Yuyun Nurparida, S.P.
(Pengajar di Sekolah Tahfidz Plus, Purwakarta)

Mediaoposisi.com-Banyak orang tua yang merasa waswas. Saat mengetahui anak gadisnya 'dekat' dengan teman lelakinya. Semakin lama hubungan anak gadisnya semakin akrab.

Maka menikahkan anaknya adalah  solusi mengatasi kecemasannya. Namun, rencana untuk menjaga kesucian anaknya terjegal dengan adanya aturan pembatasan usia pernikahan. Seakan-akan cinta suci dalam ikatan pernikahan di usia dini adalah cinta yang terlarang.

Pasal 7 Ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan digugat sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan masyarakat sipil karena perbedaan batas minimal usia perkawinan perempuan 16 tahun dan laki-laki 19 tahun. UU tersebut dinilai menimbulkan diskriminasi dan melanggar UU Perlindungan Anak karena banyaknya perempuan yang terpaksa menikah saat menginjak usia di bawah usia 16. (KOMPAS.com)

Anggota Komnas Perempuan, Masruchah merekomendasikan agar batas minimal usia pernikahan perempuan ditetapkan berdasarkan kematangan kesehatan reproduksi. "Usia ideal perempuan menikah adalah setelah matang kesehatan reproduksinya, yakni 20 tahun. Tetapi untuk mempertimbangkan kesetaraan usia perkawinan dengan laki-laki adalah 19 tahun," ujar Masruchah pada NU Online, Sabtu (6/12).

Pernikahan Dilarang, Gaul Bebas Semakin Meradang

Saat masuk usia puber, remaja banyak disuguhi pembangkit syahwat. Saat itulah nafsu birahi memuncak.

Mereka pun tidak dapat menyalurkan birahinya dalam ikatan suci karena terhalang usia mereka yang masih dini. Maka merebaklah tradisi gaul bebas, penyimpangan seksual, kehamilan di luar nikah sampai aborsi.

Belum lama ini, Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lampung, Dwi Hafsah Handayani, mengungkapkan temuan mengejutkan. Ia menemukan satu SMP di Lampung yang 12 siswinya hamil.

Hafsah pun menyampaikan, ia pernah melakukan survei ke apotek di sekitar kampus dan daerah kos-kosan. Dari survei tersebut diketahui, ada sekitar 100 kondom terjual dalam satu bulan.

Di Cikarang, pihak sekolah di satu SMPN Cikarang Selatan berhasil membongkar jaringan mesum siswa-siswi mereka yang tergabung dalam satu grup aplikasi percakapan Whatsapp. Grup itu beranggotakan 24 siswa-siswi kelas IX dari berbagai kelas.

Kasus itu terbongkar saat pihak sekolah merazia handphone milik siswa. Berbagai percakapan tidak senonoh, berbagai video porno hingga ajakan berbuat asusila dan tawuran, beredar di grup tersebut.

Pada tahun 2017 lalu, Indonesia Police Watch (IPW) melalui Ketua Presidium-nya Neta S Pane menyatakan bahwa remaja Indonesia terbelit persoalan seks bebas dan LGBT. Terkait LGBT, baru-baru ini terungkap adanya grup gay pelajar SMP di Garut. Menurut Wakil Bupati Garut, sebagaimana dikutip Detik.com baru-baru ini, jumlah mereka ribuan.

IPW pun mencatat, di sepanjang 2017 ada 178 bayi yang baru dilahirkan dibuang di jalan. Jumlah ini naik 90 kasus dibanding tahun 2016. Menguatkan temuan IPW, Data National Programme Officer United Nations Population Fund menunjukkan angka kehamilan yang memprihatinkan di kalangan remaja.

"Angka kehamilan pada remaja usia 15-19 tahun mencapai 48 dari 1.000 kehamilan. Data terakhir menunjukkan, ada 1,7 juta remaja di bawah usia 24 tahun yang melahirkan setiap tahun," kata Margaretha pada 27 Agustus 2017.

Menyaksikan sederetan fakta kerusakan remaja, masihkah penguasa negeri ini bersikeras untuk melarang pernikahan di usia dini? Ada apa di balik pelarangan ini?

Tafsir Keliru Pernikahan Dini

Pemisahan ajaran agama dari kehidupan telah menyebabkan adanya upaya mengharamkan apa yang Allah halalkan. Pernikahan yang sejatinya adalah cara untuk memenuhi fitrah suci manusia dianggap sebagai sesuatu yang tabu.

Para pembenci Islam telah berkoalisi dengan para kapitalis -yang tentu saja disokong para pemuja gender, HAM dan demokrasi- bersama-sama "mengharamkan" nikah dini.

Agar perempuan tidak buru-buru menyibukkan diri dalam rutinitas rumah tangga dan mengurus anak. Muncullah narasi bahwa posisi itu tidak produktif. Karena mereka tidak bisa menghasilkan uang yang akan dibelanjakan untuk produk-produk pabrikan para kapitalis.

Ternyata yang menghalangi perempuan berbondong-bondong menyesaki dunia kerja adalah ajaran Islam. Termasuk kebolehan untuk menikahkan anak perempuan dan laki-laki tanpa ada batasan umur. Bila ini dibiarkan akan mengganggu ketersediaan tenaga kerja. Karena itu harus ada upaya global untuk menyudutkan pernikahan dini.

Mereka buat aturan dengan dalih perlindungan anak karena masa anak-anak bukan saatnya menanggung beban. Sehingga diwacanakan, membiarkan usia 'anak' menikah akan menyebabkan malapetaka. Mereka buat sanksi sosial dan hukum positifnya.

Sehingga kaum muslimin tak merasa nyaman bila mengikuti ajaran agama tapi mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat.

Inilah rekayasa. Mereka menyalahkan ajaran Islam yang memperbolehkan nikah dini sebagai tindakan diskriminasi. Mengapa sekularisme kapitalis lebih mereka patuhi daripada hukum Allah?

Menikah Adalah Fitrah

Islam adalah solusi bagi seluruh masalah manusia. Islam mengajarkan bahwa menikah adalah satu-satunya cara untuk memenuhi fitrah manusia demi melangsungkan keturunan. Saat laki-laki dan perempuan sudah memasuki usia baligh, maka Islam membolehkan untuk menikah. Tidak ada batasan usia dalam persyaratan menikah.

Menikah akan menjaga kesucian derajat manusia. Manusia akan terjaga dari pelampiasan nafsu syahwat yang menyeret manusia bak hewan liar.

Mencegahnya dari penyimpangan seksual yang bertentangan dengan fitrah manusia. Ini adalah cara Allah Maha Pencipta manusia untuk menjaga kelestarian jenis manusia.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang wanita. (QS. An-Nuur : 32)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga orang yang akan mendapatkan pertolongan Allah: (1) orang yang berjihad di jalan Allah, (2) orang yang menikah demi menjaga kesucian dirinya, (3) budak mukatab yang ingin membebaskan dirinya.” (HR. An-Nasa’i, no. 3218; Tirmidzi, no. 1655; Ibnu Majah, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Posting Komentar