kekayaan yang setara dengan semua penduduk dunia ini jika digabungkan.

Sebaliknya khilafah, yang pernah diterapkan selama 13 abad lebih justru menyisakan jejak peradaban luar biasa. Tak hanya terekam dari kualitas bangunan di atas level sejahtera, tapi juga tercatat kebaikannya di aspek lainnya.  Dalam hal ukhuwah, khilafah terbukti menyatukan dan mengayomi 2/3 penduduk dunia yang dikuasainya dalam kedamaian. Padahal dengan jangkauan seluas itu, alamiah sekali jika terdapat beraneka ras, suku, dan agama. Namun semuanya bersatu bagaikan satu tubuh di bawah bendera negara Islam. Bukankah ini kebaikan?

Dalam hal pelaksanaan syariah, khilafah bertugas melaksanakan hukum Allah tanpa terkecuali. Pelaksanaan Islam skala individu tertunaikan dan penegakan aturan Islam yang memerlukan kebijakan negara dilaksanakan. Kerahmatan Islam akhirnya dapat dirasakan oleh semua penduduknya baik muslim maupun nonmuslim.

Dan hal ini tentulah sebuah kebaikan. Sedangkan dalam hal mengemban dakwah Islam, negara khilafah proaktif dan dinamis mengerjakannya secara terorganisir dan sistematis. Dengan adanya pengaturan itu hamper seluruh penjuru dunia tersentuh Islam. Termasuk negeri Indonesia ini. bisa merasakan manisnya aturan dari sang pencipta melalui dakwah yang dilakukan oleh utusan kekhalifahan, walisongo.

Atas pemahaman Islam yang menyentuh berbagai kerajaan dari kawasan pulau Sumatera hingga Papua, perlawanan terhadap penjajah digiatkan. Gelora jihad berkobar, semuannya dalam rangka membebaskan rakyat dari jahatnya kolonialisasi penjajah kala itu. Kendati prosesnya puluhan tahun, namun ulama hasil kaderisasi generasi ke generasi yang diawali para wali itu jualah yang mengantarkan Indonesia terbebas dari penjajahan fisik. Lantas fakta sejarah demikian apakah masih pantas khilafah dipandang menakutkan? Bukankah lebih tepat bila dikatakan Khilafah justru menyelamatkan?

Bahkan pun jika saat ini khilafah menggantikan demokrasi, khilafah akan berkonsentrasi pada penjaminan kesejahteraan rakyat. Khilafah akan mengambil alih kekayaan alam yang selama ini dikuasai oleh asing, hingga pemilik kekayaan itu tak bisa memiliki banyak uang untuk membebaskannya dari lilitan hutang riba yang mematikan. Khilafah juga akan berkonsentrasi pada penjaminan keamanan rakyat dalam sistem sosial yang baik.

Pembinaan ketaqwaan individu akan ditingkatkan , kepedulian masyarakat akan digalakkan, supaya modal itu bisa digunakan untuk mengkerdilkan angka kejahatan, kenakalan remaja, dan kriminalitas lainnya. hukum syariat tentang uqubat yang diterapkan khilafah juga akan ditegakkan untuk mendukung jaminan keamanan ini.

Satu penjaminan yang pasti juga dilakukan adalah penjagaan integrasi dan kedaulatan negara. Khilafah akan mengharamkan disintegrasi, sehingga terorisme separatis tidak akan lama-lama dibiarkan bernafas di Indonesia.

Tak ada lagi wilayah yang dicaplok asing tersebab mengandung SDA berlimpah, sebab keamanan dalam negeri khilafah tak akan membiarkan hal itu. Sungguh, tatanan sistem yang dipercayakan pada khilafah akan jauh lebih indah daripada hasil kerja demokrasi selama ini. Pun, penerapan hukum Islam secara total oleh khilafah juga akan meringankan hisab kita di akhirat akan beban pertanyaan sejauh mana Islam dipraktekkan. Walhasil kebaikan khilafah akan nyata terasa di dunia dan di akhirat. Tidak salah bukan jika sistem yang membawa kebaikan ini dikatakan sebagai sistem yang menyelamatkan?[MO/sr]




Posting Komentar